<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200</id><updated>2012-02-01T11:21:30.831+07:00</updated><category term='Berita Kampus - Bursa Kerja 2009'/><category term='Sosiologi Pembangunan'/><category term='Bahan Ajar Antropologi'/><category term='Kewirausahaan'/><category term='Non Kategori'/><category term='Sosiologi Komunikasi'/><category term='Bahan Ajar Manajemen'/><category term='Soal - Soal'/><title type='text'>DYAH HAPSARI</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-3040358364215780973</id><published>2009-11-25T08:30:00.001+07:00</published><updated>2009-11-25T08:35:40.213+07:00</updated><title type='text'>BUDAYA MASSA DAN BUDAYA POPULER</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;   &lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Menurut &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Dennis McQuail&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; (1994:31), kata massa berdasarkan sejarah mempunyai dua makna, yaitu positif dan negatif. Makna negatifnya adalah berkaitan dengan kerumunan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;mob)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;,atau orang banyak yang tidak teratur, bebal, tidak memiliki budaya, kecakapan dan rasionalitas. Makna positif, yaitu massa memiliki arti kekuatan dan solidaritas di kalangan kelas pekerja biasa saat mencapai tujuan kolektif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Sehubungan dengan makna komunikasi terutama komunikasi massa, makna kata massa mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk yang komponen-komponennya sulit dibedakan satu dengan yang lainnya, maka masssa sama dengan suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;     &lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Blumer &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;(1939) dalam  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;McQuail &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;(2002:41), mengemukakan  ada empat komponen sosiologis yang mengandung  arti massa, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; 1. Anggota massa adalah orang-orang dari posisi kelas sosial yang berbeda, jenis pekerjaan yang berlainan , dengan latar belakang budaya yang bermacam-macam , serta tingkat kekayaan yang beraneka atau berasal dari segala lapisan kehidupan dan dari seluruh tingkatan sosial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;     2. Massa terdiri dari individu-individu yang anonim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; 3. Biasanya secara fisik anggota massa terpisah satu sama lainnya dan hanya terdapat sedikit interaksi atau penukaran pengalaman antar anggota-anggota massa dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; 4. Keorganisasian dari suatu massa bersifat sangat longgar , dan tidak mampu untuk bertindak bersama atau secara kesatuan, seperti hanya suatu kerumunan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;crowd&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Secara umum pengertian massa ditandai dengan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;a. Kurang memiliki kesadaran diri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;b. Kurang memiliki identitas diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;c. Tidak mampu bergerak secara serentak dan terorganisir untuk mencapai suatu tujuan tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;d. Massa ditandai oleh komposisi yang selalu berubah dan berada dalam batas wilayah yang selalu berubah pula.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;e. Masssa tidak bertindak dengan dirinya sendiri , tetapi dikooptasi untuk melakukan suatu tindakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;f. Meski anggotanya heterogen , dan dari semua lapisan sosial, massa selalu bersikap sama dan berbuat sesuai dengan persepsi orang yang mengkooptasi mereka .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Konsep masssa kemudian mengandung pengertian masyarakat secara keseluruhan " masyarakat massa"( &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;the mass society&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;). Menurut &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;McQuail&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; (2002 :39), massa ditandai oleh (1) memiliki agregat yang besar;(2) tidak dapat dibedakan;(3) cenderung berpikir negatif; (4) sulit diperintah atau diorganisasi; dan (5) refleksi dari khalayak massa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Media massa adalah institusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu dengan lainnya dengan memulai produk media massa yang dihasilkan. Secara spesifik institusi media massa adalah (1) sebagai saluran produksi dan distribusi konten simbolis ;(2) sebagai institusi publik yang bekerja sesuai aturan yang ada;(3) keikutsertaan baik sebagai pengirim atau penerima adalah sukarela;(4) menggunakan standar profesional dan birokrasi; dan (5) media sebagai perpaduan antara kebebasan dan kekuasaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;McQuail&lt;/span&gt;, 2002:15)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Kehidupan masyarakat kota, pada umumnya , satu sama lain tidak saling mengenal dan interaksi-interaksi mereka didasari oleh kepentingan dan kebutuhan yang dilandasi pada hubungan sekunder , sehingga secara real media massa telah menjadi salah satu kebutuhan dalam berinteraksi di dalam masyarakat perkotaan satu dengan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Penggunaan media massa berbeda dengan komunikasi antar pribadi. Media massa membutuhkan persyaratan tertentu dari pemakainya. Pertama adalah orang harus bisa membaca, sebelum mengkonsumsi surat kabar atau majalah. Kedua,orang harus memiliki pesawat radio atau televisi, bila akan mengikuti siarannya, atau punya uang untuk beli karcis bila akan menonton film. Ketiga, kebiasaan memanfaatkan media ( media habit). Untuk menjadi khalayak media massa, maka ketiganya perlu dimiliki atau dilakukan. Apabila tidak, maka mereka tidak bisa menjadi khalayak media massa atau masyarakat media.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Dalam penyampaian berbagai produk tayangan, media massa berupaya menyesuaikan dengan khalayaknya yang heterogen dan berbagai sosio-ekonomi, kultural, dan lainnya. Produk mediapun pada akhirnya dibentuk sedemikian rupa , sehingga mampu diterima oleh banyak orang . Di sisi lain , media juga sering kali menyajikan berita, film, dan informasi lain dari berbagai negara sebagai upaya media memberikan pilihan yang memuaskan bagi khalayak nya. Produk media baik yang berupa berita, program keluarga, kuis, film dan sebagainya , disebut sebagai upaya massa yaitu karya budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berdasarkan ciri yang demikian., maka seni hiburan ini banyak diproduksi media untuk menarik sebanyak mungkin khalayaknya.Hal ini tidak hanya dipengaruhi kebutuhan khalayak massa yang heterogen, juga adanya kepentingan komersial media yang kini masuk sebagai industri yang membutuhkan dana besar melalui iklannya . Budaya massa dibentuk disebabkan :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: times new roman,new york,times,serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;1. Tuntutan industri kepada pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tempo singkat. Maka si pencipta untuk menghasilkan karya yang banyak dalam tampo singkat, tak sempat lagi berpikir, dan dengan secepatnya menyelesaikan karyanya. Mereka memiliki target produksi yang harus dicapai dalam waktu tertentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;2. Karena massa budaya cenderung "latah" menyulap atau meniru segala sesuatu yang sedang naik daun atau laris, sehingga media berlomba untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="times new roman" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada umumnya budaya massa dipengaruhi oleh budaya populer. Pemikiran tentang budaya populer menurut B&lt;span style="font-style: italic;"&gt;en Agger&lt;/span&gt; ( 1992;24) dapat dikelompokkan pada empat aliran (a) budaya dibangun berdasarkan kesenangan namun tidak substansial dan mengentaskan orang dari kejenuhan kerja sepanjang hari;( b) kebudayaan populer menghancurkan nilai budaya tradisional;(c) kebudayaan menjadi masalah besar dalam pandangan ekonomi Marx kapitalis; dan (d) kebudayaan populer merupakan budaya yang menetes dari atas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: times new roman; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kebudayaan populer banyak berkaitan dengan masalah keseharian yang dapat dinikmati oleh semua orang atau kalangan orang tertentu , seperti pementasan mega bintang, kendaraan pribadi, fashion, model rumah, perawatan tubuh, dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Budaya juga memiliki nilai yang membedakan satu budaya dengan budaya lainnya. Budaya yang memiliki nilai tinggi dibedakan dengan budaya yang memiliki nilai dibawahnya. Namun dalam budaya populer , `perangkat media massa` seperti pasar rakyat, film,buku,televisi, dan jurnalistik akan menuntun perkembangan budaya pada ` erosi nilai budaya`. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(136, 136, 136);font-size:100%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="color: rgb(136, 136, 136);font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumber diambil dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);font-size:100%;" &gt;Sosiologi Komunikasi, Prof.Dr.H.M. Burhan Bungin, S.Sos. M.Si&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-3040358364215780973?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/3040358364215780973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/budaya-nassa-dan-budaya-populer.html#comment-form' title='84 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3040358364215780973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3040358364215780973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/budaya-nassa-dan-budaya-populer.html' title='BUDAYA MASSA DAN BUDAYA POPULER'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>84</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-4007499622426698013</id><published>2009-11-22T20:13:00.003+07:00</published><updated>2009-11-22T20:49:04.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Komunikasi'/><title type='text'>PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Pengantar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial(yang juga dapat dinamakan sebagai proses sosial) karena interasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi anatara kelompo tersebut sebagai suatu kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Interaksi sosial antara kelompok-kelompok manusia terjadi pula di dalam masyarakat. Interaksi tersebut lebih mencolok ketika terjadi benturan antara kepentingan perorangan dengan kepentingan kelompok. Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi terhadap dua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin teradi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tidak berpengaruh terhadap sistem syarafnya, sebagai akibat hubungan termaksud.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada pelbagai faktor :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1. Imitasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;2. Sugesti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor sugesti berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau suatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. Identifikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Identifikasi sebenarnya merupakan kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam daripada imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk atas dasar proses ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;4. Proses simpati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya merupakan suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting, walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain dan untuk bekerja sama dengannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dua Syarat terjadinya interaksi sosial :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Adanya kontak sosial (social contact),  yang dapat berlangsung dalam tiga bentuk.Yaitu antarindividu, antarindividu dengan kelompok, antarelompok. Selain itu, suatu kontak dapat pula bersifat langsung maupun tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Adanya Komunikasi,  yaitu seseorang memberi arti pada perilaku orang lain, perasaan-perassaan apa yang ingin disampaikan orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata kontak berasal dari bahasa Latin con atau cum (artinya bersama-sama) dan tango (yang artinya menyentuh). Arti secara hanafiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadinya hubungan badaniah. Sebagai gejala seosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniah, karena dewasa ini dengan adanya perkembangan teknologi, orang dapat menyentuh berbagai pihak tanpa menyentuhnya. Dapat dikatakan bahwa hubungan badaniah bukanlah syarat untuk terjadinya suatu kontak.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kontak sosial dapat terjadi dalam 3 bentuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya orang perorangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak sosial ini adalah apabila anak kecil mempelajari kebuasaan dalam keluarganya. Proses demikian terjadi melalui sosialisasi, yaitu suatu proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana dia menjadi anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ada orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya kontak sosial ini misalnya adalah seseorang merasakan bahwa tindakan-tindakannya berlawanan dengan norma-norma masyarakat atau apabila suatu partai politik memkasa anggota-anggotanya menyesuaikan diri dengan ideologi dan programnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya. Umpamanya adalah dua partai politik mengadakan kerja sama untuk mengalahkan parpol yang ketiga di pemilihan umumu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terjadinya suatu kontak tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tanggapan terhadap tindakan tersebut. Kontak sosial yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, sengangkan yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan atau bahkan sama seali tidak menghasilkan suatu interaksi sosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu kontak dapat bersifat primer atau sekunder. Kontak perimer terjadi apabila yang mengadakan hubungan langsung bertemu dan berhadapan muka. Kontak sekunder memerlukan suatu perantara. Sekunder dapat dilakukan secara langsung. Hubungan-hubungan yang sekunder tersebut dapat dilakukan melalui alat-alat telepon, telegraf, radio, dst.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gera-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan adanya komunikasi tersebut, sikap-sikap dan perasaan suatu kelompok manusia atau perseorangan dapat diketahui oleh kelompok lain atau orang lainnya. Hal itu kemudian merupakan bahan untuk menentukan reaksi apa yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Kehidupan yang Terasing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pentingnya kontak dan komunikasi bagi terwujudnya interaksi sosial dapat diuji terhadap suatu kehidupan yang terasing (isolation). Kehiduapan terasing yang sempurna ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain. Kehidupan terasing dapat disebaban karena secara badaniah seseorang sama sekali diasingkan dari hubungan dengan orang-orang lainnua. Padahal perkembangan jiwa seseorag banyak ditentuan oleh pergaulannya dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terasingnya seseorang dapat pula disebabkan oleh karena cacat pada salat satu indrany. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata bahwa kepribadian orang-orang mengalami banyak penderitaan akibat kehidupan yang terasing karena cacat indra itu. Orang-orang cacat tersebut akan mengalami perasaan rendah diri, karena kemungkinan-kemungkinan untuk mengembangkan kepribadiannya seolah-olah terhalang dan bahkan sering kali tertutup sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masyarakat berkasta, dimana gerak sosial vertikal hampir tak terjadi, terasingnya seseorang dari kasta tertentu (biasanya warga kasta rendahan), apabila berada di kalangan kasta lainnya (kasta yang tertinggi), dapat pula terjadi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. Bentuk-bentu Interaksi Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Pertikaian mungkin akan mendapatkan suatu penyelesaian, namun penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi. Ini berarti kedua belah pihak belum tentu puas sepenunya. Suatu keadaan dapat dianggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk poko dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas, di dalam arti bahwa interaksi itu dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gillin dan Gillin mengadakan penggolongan yang lebih luas lagi. Menurut mereka, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Proses-proses yang Asosiatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1.  Kerja Sama (Cooperation)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama. Bentuk kerja sama tersebut berkembang apabila orang dapat digerakan untuk mencapai suatu tujuan bersama dan harus ada kesadaran bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semua. Juga harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang akan diterima. Dalam perkembangan selanjutnya, keahlian-keahlian tertentu diperlukan bagi mereka yang bekerja sama supaya rencana kerja samanya dapat terlaksana dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerja sama timbul karena orientasi orang-perorangan terhadap kelompoknya (yaitu in-group-nya) dan kelompok lainya (yang merupakan out-group-nya). Kerja sama akan bertambah kuat jika ada hal-hal yang menyinggung anggota/perorangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Fungsi Kerjasama digambarkan oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Charles H.Cooley&lt;/span&gt; ”kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta penting dalam kerjasama yang berguna”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam teori-teori sosiologi dapat dijumpai beberapa bentuk kerjasama yang biasa diberi nama kerja sama (cooperation). Kerjasama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan : &lt;br /&gt;1. Kerjasama Spontan (Spontaneous Cooperation) : Kerjasama yang sertamerta&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;2. Kerjasama Langsung (Directed Cooperation) : Kerjasama  hasil perintah atasan atau penguasa&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Kerjasama Kontrak (Contractual Cooperation) : Kerjasama atas dasar tertentu&lt;br /&gt;4. Kerjasama Tradisional (Traditional Cooperation) : Kerjasama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada 5 bentuk kerjasama :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kerukunan yang mencakup gotong-royong dan tolong menolong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bargaining, Yaitu pelaksana perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara 2 organisasi atau lebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kooptasi (cooptation), yakni suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Koalisi (coalition), yakni kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktut yang tidak sama antara satu dengan lainnya. Akan tetapi, karenamaksud utama adalah untuk mencapat satu atau beberapa tujuan bersama, maka sifatnnya adalah kooperatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Joint venture, yaitu erjasama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pertambangan batubara, perfilman, perhotelan, dst.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;2. Akomodasi (Accomodation)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah Akomodasi dipergunakan dalam dua arti : menujukk pada suatu keadaan dan yntuk menujuk pada suatu proses. Akomodasi menunjuk pada keadaan, adanya suatu keseimbangan dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sebagai suatu proses akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha manusia untuk mencapai kestabilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Gillin  akomodasi adalah suatu perngertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan adaptasi dalam biologi. Maksudnya, sebagai suatu proses dimana orang atau kelompok manusia yang mulanya saling bertentangan, mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Akomodasi dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi yang dihadapinya, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1. Mengurangi pertentangan antara orang / kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Mencegah meledaknya suatu pertentangan untuk sementara waktu atau secara temporer&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang hidupnya terpisah akibat faktor-faktor sosial psikologis dan kebudayaan, seperti yang dijumpai pada masyarakat yang mengenal sistem berkasta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;4. mengusahakan peleburan antara kelompok sosial yang terpisah.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bentuk-bentuk Akomodasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Corecion, suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Compromise, bentuk akomodasi dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;3. Arbitration, Suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Conciliation, suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Toleration, merupakan bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Stalemate, suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada satu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;7. Adjudication, Penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hasil-hasil Akomodasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Akomodasi dan Intergrasi Masyarakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akomodasi dan intergrasi masyarakat telah berbuat banyak untuk menghindarkan masyarakat dari benih-benih pertentangan laten yang akan melahirkan pertentangan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Menekankan Oposisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering kali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu dan kerugian bagi pihak lain&lt;br /&gt;1. Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Perubahan lembaga kemasyarakatan agar sesuai dengan keadaan baru atau keadaan yang berubah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perubahan-perubahan dalam kedudukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dengan adanya proses asimilasi, para pihak lebih saling mengenal dan dengan timbulnya benih-benih toleransi mereka lebih mudah untuk saling mendekati.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Asimilasi (Assimilation)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindak, sikap, dan proses-proses mental dengan memerhatikan kepentingan dan tujuan bersama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Proses Asimilasi timbul bila ada :&lt;br /&gt;1. Kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. orang-perorangan sebagai warga kelompok tadi saling bergaul secara langsung dan intensif untuk waktu yang lama sehingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. kebudayaan-kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa bentuk interaksi sosial yang memberi arah ke suatu proses asimilasi (interaksi yang asimilatif) bila memilii syarat-syarat berikut ini&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. Interaksi sosial tersebut bersifat suatu pendekatan terhadap pihak lain, dimana pihak yang lain tadi juga berlaku sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. interaksi sosial tersebut tidak mengalami halangan-halangan atau pembatasan-pembatasan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;3. Interaksi sosial tersebut bersifat langsung dan primer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Frekuaensi interaksi sosial tinggi dan tetap, serta ada keseimbangan antara pola-pola tersebut. Artinya, stimulan dan tanggapan-tanggapan dari pihak-pihak yang mengadakan asimilasi harus sering dilakukan dan suatu keseimbangan tertentu harus dicapai dan dikembangankan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor yang dapat mempermudah terjadinya suatu asimilasi adalah :&lt;br /&gt;1. Toleransi&lt;br /&gt;2. kesempatan-kesempatan yang seimbang di bidang ekonomi&lt;br /&gt;3. sikap menghargai orang asing dan kebudayaannya&lt;br /&gt;4. sikap tebuka dari golongan yang berkuasa dalam masyarakat&lt;br /&gt;5. persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan&lt;br /&gt;6. perkawinan campuran (amaigamation)&lt;br /&gt;7. adanya musuh bersama dari luar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faktor umum penghalangan terjadinya asimilasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Terisolasinya kehidupan suatu golongan tertentu dalam masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. kurangnya pengetahuan mengenai kebudayaan yang dihadapi dan sehubungan dengan itu seringkali menimbulkan faktor ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. perasaan takut terhadap kekuatan suatu kebudayaan yang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. perasaan bahwa suatu kebudayaan golongan atau kelompok tertentu lebih tinggi daripada kebudayaan golongan atau kelompok lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dalam batas-batas tertentu, perbedaan warna kulit atau perbedaan ciri-ciri badaniah dapat pula menjadi salah satu penghalang terjadinya asimilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. In-Group-Feeling yang kuat menjadi penghalang berlangsungnya asimilasi. In Group Feeling berarti adanya suatu perasaan yang kuat sekali bahwa individu terikat pada kelompok dan kebudayaan kelompok yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; 7. Gangguan dari golongan yang berkuasa terhadap minoritas lain apabila golongan minoritas lain mengalami gangguan-gangguan dari golongan yang berkuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. faktor perbedaan kepentingan yang kemudian ditambah dengan pertentangan-pertentangan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asimilasi menyebabkan perubahan-perubahan dalam hubungan sosial dan dalam pola adat istiadat serta interaksi sosial. Proses yang disebut terakhir biasa dinamakan akulturasi. Perubahan-perubahan dalam pola adat istiadat dan interaksi sosial kadangkala tidak terlalu penting dan menonjol.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Proses Disosiatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional proccesses, yang persis halnya dengan kerjasama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahan, oposisi proses-proses yang disosiatif dibedkan dalam tiga bentuk, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Persaingan (Competition)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana individu atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan mempunya dua tipe umum :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;1. Bersifat Pribadi : Individu, perorangan, bersaing dalam memperoleh kedudukan. Tipe ini dinamakan rivalry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersifat Tidak Pribadi : Misalnya terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bentuk-bentuk persaingan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Persaingan ekonomi : timbul karena terbatasnya persediaan dibandingkan dengan jumlah konsumen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Persaingan kebudayaan : dapat menyangkut persaingan bidang keagamaan, pendidikan, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Persaingan kedudukan dan peranan : di dalam diri seseorang maupun di dalam kelompok terdapat keinginan untuk diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan serta peranan terpandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Persaingan ras : merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Hal ini disebabkan krn ciri-ciri badaniyah terlihat dibanding unsur-unsur kebudayaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat mempunyai beberapa fungsi :&lt;br /&gt;1. Menyalrkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sebagai jalan dimana keinginan, kepentingan serta nilai-nilai yang pada suatu masa medapat pusat perhatian, tersalurkan dengan baik oleh mereka yang bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar seks dan sosial. Persaingan berfungsi untuk mendudukan individu pada kedudukan serta peranan yang sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sebagai alat menyaring para warga golongan karya (”fungsional”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil suatu persaingan terkait erat dengan pelbagai faktor berikut ini ”&lt;br /&gt;1. Kerpibadian seseorang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kemajuan : Persaingan akan mendorong seseorang untuk bekerja keras dan memberikan sahamnya untuk pembangunan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Solidaritas kelompok : Persaingan yang jujur akan menyebabkan para individu akan saling menyesuaikan diri dalam hubungan-hubungan sosialnya hingga tercapai keserasian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Disorganisasi : Perubahan yang terjadi terlalu cepat dalam masyarakat akan mengakibatkan disorganisasi pada struktur sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Kontraversi (Contravetion)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Bentuk kontraversi menurut&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt; Leo von Wiese &lt;/span&gt;dan Howard Becker ada 5 :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. yang umum meliputi perbuatan seperti penolakan, keenganan, perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, protes, gangguang-gangguan, kekerasan, pengacauan rencana&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. yang sederhana seperti menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki melalui surat selebaran, mencerca, memfitnah, melemparkan beban pembuktian pada pihak lain, dst.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;3. yang intensif, penghasutan, menyebarkan desas desus yang mengecewakan pihak lain&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;4. yang rahasia, mengumumkan rahasian orang, berkhianat.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;5. yang taktis, mengejutkan lawan, mengganggu dan membingungkan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain adalah memaksa pihak lain menyesuaikan diri dengan kekerasan, provokasi, intimidasi, dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Leo von Wiese&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Howard Becker&lt;/span&gt; ada 3 tipe umum kontravensi :&lt;br /&gt;1 . Kontraversi generasi masyarakat : lazim terjadi terutama pada zaman yang sudah mengalami perubahan yang sangat cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kontraversi seks : menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kontraversi Parlementer : hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat.baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga legislatif, keagamaan, pendidikan, dst.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tipe Kontravensi :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kontravensi antarmasyarakat setempat, mempunyai dua bentuk :&lt;br /&gt;a. Kontavensi antarmasyarakat setempat yang berlainan (intracommunity struggle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b. Kontravensi antar golongan-golongan dalam satu masyarakat setempat (intercommunity struggle)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Antagonisme keagamaan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;4. Kontravensi Intelektual : sikap meninggikan diri dari mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan yang tinggi atau sebaliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Oposisi moral : erat hubungannya dengan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Pertentangan (Pertikaian atau conflict)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pribadi maupun kelompok menydari adanya perbedaan-perbedaan misalnya dalam ciri-ciri badaniyah, emosi, unsur-unsur kebudayaan, pola-pola perilaku, dan seterusnya dengan pihak lain. Ciri tersebut dapat mempertajam perbedaan yang ada hingga menjadi suatu pertentangan atau pertikaian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebab musabab pertentangan adalah :&lt;br /&gt;1. Perbedaan antara individu&lt;br /&gt;2. Perbedaan kebudayaan&lt;br /&gt;3. perbedaan kepentingan&lt;br /&gt;4. perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan dapat pula menjadi sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Timbulnya pertentangan merupakan pertanda bahwa akomodasi yang sebelumnya telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertentangan mempunyai beberapa bentuk khusus:&lt;br /&gt;1. Pertentangan pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pertentangan Rasial : dalam hal ini para pihak akan menyadari betapa adanya perbedaan antara mereka yang menimbulkan pertentangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pertentangan antara kelas-kelas sosial : disebabkan karena adanya perbedaan kepentingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pertentangan politik : menyangkut baik antara golongan-golongan dalam satu masyarakat, maupun antara negara-negara yang berdaulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pertentangan yang bersifat internasional : disebabkan perbedaan-perbedaan kepentingan yang kemudian merembes ke kedaulatan negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat-akibat bentuk pertentangan&lt;br /&gt;1. Tambahnya solidaritas in-group&lt;br /&gt;2. Apabila pertentangan antara golongan-golongan terjadi dalam satu kelompok tertentu, akibatnya adalah sebaliknya, yaitu goyah dan retaknya persatuan kelompok tersebut.&lt;br /&gt;3. Perubahan kepribadian para individu&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;4. Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Akomodasi, dominasi, dan takluknya salah satu pihak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik persaingan maupun pertentangan merupakan bentuk-bentuk proses sosial disosiatif yang terdapat pada setiap masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-4007499622426698013?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/4007499622426698013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/proses-sosial-dan-interaksi-sosial.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4007499622426698013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4007499622426698013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/proses-sosial-dan-interaksi-sosial.html' title='PROSES SOSIAL DAN INTERAKSI SOSIAL'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-8284483961538724761</id><published>2009-11-14T09:11:00.002+07:00</published><updated>2009-11-14T09:21:39.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>FUNGSI DAN MODEL PERAN USAHA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Profil Wirausaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Roopke, 1995, mengelompokkan kewirausahaan berdasarkan perannya, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Kewirausahaan Rutin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha yang dalam melakukan kegiatan sehari-harinya cenderung menekankan pada pemecahan masalah dan perbaikan standar prestasi tradisional. Menghasilkan barang, pasar, dan teknologi. Dibayar dalam bentuk gaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*Kewirausahaan Arbitrase&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha yang selalu mencari peluang melalui kegiatan penemuan (pengetahuan) dan pemanfaatan (pembukaan). Kegiatan ini tidak perlu melibatkan pembuatan barang dan tidak perlu menyerap dana pribadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* Wirausaha Inovatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha yang menghasilkan ide-ide dan kreasi baru yang berbeda&lt;br /&gt;Pengelompokkan kewirausahaan berdasarkan intensitas pekerjaan dan status (Zimerer, 1996):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* Part time Entreprenuer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha yang melakukan usahanya hanya sebagian waktu saja dan mengerjakannya sebagai hobi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;+ Home-base New Ventures :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang dirintis dari rumah/tempat tinggalnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;+ Family Own Business &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang dilakukan/dimiliki oleh beberapa anggota keluarga secara turun-temurun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Copreneurs&lt;br /&gt;Usaha yang dijalankan oleh dua orang wirausaha yang bekerja sama sebagai pemilik dan menjalankan usahanya bersama-sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi Makro dan Mikro Usaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Fungsi Makro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha berperan sebagai penggerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa. Hasil-hasil dari penemuan ilmiah, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kreasi-kreasi baru dalam produk barang dan jasa-jasa yang berskala global, hal ini merupakan proses dinamis wirausaha yang kreatif. Bahkan wirausahalah yang berhasil menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;J.B Say berpendapat bahwa wirausahawan adalah orang yang menggeser sumber-sumber ekonomi dari produktivitas terendah menjadi produktivitas tertinggi, menurutnya wirausahawanlah yang menghasilkan perubahan. Perubahan itu tidak dilakukan dengan mengerjakan sesuatu yang lebih baik tetapi dengan melakukan sesuatu yang berbeda.&lt;br /&gt;Secara kualitatif fungsi makro ini diperankan oleh usaha kecil. Berikut adalah peranannya dalam perekonomian nasional:&lt;br /&gt;1. Usaha kecil memperkokoh perekonomian nasional yang berperan sebagai fungsi pemasok, fungsi produksi, fungsi penyalur, dan pemasar bagi hasil produk-produk industri besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Usaha kecil dapat meningkatkan efisiensi ekonomi khususnya dalam menyerap sumber daya yang ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Usaha kecil yang dipandang sebagai sarana pendistribusian pendapatan nasional, alat pemerataan dalam berusaha dan pemerataan dalam pendapatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fungsi Mikro&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran wirausaha adalah penanggung resiko dan ketidakpastian, mengkombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbeda untuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru.&lt;br /&gt;Menurut Marzuki Usman (1997), secara umum wirausaha adalah menciptakan nilai barang dan jasa dipasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru yang berbeda untuk dapat bersaing. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui:&lt;br /&gt;•    Pengembangan teknologi baru&lt;br /&gt;•    Penemuan pengetahuan baru&lt;br /&gt;•    Perbaikan produk dan jasa yang ada&lt;br /&gt;•    Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah yang lebih banyak dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit&lt;br /&gt;Selain entreprenuer, istilah lain yang juga dikenal adalah konsep intraprenuer dan benchmarking:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*    Intraprenuer, ialah&lt;br /&gt;wirausaha yang menggunakan temuan orang lain pada unit usahanya. Fungsinya adalah imitating technology dan duplicating product&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Benchmarking adalah meniru dan mengembangkan produk baru melalui perkembangan teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha adalah perintis dan pengembang perusahaan yang berani mengambil resiko dalam menghadapi ketidakpastian dengan cara mengelola sumber daya manusia, material, dan keuangan untuk mencapai tingkat keberhasilan tertentu yang diinginkan. Salah satu kunci keberhasilan adalah memiliki tujuan dan visi untuk mencapainya (Steinhoff dan Burges, 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Kewirausahaan dalam Konteks Global&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang unggul dalam sumber dayanya akan memenangkan persaingan, sebaliknya negara-negara yang tidak memiliki keunggulan bersaing dalam sumber daya akan kalah dalam persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara-negara yang memiliki keunggulan bersaing adalah negara-negara yang mampu memberdayakan sumber daya manusianya secara nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan Utama dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya sumber daya yang memiliki keunggulanlah yang dapat bertahan dalam persaingan. Demikian juga pertumbuhan penduduk dunia yang semakin cepat disertai persaingan yang tinggi akan menimbulkan berbagai angkatan kerja yang kompetitif dan akan menimbulkan pengangguran bagi sumber daya manusia yang tidak memiliki keunggulan daya saing yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;ghanoz2480.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-8284483961538724761?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/8284483961538724761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/fungsi-dan-model-peran-usaha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/8284483961538724761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/8284483961538724761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/fungsi-dan-model-peran-usaha.html' title='FUNGSI DAN MODEL PERAN USAHA'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1979057799523646820</id><published>2009-11-07T00:45:00.004+07:00</published><updated>2009-11-07T04:18:02.216+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dewasa ini, dunia kewirausahaan (kewiraswastaan) tampaknya sudah mulai diminati oleh masyarakat luas. Namun, karena kurangnya informasi, banyak orang merasa masih belum jelas tentang aspek-aspek apa saja yang melingkupi dunia wiraswasta. Sebagian orang beranggapan bahwa kewiraswastaan adalah dunianya kaum pengusaha besar dan mapan, lingkungannya para direktur dan pemilik PT, CV serta berbagai bentuk perusahaan lainnya. Oleh karena itu, kewirawastaan sering dianggap sebagai wacana tentang bagaimana menjadi kaya. Sedang kekayaan itu sendiri seakan-akan merupakan simbol keberhasilan dari kewiraswastaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya sebagian masyarakat awam yang berpikir demikian, karena ternyata beberapa lembaga pembinaan kewiraswastaan juga mempunyai persepsi yang mirip dengan itu. Pada beberapa kesempatan, lembaga-lembaga tersebut menampilkan figur tokoh-tokoh sukses yang katanya berhasil menjadi kaya, dengan jalan berwiraswasta. Figur sukses itu antara lain terdiri dari tokoh-tokoh pengusaha besar yang masyarakat mengenalnya sebagai orang-orang terkemuka yang dekat dengan para pejabat pemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari siapa tokoh-tokoh sukses dan kaya yang ditampilkan itu, serta bagaimana cara mendapatkan kekayaannya, marilah kita kembali ke inti persoalan : “Benarkah kewiraswastaan merupakan wacana tentang bagaimana caranya untuk menjadi kaya ?” Kalau bicara sekadar menjadi kaya, tentu semua orang maklum bahwa tidak semua orang kaya adalah pengusaha, sebaliknya tidak semua pengusaha adalah orang kaya. Rata-rata pejabat di Indonesia sudah termasuk orang kaya atau orang berada, apalagi kalau pejabat itu korup. Karyawan-karyawan swasta, terutama para general manager dan direktur juga banyak yang kaya. Bahkan, ada pengemis jalanan berpenghasilan lebih dari Rp. 300.000,- bersih per hari, dan jelas bahwa ia berpotensi untuk menjadi kaya. Dapatkah mereka semua, termasuk para koruptor dan pengemis, menjadi figur panutan dalam wacana kewirausahaan ? Rasanya tidak lah ya..? Kewiraswastaan atau kewirausahaan sebenarnya bukanlah bertujuan untuk menjadi kaya. Setidaknya inilah yang dekemukakan oleh para perintis kewiraswastaan di Indonesia sejak 3 dekade yang lalu. Merintis masa depan dengan belajar menjadi pengusaha lebih mirip dengan belajar bagaimana mengemudikan kendaraan. Seorang instruktur pada sebuah sekolah mengemudi mobil pernah berkata pada para siswanya, yang dalam praktek selalu berusaha untuk menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi : “Keterampilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Karena memacu kecepatan adalah hal yang mudah. Itu hanya soal seberapa dalam kita menginjak pedal gas. Ilmu mengemudi lebih merupakan keterampilan bagaimana menjalankan mobil dari keadaan tidak bergerak, menjadi bergerak dan berjalan dengan stabil, serta bermanuver dengan baik sesuai keadaan, berbelok, maju, mundur, parkir, menanjak, menurun dan lain sebagainya, tanpa membahayakan diri sendiri ataupun orang lain. Kecepatan adalah soal lain..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan sang instruktur memang benar. Keberhasilan mengemudi bukan dilihat dari seberapa cepat kendaraan dipacu. Demikian pun keadaannya dengan kewiraswastaan. Keberhasilan berwiraswasta tidaklah identik dengan seberapa berhasil seseorang mengumpulkan uang atau harta serta menjadi kaya, karena kekayaan bisa diperoleh dengan berbagai cara, termasuk mencuri, merampok, korupsi, melacur dan lain-lain perbuatan negatif. Sebaliknya kewiraswastaan lebih melihat bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan serta menjalankan usaha dari sesuatu yang tadinya tidak berbentuk, tidak berjalan bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Seberapa kecil pun ukuran suatu usaha, jika dimulai dengan niat baik, cara-cara yang bersih, keberanian dan kemandirian, sejak dari nol dan kemudian bisa berjalan dengan baik, maka nilai kewiraswastaannya jelas lebih berharga, daripada sebuah perusahaan besar yang dimulai dengan bergelimang fasilitas, penuh kolusi serta sarat dengan keculasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kewiraswastaan, kekayaan menjadi relatif sifatnya. Ia hanya merupakan produk bawaan (by-product) dari sebuah usaha yang berorientasi kearah prestasi. Prestasi kerja manusia yang ingin mengaktualisasikan diri dalam suatu kehidupan mandiri. Ada pengusaha yang sudah amat sukses dan kaya, tapi tidak pernah menampilkan diri sebagai orang yang hidup bermewah-mewah, dan ada juga orang yang sebenarnya belum bisa dikatakan kaya, namun berpenampilan begitu glamor dengan pakaian dan perhiasan yang amat mencolok. Maka soal kekayaan pada akhirnya terpulang kepada masing-masing individu. Keadaan kaya-miskin, sukses-gagal, naik dan jatuh merupakan keadaan yang bisa terjadi kapan saja dalam kehidupan seorang pengusaha, tidak peduli betapapun piawainya dia. Kewiraswastaan hanya menggariskan bahwa seorang wiraswastawan yang baik adalah sosok pengusaha yang tidak sombong pada saat jaya, dan tidak berputus asa pada saat jatuh.&lt;br /&gt;Tidak ada satu suku kata pun dari kata “wiraswasta” yang menunjukkan arti kearah pengejaran uang dan harta benda, tidak pula kata wiraswasta itu menunjuk pada salah satu strata, kasta, tingkatan sosial, golongan ataupun kelompok elit tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang orang tidak menyadari bahwa “wiraswasta” tidak sama dengan “swasta” dan “orang swasta” tidak dengan sendirinya merupakan wiraswastawan sejati, meskipun mungkin yang bersangkutan menyatakan diri begitu.. Ini disebabkan “wiraswasta” mengandung kata “wira”, yang mempunyai makna luhurnya budi pekerti, teladan, memiliki karakter yang baik, berjiwa kstaria dan patriotik. Oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa seorang wiraswastawan sejati selalu memegang etika sebaik-baiknya dalam berbisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang swasta yang berhasil mengumpulkan harta berlimpah, tidak dapat dikatakan sebagai wiraswastawan sejati, selama harta yang dikumpulkannya itu didapat dengan jalan yang tidak benar seperti kolusi, memeras, menipu, mafia-isme dan lain-lain aktivitas sejenis. Saya menemukan bahwa kadang-kadang terjadi salah pengertian tentang istilah “kewiraswastaan” yang merupakan terjemahan dari kata asing “entrepreneurship”. Ada pendapat bahwa kewiraswastaan tidak hanya terjadi dikalangan orang atau perusahaan swasta saja, tetapi juga ada dilingkungan perkoperasian, lingkungan pendidikan bahkan dilingkungan badan-badan usaha milik pemerintah (BUMN). Oleh karenanya, “entrepreneurship” bukan monopoli kelompok perusahaan swasta saja. Maka kemudian timbul istilah “wirausaha” yang dianggap lebih universal dalam penerapannya. Gejala ini berlanjut lebih spesifik lagi dengan munculnya istilah “kewirakoperasian” untuk para aktivis koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berpendapat, istilah “wiraswasta” tidak hanya menunjuk kepada orang-orang dari kalangan perusahaan swasta. Sebagai istilah yang mewakili kata “entrepreneurship”, penggunaannnya sudah sangat universal, sehingga sebetulnya tidak perlu lagi direvisi. Secara etimologi, sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Suparman Sumahamidjaya, arti kata wiraswasta bisa diuraikan lebih kurang sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wira = luhur, berani, jujur, ksatria.&lt;br /&gt;swa = sendiri.&lt;br /&gt;sta = berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, maksud dari kata wiraswasta adalah, mewujudkan aspirasi kehidupan berusaha yang mandiri dengan landasan keyakinan dan watak yang luhur. Lebih spesifiknya, kaum wiraswastawan sejati adalah mereka yang berani memutuskan untuk bersikap, berpikir dan bertindak secara mandiri, mencari nafkah dan berkarir dengan jalan berusaha di atas kemampuan sendiri, dengan cara yang jujur dan adil, jauh dari sifat-sifat keserakahan dan kecurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi di atas tidak membatasi bahwa wiraswastawan harus seorang yang menjalankan perusahaan milik sendiri. Dengan demikian kewiraswastaan berlaku di lingkungan manapun, termasuk koperasi, BUMN, pengusaha kaki lima, makelar bahkan di lingkungan karyawan sekalipun. Sebab apa? Karena kaum profesional yang status formalnya adalah seorang karyawan, pada hakikatnya merupakan seorang wiraswastawan juga, karena mereka bekerja dengan menjual “leadership”, atas dasar kemitraan bisnis yang adil dan saling menguntungkan, dan bukan atas dasar keinginan untuk “menumpang hidup” semata. Para distributor dari sebuah perusahaan multi-level-marketing, sebagaimana agen-agen asuransi, juga merupakan pribadi-pribadi yang berusaha secara mandiri dan mereka berwiraswasta. Beberapa perusahaan yang telah maju ternyata juga didirikan oleh para mantan karyawan yang memiliki naluri kewiraswastaan. Hal ini menguatkan bukti bahwa nilai-nilai kewiraswastaan memang ada dimana-mana. Hanya saja, kewirawastaan ada yang kelihatan secara jelas, ada yang tersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun saya menyambut baik munculnya berbagai istilah alternatif, karena hal tersebut dengan sendirinya akan memperkaya khasanah kosakata bahasa Indonesia yang masih memerlukan pembinaan-pembinaan lebih jauh. Sebab itu, dalam situs ini akan dipergunakan istilah “wiraswasta” dan “wirausaha” secara silih berganti, agar tidak menimbulkan kejenuhan.&lt;br /&gt;Beberapa aktivitas yang memiliki kandungan nilai kewirausahaan, baik yang jelas maupun yang tersembunyi bisa dicontohkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Pengusaha-pengusaha “kantoran” yang menjalankan perusahaan milik sendiri atau bermitra. Baik dari kelas pengusaha besar, menengah ataupun kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Pengusaha-pengusaha seperti pedagang kaki lima, warung nasi, restoran, toko klontong, bengkel, salon dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Pengusaha candak kulak, seperti bakul jamu, tukang bakso pikul/grobak, dan lain sebagaiya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Pengurus dan anggota-anggota koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Tokoh-tokoh pemasaran, seperti para direktur dan manajer pemasaran, sales representative, business representative, salesmen/girl door to door.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Para distributor multi-level-marketing serta para agen asuransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Tokoh-tokoh profesi seperti dokter, pengacara, notaris, konsultan yang membuka praktik sendiri, sampai supir taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8). Mereka yang menjalankan bisnis sambilan, tanpa melecehkan pekerjaan utamanya sebagai karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9). Para karyawan, yang sambil bekerja, berusaha mengumpulkan modal dan belajar untuk mempersiapkan diri menjadi pengusaha nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10). Para makelar yang jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11). Kaum profesional yang menjual leadership pada perusahaan-perusahaan besar mulai dari yang menjabat sebagai presiden direktur, direktur atau manajer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12). Pekerja free-lance, instruktur-instruktur aerobik, pelatih olahraga yang bekerja waktu penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber dari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;rusmanhakim.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1979057799523646820?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1979057799523646820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/kewirausahaan-sebagai-sebuah-nilai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1979057799523646820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1979057799523646820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/kewirausahaan-sebagai-sebuah-nilai.html' title='KEWIRAUSAHAAN, SEBAGAI SEBUAH NILAI'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-2656707248798474654</id><published>2009-11-07T00:07:00.006+07:00</published><updated>2009-11-07T04:17:45.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>MEMAHAMI KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengertian Kewirausahaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola, mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan meruapakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarsa dan bersaahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya atau kiprahnya. Seorang yang memiliki jiwa dan sikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dari waktu-ke waktu, hari demi hari, minggu demi minggi selalu mencari peluang untuk meningkatkan usaha dan kehidupannya. Ia selalu berkreasi dan berinovasi tanpa berhenti, karena dengan berkreasi dan berinovasi lah semua peluang dapat diperolehnya. Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya. Pada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam emnjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, msaayarakat , bangsa dan negaranya, akan tetapi banyak diantara kita yang tidak berkarya dan berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih baik untuk masa depannya, dan ia menjadi ketergantungan pada orang lain, kelompok lain dan bahkan bangsa dan Negara lainnya. Istilah kewirausahaan, kata dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur, yang dalam bahasa Inggris di kenal dengan between taker atau go between. Pada abad pertengahan istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seseorang actor yang memimpin proyek produksi, Konsep wirausaha secara lengkap dikemukakan oleh Josep Schumpeter, yaitu sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru atau pun yang telah ada. Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sedangkan proses kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi. Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun memiliki substansi yang agak berbeda. Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5) mengemukakan definisi wirausaha sebagai berikut : “ An entrepreuneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the perpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resourses to capitalize on those opportunuties”. Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu kewirausahan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif. Dari beberapa konsep yang ada ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut ( Suryana,2003 : 13), yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1994).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer. 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keenam konsep diatas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang, Berdasarkan hal tersebut maka definisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.” (Pekerti, 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRZW-1zuVI/AAAAAAAAAEc/2HgfWRhHPTI/s1600-h/Gb+3+Karakteristik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 305px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRZW-1zuVI/AAAAAAAAAEc/2HgfWRhHPTI/s320/Gb+3+Karakteristik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401040104484747602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sejalan dengan pendapat di atas, Salim Siagian (1999) mendefinisikan: “Kewirausahaan adalah semangat, perilaku, dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan/masyarakat; dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan manajemen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Motif Berprestasi Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede Anggan Suhanda (dalam Suryana, 2003 : 32) Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti yang dikemukakan oleh Maslow (1934) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan kebutuhan, sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological needs), kebutuhan akan keamanan (security needs), kebutuhan harga diri (esteem needs), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualiazation needs). Menurut Teori Herzberg, ada dua faktor motivasi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRY9wjh8hI/AAAAAAAAAEU/wsIwlG8MS4s/s1600-h/Gb+4+Karaktristik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRY9wjh8hI/AAAAAAAAAEU/wsIwlG8MS4s/s320/Gb+4+Karaktristik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401039671153259026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryana, 2003 : 33-34)&lt;br /&gt;1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.&lt;br /&gt;2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan.&lt;br /&gt;3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.&lt;br /&gt;4. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.&lt;br /&gt;5. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fiftyfifty). Jika tugas yang diembannya sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.&lt;br /&gt;Motivasi (Motivation) berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti to move atau menggerakkan, (Steers and Porter, 1991:5), sedangkan Suriasumantri (hal.92) berpendapat, motivasi merupakan dorongan, hasrat, atau kebutuhan seseorang. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan berperilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Motif menghasilkan mobilisasi energi (semangat) dan menguatkan perilaku seseorang. Secara umum motif sama dengan drive.&lt;br /&gt;Beck (1990: 19), berdasarkan pendekatan regulatoris, menyatakan “drive” sama seperti sebuah kendaraan yang mempunyai suatu mekanisme untuk membawa dan mengarahkan perilaku seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan itu, berdasarkan teori atribusi Weiner (Gredler, 1991: 452) ada dua lokus penyebab seseorang berhasil atau berprestasi. Lokus penyebab instrinsik mencakup (1) kemampuan, (2) usaha, dan (3) suasana hati (mood), seperti kelelahan dan kesehatan. Lokus penyebab ekstrinsik meliputi (1) sukar tidaknya tugas, (2) nasib baik (keberuntungan), dan (3) pertolongan orang lain. Motivasi berprestasi mengandung dua aspek, yaitu (1) mencirikan ketahanan dan suatu ketakutan akan kegagalan dan (2) meningkatkan usaha keras yang berguna dan mengharapkan akan keberhasilan (McClelland, 1976: 74-75).&lt;br /&gt;Namun, Travers (1982:435) mengatakan bahwa ada dua kategori penting dalam motivasi berprestasi, yaitu mengharapkan akan sukses dan takut akan kegagalan.&lt;br /&gt;Uraian di atas menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada dua indikator dalam motivasi berprestasi (tinggi), yaitu kemampuan dan usaha. Namun, bila dibandingkan dengan atribusi intrinsik dari Wainer, ada tiga indikator motivasi berprestasi tinggi yaitu: kemampuan, usaha, dan suasana hati (kesehatan). Berdasarkan uraian di atas, hakikat motivasi berprestasi dalam penelitian ini adalah rangsangan-rangsangan atau daya dorong yang ada dalam diri yang mendasari kita untuk belajar dan berupaya mencapai prestasi belajar yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Selalu Perspektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang wirausahawan hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki persepktif dan pandangan kemasa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya (Suryana, 2003 : 23). Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda dengan yang sudah ada.&lt;br /&gt;Walaupun dengan risiko yang mungkin dapat terjadi, seorang yang perspektif harus tetap tabah dalam mencari peluang tantangan demi pembaharuan masa depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada. Karena itu ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-2656707248798474654?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/2656707248798474654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/memahami-karakteristik-kewirausahaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2656707248798474654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2656707248798474654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/memahami-karakteristik-kewirausahaan.html' title='MEMAHAMI KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRZW-1zuVI/AAAAAAAAAEc/2HgfWRhHPTI/s72-c/Gb+3+Karakteristik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-4960287378072949050</id><published>2009-11-06T23:05:00.008+07:00</published><updated>2009-11-07T04:17:24.985+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>KEWIRAUSAHAAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Hakikat dan Konsep Dasar Kewirusahaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.  Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti.  (Kasmir, 2007 : 18). Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah  penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Richard Cantillon (1775)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Jean Baptista Say (1816) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Frank Knight (1921) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Joseph Schumpeter (1934) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri.  Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Penrose (1963) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Harvey Leibenstein (1968, 1979) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Israel Kirzner (1979) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Peter F. Drucker  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa seorang wirausahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Zimmerer  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.  Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;stilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta. Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha. Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek finansial maupun personal, sosial, dan profesional (Soesarsono,  2002 : 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Ciri dan Watak Wirausaha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRWLNguJ-I/AAAAAAAAAEE/ye2qmxN1EVg/s1600-h/Gb+1+Kw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 584px; height: 296px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRWLNguJ-I/AAAAAAAAAEE/ye2qmxN1EVg/s320/Gb+1+Kw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401036603729520610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sumber : dari Meredith, et.a., dalam Suryana, 2001 : 8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk baru arau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa.&lt;br /&gt;1. Lokus pengendalian internal&lt;br /&gt;2. Tingkat energi tinggi&lt;br /&gt;3. Kebutuhan tinggi akan prestasi&lt;br /&gt;4. Toleransi terhadap ambiguitas&lt;br /&gt;5. Kepercayaan diri&lt;br /&gt;6. Berorientasi pada action&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Wirausahawan (Masykur W)&lt;br /&gt;1. Keinginan untuk berprestasi&lt;br /&gt;2. Keinginan untuk bertanggung jawab&lt;br /&gt;3. Preferensi kepada resiko menengah&lt;br /&gt;4. Persepsi kepada kemungkian berhasil&lt;br /&gt;5. Rangsangan untuk umpan balik&lt;br /&gt;6. Aktivitas Energik&lt;br /&gt;7. Orientasi ke masa depan&lt;br /&gt;8. Ketrampilan dalam pengorganisasian&lt;br /&gt;9. Sikap terhadap uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRWmD74IaI/AAAAAAAAAEM/wwKd2o8L3No/s1600-h/Gb2+Kw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 546px; height: 314px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRWmD74IaI/AAAAAAAAAEM/wwKd2o8L3No/s320/Gb2+Kw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401037065015533986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Wirausahawan yang berhasil mempunyai standar prestasi (n Ach) tinggi. Potensi kewirausahaan tersebut dapat dilihat sebagai berikut : (Masykur, Winardi)&lt;br /&gt;1. Kemampuan inovatif&lt;br /&gt;2. Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)&lt;br /&gt;3. Keinginan untuk berprestasi&lt;br /&gt;4. Kemampuan perencanaan realistis&lt;br /&gt;5. Kepemimpinan berorientasi pada tujuan&lt;br /&gt;6. Obyektivitas&lt;br /&gt;7. Tanggung jawab pribadi&lt;br /&gt;8. Kemampuan beradaptasi (Flexibility)&lt;br /&gt;9. Kemampuan sebagai pengorganisator dan administrator&lt;br /&gt;10. Tingkat komitmen tinggi (survival)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Kewirausahaan (Williamson, 1961)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Innovating Entrepreneurship &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Imitative Entrepreneurship &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Fabian Entrepreneurship &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Drone Entrepreneurship Drone = malas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersbut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Proses Kewirausahaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahap-tahap Kewirausahaan&lt;br /&gt;Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :&lt;br /&gt;(1) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34). Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :&lt;br /&gt;1. proses inovasi&lt;br /&gt;2. proses pemicu&lt;br /&gt;3. proses pelaksanaan&lt;br /&gt;4. proses pertumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :&lt;br /&gt;a. mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan&lt;br /&gt;b. pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana&lt;br /&gt;c. SDM : tenaga kerja yang dipergunakan&lt;br /&gt;d. kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha&lt;br /&gt;e. organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki&lt;br /&gt;f. kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)&lt;br /&gt;g. Pemasaran : lokasi dan tempat usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Faktor-faktor Motivasi Berwirausaha&lt;br /&gt;Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir, 27 – 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk segera ditepati dana direalisasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisis pengalaman di lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat dirangkum dalam tiga sikap, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan membuat pembeli mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat melakukan kerja walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum dapat diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat dikemukakan bahwa ”manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan !” dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk mencapai cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan, kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Dan &amp;amp; Bradstreet business Credit Service (1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan, termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami kiat,  cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan mengendalikannya secara akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin. Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan / memotivasi,  dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik terhadap dirinya dan terhadap pesaing.&lt;br /&gt;10. copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 – 139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan anak tangga menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 – 109), terdiri atas :&lt;br /&gt;1. mau kerja keras (capacity for hard work)&lt;br /&gt;2. bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people)&lt;br /&gt;3. penampilan yang baik (good appearance)&lt;br /&gt;4. yakin (self confidence)&lt;br /&gt;5. pandai membuat keputusan (making sound decision)&lt;br /&gt;6. mau menambah ilmu pengetahuan (college education)&lt;br /&gt;7. ambisi untuk maju (ambition drive) 8. pandai berkomunikasi (ability to communicate)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Rujukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alma, Prof. Dr. Buchari, 2007,  Kewirausahaan, Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasmir, 2007, Kewirausahaan, PT RajaGrafindo Perkasa, Jakarta. - Soesarsono,  2002,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Kewirausahaan, Buku I, Jurusan Teknologi Industri IPB, Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryana, 2001, Kewirausahaan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. - Triton PB., 2007,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entrepreneurship : Kiat Sukses Menjadi Pengusaha, Tugu Publisher, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://westaction.org/definitions/def_entrepreneurship_1.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masykur Wiratmo, 1994, Kewirausahaan: Seri diktat kuliah, Gunadarma, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas’ud &amp;amp; Mahmud Machfoedz, 2004, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winardi, 2003, Entrepreneur &amp;amp; Entrepreneurship, Kencana, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-4960287378072949050?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/4960287378072949050/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/kewirausahaan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4960287378072949050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4960287378072949050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/kewirausahaan.html' title='KEWIRAUSAHAAN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SvRWLNguJ-I/AAAAAAAAAEE/ye2qmxN1EVg/s72-c/Gb+1+Kw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-3184496712783353979</id><published>2009-11-05T22:45:00.004+07:00</published><updated>2009-11-05T23:05:03.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>MANAJEMEN KONFLIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kelompok dalam satu organisasi, dimana  didalamnya  terjadi interaksi antara  satu dengan  lainnya, memiliki kecenderungan  timbulnya konflik. Dalam institusi layanan kesehatan terjadi kelompok interaksi, baik antara kelompok staf dengan staf, staf dengan pasen, staf dengan keluarga dan pengunjung, staf dengan dokter, maupun dengan lainnya yang mana situasi tersebut seringkali  dapat  memicu terjadinya konflik. Konflik sangat erat kaitannya dengan perasaan manusia, termasuk perasaan diabaikan, disepelekan,  tidak dihargai, ditinggalkan, dan juga perasaan jengkel karena kelebihan beban kerja. Perasaan-perasaan tersebut sewaktu-waktu dapat memicu timbulnya  kemarahan. Keadaan tersebut akan mempengaruhi seseorang dalam melaksanakan kegiatannya secara langsung, dan dapat menurunkan produktivitas kerja organisasi secara tidak langsung dengan melakukan banyak kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.  Dalam suatu organisasi,  kecenderungan terjadinya  konflik, dapat disebabkan  oleh suatu perubahan  secara tiba-tiba, antara lain: kemajuan teknologi baru, persaingan ketat, perbedaan kebudayaan dan sistem nilai, serta berbagai macam  kepribadian  individu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DEFINISI KONFLIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Situasi yang terjadi ketika ada perbedaan pendapat atau perbedaan cara pandang diantara beberapa orang, kelompok atau organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap saling mempertahankan diri  sekurang-kurangnya diantara dua kelompok, yang memiliki tujuan dan pandangan  berbeda, dalam upaya mencapai satu  tujuan sehingga mereka  berada  dalam posisi oposisi, bukan kerjasama.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ASPEK POSITIF DALAM KONFLIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konflik bisa jadi merupakan sumber energi dan kreativitas yang positif apabila dikelola dengan baik. Misalnya, konflik dapat menggerakan suatu perubahan :&lt;br /&gt;*  Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Memberikan saluran baru untuk komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Menumbuhkan semangat baru pada staf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Menghasilkan distribusi sumber tenaga  yang lebih merata  dalam organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektivitas kerja dalam  organisasi  baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan, resistensi terhadap perubahan, apatis, acuh tak acuh, bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif, berupa demonstrasi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENYEBAB KONFLIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik dapat berkembang karena berbagai sebab sebagai berikut:&lt;br /&gt;*  Batasan pekerjaan yang tidak jelas&lt;br /&gt;*  Hambatan komunikasi&lt;br /&gt;*  Tekanan waktu&lt;br /&gt;*  Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal&lt;br /&gt;*  Pertikaian antar pribadi&lt;br /&gt;*  Perbedaan status&lt;br /&gt;*  Harapan yang tidak terwujud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGELOLAAN KONFLIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Disiplin:&lt;/span&gt; Mempertahankan disiplin dapat digunakan  untuk mengelola dan mencegah konflik.  Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya.  Misalnya; Perawat junior yang berprestasi  dapat  dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang  yang lebih tinggi, sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan  untuk menduduki  jabatan yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Komunikasi:&lt;/span&gt; Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk  menghindari konflik adalah dengan menerapkan  komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari  yang akhirnya dapat dijadikan sebagai  satu cara hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mendengarkan secara aktif:&lt;/span&gt; Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para  pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TEKNIK ATAU KEAHLIAN UNTUK MENGELOLA KONFLIK&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan dalam resolusi konflik tergantung pada :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*  Konflik itu sendiri&lt;br /&gt;*  Karakteristik orang-orang yang terlibat di dalamnya&lt;br /&gt;*  Keahlian individu yang terlibat dalam penyelesaian konflik&lt;br /&gt;*  Pentingnya isu yang menimbulkan konflik&lt;br /&gt;*  Ketersediaan waktu dan tenaga&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STRATEGI :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Menghindar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menghindari konflik dapat dilakukan jika isu atau masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting atau jika potensi konfrontasinya tidak seimbang dengan akibat yang akan ditimbulkannya. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri. Manajer perawat yang terlibat didalam konflik dapat menepiskan isu dengan mengatakan “Biarlah kedua pihak mengambil waktu untuk memikirkan hal ini dan menentukan tanggal untuk melakukan diskusi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Mengakomodasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya  apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan  pada mereka untuk  membuat keputusan. Perawat yang menjadi bagian dalam konflik dapat mengakomodasikan pihak lain dengan menempatkan kebutuhan pihak lain di tempat yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kompetisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gunakan metode ini jika anda percaya bahwa anda memiliki lebih banyak informasi dan keahlian yang lebih dibanding yang lainnya atau ketika anda tidak ingin mengkompromikan nilai-nilai anda. Metode ini mungkin bisa memicu konflik tetapi bisa jadi merupakan metode yang penting untuk alasan-alasan keamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kompromi atau Negosiasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan  kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Memecahkan Masalah atau Kolaborasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemecahan sama-sama   menang  dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama. Perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan  saling memperhatikan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PETUNJUK PENDEKATAN  SITUASI KONFLIK  :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;*   Diawali  melalui penilaian diri sendiri&lt;br /&gt;*   Analisa  isu-isu seputar konflik&lt;br /&gt;*   Tinjau kembali  dan sesuaikan dengan  hasil eksplorasi diri sendiri.&lt;br /&gt;*   Atur dan rencanakan  pertemuan antara individu-individu yang terlibat konflik&lt;br /&gt;*   Memantau sudut pandang dari semua individu yang terlibat&lt;br /&gt;*  Mengembangkan dan  menguraikan solusi&lt;br /&gt;*   Memilih solusi dan melakukan tindakan&lt;br /&gt;*   Merencanakan pelaksanaannya&lt;br /&gt;*   Manajemen Konflik Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber dari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-weight: bold;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-weight: bold;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;blog.unila.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-3184496712783353979?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/3184496712783353979/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/manajemen-konflik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3184496712783353979'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3184496712783353979'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/manajemen-konflik.html' title='MANAJEMEN KONFLIK'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1626492763540017847</id><published>2009-11-05T19:52:00.003+07:00</published><updated>2009-11-05T22:31:51.075+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL (Perspektif Materialistis dan Idealis)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara mengenai perubahan sosial, kita mau tidak mau harus membahas mengenai faktor yang menyebabkan perubahan itu terjadi. Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan pada masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Secara garis besar faktor penyebab perubahan dapat dikelompokkan dalam dua perspektif, yaitu materialistic factors dan idealistic factors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perspektif Materialis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kubu perspektif materialis memandang bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya faktor material yang menyebabkannya. Faktor material tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi dan teknologi yang berhubungan dengan ekonomi produksi. Pada dasarnya, perspektif ini menyatakan bahwa teknologi baru atau moda produksi baru menghasilkan perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, kepercayaan dan norma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar. Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe-tipe moda produksi, antara lain :&lt;br /&gt;1.   Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marx terdapat 3 tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :&lt;br /&gt;1.   Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Marx, tokoh yang menyajikan pendapat tentang perspektif materialis adalah Ogburn. Ogburn menyoroti mengenai teknologi yang telah menyebabkan perubahan sosial di Amerika. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :&lt;br /&gt;1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan bantuan teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perspektif Idealis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :&lt;br /&gt;1. Rasionalitas tradisional.&lt;br /&gt;2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.&lt;br /&gt;3. Rasionalitas afektif.&lt;br /&gt;4. Rasionalitas instrumental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhi arah perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :&lt;br /&gt;1.     Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu materialis yang dipelopori oleh Marx dan kubu idealis yang dipelopori oleh Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide dasar pemikiran Marx, namun dia tidak sependapat untuk menempatkan manusia sebagai robot. Pada masyarakat modern, Marx dan Weber memiliki kesamaan pandangan, bahwa masyarakat modern telah diikat dengan spirit kapitalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mobilisasi dan Kontrol; Materialis vs Idealis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Studi yang dilakukan oleh Kurasawa ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial, ekonomi dan psikologis yang muncul atau berkembang selama masa pendudukan Jepang di masyarakat pedesaan Jawa. Kebijakan-kebijakan Jepang di Jawa dapat dicirikan oleh perpaduan antara mobilisasi dan kontrol. Mobilisasi berarti memanggil rakyat untuk berpartisipasi dalam pengabdian militer, pekerjaan umum, kegiatan politik atau seremonial lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan mobilisasi ini juga dipadukan dengan kebijakan kontrol yang ketat oleh pemerintah. Seluruh kegiatan ekonomi secara ketat dikontrol oleh pemerintah melalui berbagai bentuk peraturan. Tidak terdapat kebebasan dalam kegiatan politik, ideologi dan seni. Rakyat diharapkan mempunyai pikiran yang seragam dan melakukan konformitas dalam tingkah laku mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan Jepang membantu melahirkan berbagai perubahan dan fenomena baru di masyarakat. Perubahan sosial semacam ini paling mencolok di kawasan pedesaan. Masyarakat desa merupakan sumber dari barang-barang yang dibutuhkan Jepang untuk menjalankan kebijakan militernya. Keberhasilan pemerintah Jepang ditentukan oleh keberhasilan menarik bantuan dari masyarakat pedesaan. Oleh karenanya, Jepang melakukan berbagai proyek atau kegiatan baru di desa sehingga campur tangan dengan masalah administrasi dan adat masyarakat desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang pertanian, Jepang yang membutuhkan bahan pangan untuk pasukan militernya, harus berupaya mendapatkan bahan pangan dari masyarakat pedesaan. Bahan pangan utama yang dibutuhkan adalah padi, sehingga upaya peningkatan produksi dilakukan oleh Jepang. Pengenalan varietas padi baru yang dihasilkan oleh ilmuan Jepang dilakukan pada masyarakat pedesaan. Untuk memperluas sawah, hutan-hutan dibuka, pembangunan jaringan irigasi dan tanah-tanah perkebunan diubah menjadi sawah. Namun demikian, kebijakan peningkatan produksi ini mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan-kebijakan pendudukan Jepang di Jawa bertanggung jawab atas timbulnya bermacam-macam perubahan sosial di dalam masyarakat pedesaan. Kontrol yang kuat dipergunakan terhadap usaha-usaha dan kegiatan ekonomi petani di pedesaan menyebabkan perubahan struktur pertanian dan ekonomi di Jawa. Selain itu juga diperkenalkan kontrol terhadap pemerintahan desa dan menimbulkan perubahan dalam hubungan sosial dan sistem kepemimpinan desa. Propaganda dan pendidikan juga dilakukan oleh Jepang untuk dapat melakukan pengerahan massa sesuai dengan tujuan Jepang. Mobilitas sosial yang meningkat baik secara horisontal maupun vertikal menyebabkan timbulnya identitas “nasional”. Selain itu, Jepang juga harus bertanggung jawab atas menguaknya keterpisahan sosial antar lapisan dalam masyarakat pedesaan. Ringkasnya, Jepang telah membantu meningkatkan keragaman dan diversivikasi di masyarakat pedesaan. Cara berpikir dan bertingkah laku yang baru, pola-pola persekutuan dan persaingan menjadi berkembang di pedesaan Jawa. Masa penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun ternyata tidak cukup bagi Jepang untuk mencapai sasaran-sasaran yang mereka kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang berusaha melakukan propaganda melalui pendidikan sehingga akan menghasilkan nilai budaya dan kepercayaan yang baru. Semangat kerja keras ala samurai juga coba diperkenalkan kepada masyarakat pedesaan. Dalam perspektif idealis memandang usaha yang dilakukan Jepang merupakan suatu proses yang akan menghasilkan perubahan pada masyarakat pedesaan. Penanaman ideologi yang dilakukan oleh Jepang dapat menyebabkan sebuah perubahan sosial yang mendasar di pedesaan. Tumbuhnya semangat untuk melakukan meraih kemerdekaan merupakan perubahan yang mendasar hingga akhirnya tercapai pada tahun 1945. Perubahan pada masa penjajahan Jepang tidak hanya dapat dipandang dari sudut idealisme saja. Perubahan struktur ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan, mau tidak mau juga telah menyebabkan perubahan di dalam hubungan antar individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Rujukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harper, Charle L. 1989. Exploring Social Change. New Jersey: Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasawa, Aiko. 1982. Mobilisasi dan Kontrol; Strudi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial; Sketsa dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Jogjakarta: Tiara Wacana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strasser, Hermann and Susan C. Rendall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge &amp;amp; Kegan Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber dari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;learning-of.slametwidodo.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1626492763540017847?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1626492763540017847/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/mekanisme-perubahan-sosial-perspektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1626492763540017847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1626492763540017847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/mekanisme-perubahan-sosial-perspektif.html' title='MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL (Perspektif Materialistis dan Idealis)'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-7570427932985673313</id><published>2009-11-05T18:06:00.008+07:00</published><updated>2009-11-05T19:50:56.251+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Yang dimaksud dengan teori pembangunan dunia ketiga adalah teori-teori pembangunan yang berusaha menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh negera-negara miskin atau negara-negara sedang yang sedang berkembang dalam sebuah dunia yang didominasi oleh kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan dan militer negara-negara adikuasa atau negara-negara industri maju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;* Memiliki perbedaan dan persamaan dengan teori pembangunan bagi negara-negara adikuasa, karena persoalan yang dihadapinya berlainan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;* Bagi negara-negara dunia ketiga, persoalannya adalah bagaimana bertahan hidup atau bagaimana meletakkan dasar-dasar ekonominya supaya bis bersaing di pasar internasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;* Bagi negara-negara adikuasa persolannya adalah bagaimana melakukan ekspansi lebih lanjut bagi kehidupan ekonominya yang sudah mapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: times new roman;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-weight: bold; text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; 3 kelompok teori yang dibahas :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Teori modernisasi. Menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan. Teori modernisasi merupakan kelompok teori yang dominan dalam mengkaji masalah pembangunan di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia.&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Teori ketergantungan. Teori ini merupakan reaksi terhadap teori modernisasi. Teori ini mula-mula tumbuh di kalangan para ahli ilmu sosial di Amreika Latin kemudian meluas sampai ke Amerika Serikat dan Eropa dan &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;. Teori ini dipengaruhi oleh metoda analisis Marxis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; 3. Teori yang merupakan reaksi terhadap teori ketergantungan. Teori ini sering disebut sebagai teori pasca ketergantungan. Di dalamnya ada teori sistem dunia, teori artikulasi dsb.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1946230900; 	mso-list-template-ids:1919065878;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;BAGAIMANA MENGUKUR PEMBANGUNAN?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Kekayaan      rata-rata&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Pemerataan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;3. Kualitas      kehidupan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;4. Kerusakan      lingkungan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;5. Keadilan      Sosial dan kesinambungan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1475759311; 	mso-list-template-ids:-959549804;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;1. Kekayaan rata-rata&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;* Pembangunan dimaknai dalam arti pertumbuhan      ekonomi. Sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan bila      pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Jadi yang diukur adalah produktivitas      masyarakat atau negara tersebut tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Dalam bahasa teknis ekonominya GNP (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gross      National Product&lt;/span&gt; ) dan PDB atau GDP (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Product Domestik Bruto&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gross      Domestic Product&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Pembangunan di sini diartikan sebgai jumlah      kekayaan keseluruhan sebuah bangsa atau negara&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="times new roman" style="text-align: justify; font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2. Pemerataan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="times new roman" style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style=""&gt;Bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang di samping tinggi produktivitasnya, penduduknnya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; Tidak semua negara yang berhasil meningkatkan PNB/kapitanya berhasil juga dalam meratakan hasil-hasil pembangunannya. Demikian juga tidak semua negara yang masih rendah PNB/kapitanya menunjukkan ketimpangan yang tinggi dalam hal pemerataan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="times new roman" style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3. Kualitas kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p face="times new roman" style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Salah satu cara lain untuk mengukur kesejahteraan penduduk sebuah negara adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Physical Quality of Life Index &lt;/span&gt;). Tolok ukur ini dipekrnalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yaitu : 1) rata-rata harapan hidup setelah umur satu tahun ; 2) rata-rata jumlah kematian bayi ; 3) rata-rata prosentasi buta dan melek huruf.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1101602875; 	mso-list-template-ids:1001937624;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Kerusakan Lingkungan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Sebuah      negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatan penduduknya,      bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi miskin. Hal ini      misalnya, pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi itu      tidak mempedulikan dampak terhadap lingkungannya. Lingkungannya semakin      rusak.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Kriteria      keberhasilan pembangunan yaitu faktor kerusakan lingkunagan sebagai faktor      yang menentukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1383099117; 	mso-list-template-ids:-1097149818;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5. Keadilan sosial dan kesinambungan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pembangunan yang berhasil mempunyai unsur :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Pertumbuhan      ekonomi yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Berkesinambungan      : tidak terjadi kerusakan sosial dan alam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="EN-US" &gt;Jadi, konsep pembangunan semakin kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga meliputi masalah sosial dan lingkungan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;" &gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="font-family: times new roman;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1240678422; 	mso-list-template-ids:-1883460912;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:2127389355; 	mso-list-template-ids:838208170;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; Pembangunan mempunyai dua unsur utama :&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;1. Masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="text-align: justify; font-family: times new roman;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;2. Masalah manusia yang menjadi pengambil      inisiatif yang menjadi manusia pembangunan. Pembangunan tidak hanya berurusan dengan produksi dan distribusi barang-barang material tetpai pembangunan juga harus menciptakan kondisi-kondisi yang membuat manusia bisa mengembangkan kreatifitasnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;b&gt;PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif. Untuk bisa kreatif, manusia tersebut harus merasa bahagia, merasa aman dan bebas dari rasa takut.  Hanya manusia seperti inilah yang bisa menyelenggarakan pembangunan dan memecahkan masalah yang dijumpainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Teori      pembangunan kerja secara Internasional yang didasarkan pada teori      keuntungan komparatif yang dimiliki oleh setiap negara mengakibatkan      terjadinya spesialsiasi produksi pada tiap-tipa negara sesuai dengan      keuntungan komparatif yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Secara      umum, di dunia ini terdapat dua kelompok negara : 1) negara yang      memproduksi hasil pertanian ; 2) negara yang memproduksi barang industri.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Antara      kedua keolmpok negara ini terjadi hubungan dagang dan keduanya menurut      teori di atas saling diuntungkan.&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:269169615; 	mso-list-template-ids:2129285502;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l1 	{mso-list-id:1201893485; 	mso-list-template-ids:-1344378508;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;TEORI MODERNISASI :PEMBANGUNANSEBAGAI MASALAH INTERNAL…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Tetapi      setelah beberapa puluhan tahun kemudian, tampak bahwa negara-negara      industri menajdi semakin kaya sedangkan negara-negara pertanian semakin      tertinggal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Mengapa      terjadi dua kelompok negara : negara-negara miskin yang biasanya      meruapakan negara pertanian dan negara-negara kaya yang biasanya adalah      negara industri?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL….&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:arial;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="EN-US" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Teori      modernisasi . Teori yang menjelaskan bahwa kemiskinan ini disebabkan oleh      faktor-faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negeri      negara yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  lang="SV" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Teori ketergantungan . Teori ini menjelaskan      bahwa kemiskinan di suatu negara disebabkan karena faktor eksternal.      Kemiskinan dilihat sebagai akibat dari bekerjanya kekuatan-kekuatan luar      yang menyebabkan negara yang bersangkutan gagal melakukan pembangunannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: times new roman;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;Teori Harrod – domar : tabungan dan Investasi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div face="times new roman" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;font-size:100%;" lang="SV" &gt; Evsey Domar dan Roy Harrod, kedua ahli ekonomi ini mencapai kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Kalau tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat atau negara tersebut juga akan rendah.&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; Masalah pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menambahkan investasi modal. Masalah keterbelakangan adalah masalah kekeurangan modal. Kalau ada modal dan modal tersebut diinvestasikan, hasilnya adalah pembangunan ekonomi&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1569269148; 	mso-list-template-ids:843991332;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Marx Weber : Etika Protestan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Weber      mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di      sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Weber      membahas peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme      di Eropa barat dan Amerika Serikat. Pembahasan ini ada dalam bukunya : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The      Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Dalam      bukunya Weber mencoba menjawab mengapa beberapa negara di Eropa dan      Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat di bawah sistem      kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber menyimpulkan bahwa salah satu      sebabnya adalah adanya Etika protestan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="EN-US"&gt;Marx Weber : Etika Protestan….&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; Etika protestan lahir di Eropa melalui agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin. Di sini muncul ajaran bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya. Oleh karen itu, mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas karena tidakjelasan nasibnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau neraka adalah keberhasilan kerjanya di dunia yang sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan ditakdirkan untuk naik ke surga setelah dia mati nanti. Kalau kerjanya selalu gagal di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan pergi ke neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih, artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang disebut sebagai etika Protestan oleh Weber, yakni cara bekerja yang keras dan sungguh-sungguh lepas dari imbalan materialnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:60258630; 	mso-list-template-ids:-2062147644;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:347945078; 	mso-list-template-ids:-1637711886;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:370541579; 	mso-list-template-ids:2144634778;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l3 	{mso-list-id:908034042; 	mso-list-template-ids:-355033912;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l4 	{mso-list-id:1005595042; 	mso-list-template-ids:-751644426;} @list l4:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:1666929609; 	mso-list-template-ids:1030232376;} @list l5:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l6 	{mso-list-id:1687169769; 	mso-list-template-ids:-262603748;} @list l6:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7 	{mso-list-id:1897474144; 	mso-list-template-ids:828256730;} @list l7:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8 	{mso-list-id:1996107527; 	mso-list-template-ids:-898345838;} @list l8:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} @list l9 	{mso-list-id:2141804517; 	mso-list-template-ids:-1970648806;} @list l9:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	font-family:Symbol;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;David Mc Clelland : Need for Achievment&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Adanya N-      Ach yang tinggi dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan pertumbuhan      ekonomi bagi masyarakat&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;N-Ach ini semacam virus yang bisa      ditularkan. Jadi, N-Ach ini bukanlah sesuatu yang diawriskan sejak lahir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;David Mc Clelland menyelenggarakan      bermacam latihan manajemen di pelbagai negara untuk menumbuhkan N- Ach      ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:times new roman;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Tempat yang paling baik untuk memupuk N      –Ach adalah di dalam keluarga melalui orang tua. Pendidikan anak menjadi      sangat penting, cerita anak-anak yang beredar harus diarahkan pada nilai      N      –Ach yang tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;W.W. Rostow: &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tahap Pembangunan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Dalam      bukunya “The Stage of Economic Growth “, A Non Communist Manifesto, Rostow      menguraikan teorinya tentang proses pembangunan dalam sebuah masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Bagi      Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis      lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat maju.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;W.W. Rostow: &lt;st1:city st="on"&gt;Lima&lt;/st1:city&gt; tahap Pembangunan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; Rostow membagi proses pembangunan menajdi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tahap yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Masyarakat      tradisional&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Pra      kondisi untuk lepas landas&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;3. Lepas      landas&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;4. Bergerak      ke kedewasaan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;5. Jaman      Konsumsi masal yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;Teori Rostow ini didasarkan pada dikotomi masyarakat tradisonal dan masyarakat modern. Titik terpenting dalam gerak kemajuan dari masyarakat yang satu ke lainnya adalah periode lepas landas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt; &lt;b&gt;Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Faktor non      ekonomi di sini adalah faktor kondisi lingkungan yang dianggap penting      dalam proses pembangunan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Hoselitz      menekankan bahwa meskipun seringkali orang menunjukkan bahwa masalah utama      pembangunan adalah keurangan modal (teori Harrod – Domar ), ada masalah      lain yang juga sangat penting yakni adanya ketrampilan kerja tertentu,      termasuk tenaga wiraswasta yang tangguh. Karena itu dibutuhkan perubahan      kelembagaan pada masa sebelum lepas landas, yang akan mempengaruhi      pemasokan modal, supaya mdoal ini bisa menajdi produktif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi….&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Perubahan kelembagaan ini akan menghasilkan tenaga wiraswasta dan administrasi serta ketrampilan teknis dan keilmuan yang dibutuhkan. Menurut Hoselitz, pembangunan membutuhkan pmasokan dari beberapa unsur, seperti :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;Pemasokan      modal besar dan perbankan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;PEmasokan      tenaga ahli dan terampil&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alex Inkeles dan David H . &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Smith : Manusia Modern&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;* &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;Membicarakan      tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang      pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Pembangunan      bukan sekedar perkara pemasokan modal dan teknologi saja, tetapi      dibutuhkan manusia yang dapat mengembangkan sarana material tersebut      supaya menjadi produktif. Untuk ini dibutuhkan manusia modern.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="NL"&gt;Alex Inkeles dan David H . &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Smith : Manusia Modern….&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;Manusia modern yang dimaksud adalah antara lain memiliki :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL"  style="font-size:100%;"&gt;1. Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Berorientasi      ke masa sekarang dan masa depan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;3. Punya      kesanggupan merencanakan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;4. Percaya      bahwa manusia bisa mengausai alam dan bukan sebaliknya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern….&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="NL"  style="font-size:100%;"&gt;Untuk mengubah manusia agar bisa menjadi manusia modern bisa melalui :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;2. Pengalaman      kerja di lembaga kerja modern&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;3. Pengenalan      terhadap media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;ALIRAN TEORI MODERNISASI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;1. Teori yang      menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal      untuk investasi (harood – Domar)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;2. Teori yang menekankan aspek-aspek psikologi      individu ( David Mc Clelland)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;3. Teori yang      menekankan nilai-nilai budaya (Weber)&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;4. Teori yang      menekankan adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses      pembangunan sebelum lepas landas dimulai (Hoselitz)&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;5. Teori yang menekankan lingkungan material      (Inkeles dan Smith)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;CIRI UMUM TEORI MODERNISASI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="EN-US"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Didasarkan      pada dikotomi antara tradisional (belum maju) dan modern (maju)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" lang="EN-US" &gt;*&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt; Didasarkan pada faktor-faktor non material      sebagai penyebab kemiskinan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Bersifat historis. Hukum-hukumnya sering      dianggap berlaku secara universal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;* &lt;/span&gt;Faktor-faktor yang mendorong atau menghambat      pembangunan harus dicari di dalam negara-negara yang bersangkutan, bukan      di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Sumber dari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 153, 0);font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt;your-black.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-7570427932985673313?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/7570427932985673313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/teori-pembangunan-dunia-ketiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/7570427932985673313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/7570427932985673313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/11/teori-pembangunan-dunia-ketiga.html' title='TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-4079594914686317829</id><published>2009-10-27T18:17:00.002+07:00</published><updated>2009-10-27T18:26:21.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>SIFAT / KARAKTERISTIK / CIRI-CIRI NEGARA BERKEMBANG</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Negara yang sedang berkembang seperti Indonesia memiliki karakter atau ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Tingkat Pertumbuhan Penduduk Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat pertambahan penduduk di negara berkembang umumnya lebih tinggi dua hingga empat kali lipat dari negara maju. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan budaya di negara berkembang yang berbeda dengan di negara maju. Hal tersebut dapat mengakibatkan banyak masalah di masa depan yang berkaitan dengan makanan, rumah, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Tingkat Pengangguran Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk mengakibatkan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi tinggi. Jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada kesempatan lapangan kerja yang tersedia dan tungkat pertumbuhan keduanya yang tidak seimbang dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Tingkat Produktivitas Rendah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah faktor produksi yang terbatas yang tidak diimbangi dengan jumlah angkatan kerja mengakibatkan lemahnya daya beli sehingga sektor usaha mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Kualitas Hidup Rendah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat rendahnya tingkat penghasilan, masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dll. Banyak yang kekurangan gizi, tidak bisa baca tulis, rentan terkena penyakit, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Ketergantungan Pada Sektor Pertanian / Primer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya masyakat adalah bermata pencaharian petani dengan ketergantungan yang tinggi akan hasil sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Pasar &amp;amp; Informasi Tidak Sempurna&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perekonomian negara berkembang kurang berkompetisi sehingga masih dikuasai oleh usaha monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Informasi di pasar hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Tingkat Ketergantungan Pada Angkatan Kerja Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori angkatan kerja dengan penduduk non angkatan kerja di negara sedang berkembang nilainya berbeda dengan dengan di negara maju. Dengan demikian di negara maju penduduk yang berada dalam usia nonproduktif lebih banyak bergantung pada yang masuk angkatan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Ketergantungan Tinggi Pada Perekonomian Eksternal Yang Rentan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara berkembang umumnya memiliki ketergantungan tinggi pada perekonomian luar negeri yang bersifat rentan akibat hanya mengandalkan ekspor komoditas primer yang tidak menentu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber diambil dari &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(255, 153, 0);"&gt;organisasi.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-4079594914686317829?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/4079594914686317829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/sifat-karakteristik-ciri-ciri-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4079594914686317829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4079594914686317829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/sifat-karakteristik-ciri-ciri-negara.html' title='SIFAT / KARAKTERISTIK / CIRI-CIRI NEGARA BERKEMBANG'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-2525418215494330513</id><published>2009-10-27T17:36:00.003+07:00</published><updated>2009-10-27T18:09:17.392+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>PROSES PEMBANGUNAN</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembangunan mempunyai pengertian dinamis, maka tidak boleh dilihat dari konsep yang statis. Pembangunan juga mengandung orientasi dan kegiatan yang tanpa akhir. Proses pembangunan merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan menunjukkan terjadinya suatu proses maju berdasarkan kekuatan sendiri, tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Pembangunan tidak bersifat top-down, tetapi tergantung dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“innerwill”&lt;/span&gt;, proses emansipasi diri. Dengan demikian, partisipasi aktif dan kreatif dalam proses pembangunan hanya mungkin bila terjadi karena proses pendewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1.    Makna, Ruang Lingkup dan Dinamika Pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ilmu, pembangunan ekonomi, politik dapat diklasifikasi secara sosiologis ke dalam tiga kategori. Pertama, masyarakat yang masih bersifat tradisional; kedua adalah masyarakat yang bersifat peralihan; dan ke tiga adalah masyarakat maju. Ke tiga kategori tersebut saling berkaitan, karena berada dalam satu negara. Semua negara di dunia masih mempunyai tiga kategori tersebut, meskipun dalam negara modern sekalipun. Hanya dalam negara maju lebih mempunyai kondisi sosial yang stabil, bila dibandingkan dengan kategori dari yang pertama dan ke dua.&lt;br /&gt;Pembangunan akan membawa masyarakat kepada modernisasi, dalam pengertian mencapai kemandirian pribadi, melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam masyarakat. Pembangunan harus dimulai dari proses perubahan-perubahan sosial yang besar dan secara kontinu. Proses atau usaha perubahan sosial tersebut dapat berati suatu proses dan usaha pembangunan. Perubahan sosial dimulai dari proses kemandirian atau dimulai dari proses konsientisasi atau emansipasi diri. Proses ini harus dimulai dengan adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“the school of change” &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“educational of change”.&lt;/span&gt; Peranan pendidikan dalam pembangunan atau proses perubahan sosial menuju proses pendewasaan merupakan bagian dari proses yang sangat penting.&lt;br /&gt;Dalam pembangunan, manusia secara pribadi atau masyarakat yang harus mengambil keputusan. Melalui bantuan dari agen-agen pembangunan yang berada di dalam masyarakat, mereka memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan. Pembangunan tidak akan tercapai tanpa melibatkan secara langsung seseorang atau masyarakat yang harus mengalami perubahan. Dalam hal ini, kekuatan-kekuatan pembaharuan yang terdapat dalam masyarakat harus diperhitungkan secara matang. Dengan ikut sertanya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat, perubahan-perubahan sosial itu akan mempunyai kemampuan berkembang secara dinamis. Faktor-faktor dominan di dalam masyarakat harus diperhitungkan secara rinci dan bertanggung jawab. Kalau dilihat dan dievaluasi secara menyeluruh, yang berkaitan dengan proses pembangunan sosial atau politik, dapat disimpulkan karena kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat masih sangat lemah. Hal itu disebabkan oleh karena tingkatan pendidikan di masyarakat masih sangat rendah. Bahkan, staknasi dalam proses pembangunan telah mengakibatkan frustrasi, alienasasi, kegoncangan dalam identitas, kemerosotan jati diri dan timbulnya perilaku-perilaku aneh dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari sebab dan akibat terhambatnya proses pembangunan, maka perlu dipikirkan cara-cara pengembangan kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat itu sendiri oleh setiap komponen yang bertanggung jawab dengan proses terjadinya pembangunan yang bersifat holistik. Para ahli berpendapat bahwa pembarauan dan pembangunan sangat tergantung dari sekelompok kecil unsur-unsur pembaharu. Peranan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“change agent” &lt;/span&gt;dalam proses pembangunan menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;Dalam negara-negara berkembang, pembangunan ekonomi melalui usaha pertumbuhan ekonomi harus diutamakan. Ekonomi merupakan pusat jantung kehidupan masyarakat. Pembangunan ekonomi merupakan pusat kegiatan masyarakat yang sedang berkembang. Kestabilan ekonomi akan disusul dengan kestabilan sosial dan kestabilan politik. Sebaliknya, ketidak adilan ekonomi adalah penyebab kesenjangan sosial dan ketidakstabilan dalam bidang politik. Krisis ekonomi menyebabkan kerusuhan-kerusuhan sosial, yang telah mengarah kepeda disintegrasi dalam masyarakat. Ketidakadilan ekonomi, tidak mencerminkan kemajuan dan kualitas hidup suatu masyarakat. Ketidakadilan ekonomi juga menyebabkan ketertinggalan masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Dari nalisa ini diperlukan pendekatan terpadu, pembangunan eknomi, sosial, politik dan pendidikan. Untuk proses perubahan-perubahan tersebut diperlukan perubahan yang terencana. Perencanaan dipakai sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan perubahan masyarakat tersebut secara lebih baik dan teratur. Perencanaan erubahan harus melibatkan pemerintah, LSM dan masyarakat. Seharusnya yang mengambil keputusan untuk terjadinya perubahan adalah masyarakat sendiri. Pemerintah dan LSM-LSM hanya membantu masyarakat untuk mengambil keputusan. Baik Pemerintah maupun LSM tidak diperbolehkan mengambil alih masyarakat untuk mengambil keputusan. Pemerintah dan LSM hanya berfungsi sebagai alat bantu agar masyarakat dimampukan untuk mengambil keputusan. Keputusan terakhir dalam suatu perencanaan adalah masyarakat sendiri. Untuk ini kelompok-kelompok kecil pembaharu yang sudah terlatih menjadi agen pembaharuan dan pembangunan.&lt;br /&gt;Pembangunan ekonomi juga harus memperhatikan mekanisme pasar dan harga. Untuk hal ini diperlukan sistem perencanaan terpadu, karena pembangunan harus melibatkan semua komponen dan elemen yang ada dalam masyarakat. Pembanguan secara berencana akan bersifat lebih rasional dan teratur bagi pembangunan masyarakat yang sedang berkembang. Dalam hal ini peranan riset sangat penting. Melalui riset akan menolong memahami kemampuan dan kebutuhan masyarakat secara rasional. Berdasarkan riset tersebut, dibuat perencanaan terpadu, melibatkan semua komponen dan elemen yang ada di dalam masyarakat, melibatkan pemerintah dan LSM-LSM untuk melaksanakan pembangunan dan kemudian diadakan evaluasi secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Hambatan-hambatan Dalam Pembangunan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang terbelakang masih sangat tradisional sekali. Mereka masih terikat dengan nilai-nilai asli dan juga masih memiliki kerinduan untuk memelihara nilai-nilai tersebut. Biasanya selalu dikaitkan dengan kebudayaan atau adat istiadat lokal. Dalam masyarakat yang tradsional tidak memberikan peluang cukup untuk terjadinya perubahan-perubahan serta tumbuhnya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat. Yang menyebabkan hal tersebut sangat kompleks sekali, seperti: kolonialisme dan feodalisme. Kondisi keterbelakangan juga dapat dilihat dari bidang ekonomi dan pendidikan. Penyebab utama untuk hal ini adalah adanya keterbatasan yang amat parah dalam pendapatan, modal dan ketrampilan. Hal tersebut juga menyebabkan kemiskinan masyarakat yang berkepanjangan.  Di Indonesia, hal itu disebabkan karena penyebaran penduduk yang tidak merata dan tingkat urbanisasi yang sangat tinggi. Tingkat pendapatan buruh tani di pedesaan yang sangat rendah dan upah buruh di masyarakat industri yang belum mencapai UMR. Gulungtikarnya perusahaan-perusahaan besar telah menyebabkan angka pengangguran yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan oportunisme di kalangan elit politik, telah menyebabkan ketidak stabilan di bidang politik. Hal-hal ini telah menyebabkan terpuruknya ekonomi rakyat dan mempercepat pemerataan kemiskinan masyarakat Indonesia. Untuk perubahan sosial-ekonomi dibutuhkan aparatur negara yang bersih dan pendidikan masyarakat yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Proses dan Perspektif Pembangunan Bangsa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanggulangi kondisi-kondisi keterbelakangan tersebut, khususnya di bidang ekonomi, pembaruan dan pembangunan berencana dirasakan sebagai alternatif yang rasional. Konsep pembangunan yang terus menerus akan memberi inspirasi kepada masyarakat untuk mencari solusi secara aktif dan dinamis bagaimana mengatasi keterbelakangan dan ketertinggalan. Proses pembanguan harus bertumpu kepada pembaharuan ekonomi rakyat melaui peningkatan pendidikan masyarakat. Peningkatan dan arah perkembangan di bidang pendidikan misalnya akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas masyarakat dalam berekonomi. Mengatasi ketertinggalan juga melalui program pengembangan masyarakat. Masyarakatlah yang dididik agar dapat meneyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk hal ini, hal-hal yang sangat peka dalam masyarakat perlu dikaji dan diatasi, agar tidak menjadi penghambat bagi pembangunan ekonomi kerakyatan. Sistem kolonialisme dan feodalisme harus dikikis habis dan digantikan dengan sistem baru yang menekankan kepada program pengembangan masyarakat. Tujuan usaha dalam bidang sosial-ekonomi adalah usaha mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap dalam masyarakat yang lebih kondusif bagai pembaharuan, pembangunan, dan pembinaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pendidikan yang memadai akan memberikan motivasi kegairahan usaha yang bersifat produktif. Bila ekonomi masyarakat menjadi baik maka akan memberikan kemungkinan terjadinya kestabilan politik. Untuk hal ini, kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat harus dihimpun, dibina, dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal agar mencapai pembangunan ekonomi masyarakat. Para motivator harus tetap berusaha mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis dalam kehidupan masyarakat.  Hal strategis yang tidak boleh dilupakan adalah pembinaan ketrampilan dan kewirausahaan. Salah satu unsur penting dalam perspektif pembangunan ekonomi yang lebih terasa pada akhir-akhir ini adalah orientasi keadailan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERKEMBANGAN PEMIKIRAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Teori Pembangunan Nasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan masyarakat sebagai suatu proses dinamis menuju keadaan sosial ekonomi yang lebih baik, atau yang lebih modern. Untuk mencapai diperlukan perpaduan ilmu, seperti: ekonomi, sosilogi, teologi dan antropologi. Dari pendekatan dan analisa kritis tentang perkembangan ekonomi, maka harus didekati dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dimaksud, seperti ekonomi pembangunan, sosiologi pembangunan, pembangunan politik, teknologi pembangunan, administrasi pembanguan dan sebagainya.&lt;br /&gt;Sebagai suatu proses, pembangunan nasional adalah merupakan rangkaian perubahan majemuk dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Di Indonesia sendiri, kelihatannya pembangunan ekonomi sangat tergantung dengan kestabilan politik. Hubungan antara ekonomi dan politik sangat dekat dan sangat sulit dipisahkan, bahkan saling inter-dependen yang sangat kuat sekali. Kalau diperhatikan dengan seksama, maka etika pembangunan tidak dapat dipisahkan dari etika ekonomi dan etika politik. Untuk pembangunan ekonomi biasanya syarat-syarat sosial politik sudah terpenuhi terlebih dahulu. Ke duanya dapat dijalankan secara simultan, apabila suatu bangsa sudah mencapai tingkat kematangan tertentu dalam bidang sosial dan politik. Dua frase ini sangat penting proses suatu pembangunan, yaitu: “konsolidisasi politik” dan “rekonsiliasi ekonomi”. Yang dimaksudkan dengan “konsolidasi politik” adalah kebersamaan semua komponen politik, dengan menghargai perbedaan dan kesamaan mereka masing-masing, dan bersama-sama membangun negara Indonesia berdasarkan sistem demokrasi. Dalam hal ini tidak mengenal mayoritas dan minoritas dalam berpolitik. Tujuannya, adalah membangun kesejahteraan masyarakat, dengan tidak memandang SARA. Yang dibangun adalah nasionalisme Indonesia. Sedang “rekonsiliasi eknomi” bertujuan membangun ekonomi rakyat, di atas dasar keadilan ekonomi. Rekonsiliasi ini berdiri di atas kedailan hukum. Pemerintah, LSM-LSM dan Masyarakat Indonesia berusaha secara maksimal untuk menjunjung tinggi supremasi hukum. Kalau hal ini terjadi, maka fondasi pembangunan bangsa telah diletakkan pada tempatnya yang benar. Dengan sendirinya pembanguan bangsa(sociocultural development) akan terwujud di atas dasar pembangunan politik(political development) dan pembangunan ekonmi(economic development). Yang paling ideal adalah pembangunan politik dan ekonomi dijalankan secara simultan. Agar hal ini terjadi maka kedewasaan masyarakat dalam berpikir dan bertindak dimatangkan, melalui hidup yang saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Pendekatan Pembanguan Bangsa (Sociocultural Development) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian pembangunan bangsa agaknya telah mengalami suatu perkembangan penting, baik dalam pengertian maupun ruang lingkup. Dalam ruang lingkup tampak dua aspek permasalahan: (1) mengenai pembangunan politik dan (2) mengenai pembangunan sosial budaya. Masalah kebudayaan sangat penting untuk diperhatikan. Karena budaya telah mengalir dalam hidup masyarakat. Secara antropologis manusia telah dibelenggu oleh adat istiadatnya. Bahkan, kadang-kadang hal tersebut menjadi penghambat proses pembangunan. Sering terjadi konflik antara kebudayaan dan modernisasi. Hal lian yang perlu diperhatikan adalah agama. Agama dan kebudayaan sering kali telah lebur dalam kehidupan manusia. Sehingga sangat membedakan mana yang agama dan mana yang kebudayaan. Karena eratnya hubungan pemabnguan politik dan kebudayaan, maka berkembanglah aliran pemikiran dalam ilmu politik yang disebut sebagai Kebudayaan Politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(1)    Pembangunan Politik(Political Development)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kestabilan politik yang dinamis antara lain diukur dengan terciptanya suatu pemerintahan yang kuat, luasnya penyertaan masyarakat di dalam proses pembangunan, dan hasil yang dicapai oleh pemerintah atas dukungan dan partisipasi masyarkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;(2) Pembangunan Sosial Budaya(Socio-cultural Development)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dalam mengusahakan pembangunan sosial budaya, agaknya terdapat suatu kesepakatan bahwa bidang pendidikan merupakan suatu titik strategis bagi penyelenggaraan pembangunan sosial itu. Walaupun modernisasi bukanlah suatu pengertian yang jelas namun suatu tema terdapat dalam setiap interpretasi tersebut: modernisasi hanya dapat dicapai dengan memperbarui dan meluaskan pendidikan. Sebab itu perbaikan sistem pendidikan yang akan melahirkan sikap dan pemikiran-pemikiran kreatif bagi kemajuan kebudayaan dan peradaban dapat dipandang sebgai langkah strategis awal dari pembangunan. Dengan demikian, tujuan pertumbuhan ekonomi memang hanya merupakan salah satu dimensi saja bagi perspektif pembangunan sosial budaya suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Pendekatan Pembangunan Ekonomi (Economic Development)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permikiran perkembangan teori pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Dasar aliran ini adalah individualisme. Setiap produsen dan konsumen meredeka bertindak, pembentukan harga didasarkan kepada hukum permintaan dan penawaran di pasar, menjadi dasar pengambilan keputusan. Harga yang terbentuk atas dasar mekanisme pasar tersebut, dengan sendirinya akan mempengaruhi “produksi, alokasi, pendapatan dan konsumsi”. Mekanisme pembentukan harga akan membawa segala hubungan ekonomi secara otomatis ke jurusan persesuaian kepada keadaan seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;STUDI TENTANG PERUBAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Mempelajari sejarah studi tentang perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.   Mendiskusikan sifat tentang pendidikan perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.   Mempresentasikan sebuah variasi struktur berpikir tentang perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.   Menjelaskan tiga prespektif rencana perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Menghubungkan beberapa aspek tentang proses perubahan kepada bukti2 dari perubahan yang direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perubahan-perubahan di dalam struktur dan organisasi dalam sekolah; contoh: perubahan jadual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  Dan formasi dari group pekerja yang baru;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-  Materi tambahan atau yang baru; contoh: buku-buku atau lembaran kuliah;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Guru-guru diminta menambah pengetahuan baru; contoh: bekerja melalui tehnik memberi informasi;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Guru-guru mengadopsi sikap baru dalam cara mengajar; contoh: penggunaan cara-cara non-didaktik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Perubahan-perubahan dalam keyakinan-keyakinan atau nilai-nilai dalam kehidupan para guru;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;+ Perubahan teknik-teknik mengajar;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Yang berkaitan dengan perubahan Metode Tujuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Riset Mendapatkanpengetahuan yang lebih tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Penemuan Membuat/menciptakan sesuatu yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Desain Mesistimatikankomponen untuk sesuatu yang baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Penyebaran Memberi informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Demonstrasi Membangun keyakinan(meyakinkan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Percobaan Memberikan test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Pelantikan/pemasangan Mengoperasionalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Pelembagaan Menetapkankesatuan sistem dari beberapa komponen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+ Proses dari Perubahan dan Penemuan Bukti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Perubahan berlangsung secara terus menerus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.    Perubahan menyebabkan kegelisahan dan ketidakpastian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.    Dukungan teknik dan psikologi sangat diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Belajar ketrampilan yang baru merupakan suatu perkembangan dan kenaikan nilai-nilai sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.   Hubungan antara organisasi pendidikan dan seseorang yang menjadi agen pembaharu akan dapat dirasakan setelah terbukti melalui proses perubahan. Setiap orang harus siap menjadi agen pembaharuan untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.   Perubahan yang membawa keberhasilan selalu melalui dorongan dan dukungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hal-hal yang harus diperhatikan bagi agen pembaharu atau pembangunan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.     Perubahan/pembaruan/pembangunan akan terjadi secara terus menerus. Perubahan yang effektif selalu membutuhkan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mencakup multi perspektif. Berusaha menggabungkan bermacam-macam perspektif yang berbeda. Mancari nilai-nilai yang sama dan yang berbeda, untuk mencari pertimbangan yang objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menyadari tentang proses perubahan yang sedang terjadi. Mencari dan menemukan intisari dari perubahan yang sedang terjadi, dan bagaimana memberikan respon terhadapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.    Perkirakan tentang arus balik/perlawanan balik. Konflik dan tidak sependapat adalah merupakan sesuatu yang wajar, dan hal itu tidak akan dapat dihindarkan. Konflik dan ketidaksesuaian adalah merupakan tanda dari perubahan yang terencana dan sukses. Konflik adalah sesuatu yang normal dan kita harus berani belajar melalui konflik. Konflik dan ketidaksesuaian adalah merupakan sarana pendewasaan diri. Maka secara filosofis dapat dikatakan bahwa konflik merupakan sarana emansipasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Dosen dan Perguruan Tinggi sebagai investasi dari perubahan dan pembaruan. Semua pembangunan/perubahan yang berhasil menuntut tanggapan pribadi. Seringkali seseorang yang mengalami perubahan selalu merasakan ancaman pribadi dan kebingungan. Namun akan merasakan indahnya perubahan setelah mengalami pahitnya proses perubahan. Yang diperlukan adalah menatalayani atau mengatur perubahan melalui sikap yang objektif. Karena hidup ini selalu identik dengan perubahan. Perubahan merupakan bagian dari hidup, perlu diterima dengan syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber diambil dari&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="color: rgb(255, 153, 0); font-weight: bold; font-style: italic;" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-weight: bold; font-style: italic;font-size:100%;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;sttcipanas.ac.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-2525418215494330513?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/2525418215494330513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/proses-pembangunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2525418215494330513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2525418215494330513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/proses-pembangunan.html' title='PROSES PEMBANGUNAN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-5021286508020722484</id><published>2009-10-27T17:06:00.001+07:00</published><updated>2009-10-27T17:26:33.035+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>MODEL-MODEL PEMBANGUNAN - ROSTOW</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah teori linear pembangunan Rostow . Ekonomi dapat dibagi menjadi primer sekunder dan sektor tersier. Sejarah negara-negara maju menunjukkan pola umum perubahan struktural:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 1 : Tradisional Masyarakat &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dicirikan oleh aktivitas ekonomi subsisten yakni output dikonsumsi oleh produsen bukan diperdagangkan, tetapi dikonsumsi oleh mereka yang memproduksinya; perdagangan dengan barter di mana barang-barang yang dipertukarkan mereka 'bertukar'; Pertanian adalah yang paling penting dan produksi industri padat karya, menggunakan jumlah terbatas modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 2 :  Tahap Transisi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surplus perdagangan muncul didukung oleh infrastruktur transportasi yang muncul. Tabungan dan investasi tumbuh. Pengusaha muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 3 :  Take Off &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industrialisasi meningkat, dengan pengalihan pekerja membentuk tanah untuk manufaktur. Pertumbuhan terkonsentrasi di beberapa daerah di negara dan dalam satu atau dua industri. Baru politik dan lembaga-lembaga sosial yang berevolusi untuk mendukung industrialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 4 : Drive untuk Kedewasaan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan sekarang beragam didukung oleh inovasi teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tahap 5  : Massa Konsumsi Tinggi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Implikasi dari teori Rostow &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan memerlukan investasi yang besar dalam peralatan modal; untuk mendorong pertumbuhan di negara-negara berkembang kondisi yang tepat untuk investasi tersebut harus dibuat yaitu kebutuhan ekonomi telah mencapai tahap 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Untuk Rostow &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;o Tabungan dan pembentukan modal (akumulasi) adalah pusat untuk proses pertumbuhan pembangunan maka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o  Kunci pembangunan adalah untuk memobilisasi tabungan untuk menghasilkan investasi untuk mengatur diri di kereta api menghasilkan pertumbuhan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;o     Pembangunan dapat kios di tahap 3 untuk kurangnya tabungan - 15-20% dari PDB diperlukan.  If S = 5% then aid/loan = 10-15% plugs 'savings gap'. Jika S = 5% maka bantuan / pinjaman = 10-15% plugs 'kesenjangan tabungan'. Resultan investasi berarti pindah ke tahap 4 Drive ke Kedewasaan dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keterbatasan Model  Rostow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Determinan suatu negara tahap pembangunan ekonomi biasanya dilihat dalam pengertian yang lebih luas yaitu tergantung pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o kualitas dan kuantitas sumber daya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o suatu negara teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o sebuah struktur kelembagaan negara hukum misalnya kontrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rostow menjelaskan pengalaman perkembangan negara-negara Barat, baik. However. Namun, Rostow tidak menjelaskan pengalaman negara-negara dengan berbagai budaya dan tradisi negara-negara Sub-Sahara misalnya yang telah mengalami perkembangan ekonomi kecil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-5021286508020722484?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/5021286508020722484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/model-model-pembangunan-rostow.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5021286508020722484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5021286508020722484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/model-model-pembangunan-rostow.html' title='MODEL-MODEL PEMBANGUNAN - ROSTOW'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-3427492025904725600</id><published>2009-10-16T21:00:00.002+07:00</published><updated>2009-10-16T21:04:55.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>KEKERASAN DAN KONFLIK MASSA DALAM ANALISIS SOSIOLOGI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara alamiah, manusia memang memiliki naluri untuk hidup bersama-sama dengan manusia lainnya. Dorongan mendasar yang melahirkan naluri untuk hidup bersama-sama itu adalah karena manusia harus memenuhi sebagian besar kebutuhan hidupnya yang sangat tidak mungkin akan dipenuhi, ketika manusia tidak hidup berkelompok. Sosiologi kemudian mengidentifikasi manusia yang berkelompok untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu dan dorongan pemecahan kebutuhan hidup yang asasi itu sebagai masyarakat. Meskipun begitu, menyebut masyarakat bukan tidak mengandung problematika. Menyebut masyarakat, setidaknya ada dua asumsi yang muncul. Asumsi pertama adalah sebuah komunitas yang terdiri dari orang-orang atau individu-individu. Karena sangat tidak mungkin akan terbentuk sebuah masyarakat ketika tidak ada orang-orang atau individu-individu. Tanpa sejumlah orang tertentu yang dapat disebut sebagai masyarakat, beberapa keluarga mungkin akan menjadi jumlah minimal yang dapat dianggap setiap orang sebagai jumlah yang mencukupi untuk membentuk sebuah masyarakat kecil.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekumpulan orang saja tanpa memenuhi persyaratan tertentu tidak bisa disebut sebagai masyarakat. Untuk memenuhi syarat sebagai sebuah masyarakat, para individu harus berinteraksi dengan cara tertentu. Ketika orang tidak bisa berkomunikasi satu sama lain, atau ketika sekelompok orang selalu terlibat dalam pertempuran yang agresif dan tiada henti, sehingga interaksi yang mereka lakukan tidak lagi bersifat sosial, maka sebesar apapun individu yang berkelompok itu tidak dapat disebut sebagai masyarakat.[2] Karena satu syarat mutlak yang mesti ada dalam sebuah masyarakat adalah hubungan sosial yang didefinisikan sebagai interaksi-interaksi yang bersifat teratur dan mencakup kesadaran timbal balik dan komunikasi simbolis. Singkat kata, menurut Hobbes, masyarakat adalah seperangkat cara bertingkah laku yang saling terkait yang sebelumnya telah ada, yang menyatu ke dalam tingkah laku dan psikologi manusia individual dan mengontrol semua masyarakat yang khas dan bersifat manusiawi dalam diri mereka. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asumsi kedua adalah dalam sekelompok masyarakat yang terdiri atas orang-orang itu, dengan sendirinya merupakan susunan atau kumpulan dari sejumlah kepentingan, identitas dan dorongan yang berbeda. Idealnya, interaksi sosial di antara kepentingan, identitas dan dorongan yang berbeda itu akan melahirkan ketergantungan di antara masing-masing kelompok dalam masyarakat, sehingga, teoretis, sikap saling ketergantungan itu akan melahirkan harmoni. Tetapi, dalam kondisi semacam ini, harmoni justru seringkali susah dicapai. Kendala utamanya adalah ketika identitas, kepentingan dan dorongan yang berbeda itu bergesek satu sama lain untuk mendapat wilayah pengakuannya di tengah masyarakat. Ketika perang kepentingan itu terjadi, maka hampir dapat dipastikan bahwa konflik akan segera pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Benih-benih Konflik &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Para penganut teori fungsionalisme struktural menyakini bahwa faktor-faktor yang memicu konflik umumnya lahir di luar komponen masyarakat, karena masyarakat sebagai sebuah sistem sosial memiliki kecenderungan untuk mencapai stabilitas atau equilibrium yang dibangun di atas konsensus anggota masyarakat akan nilai-nilai umum tertentu.[4] Akibatnya, para penganut teori ini cenderung apologetik dalam melihat dinamika internal dalam masyarakat. Apologi itu bisa diidentifikasi dalam beberapa pengabaian kelompok fungsionalis struktural terhadap sejumlah kondisi sosial, yaitu: (a) setiap struktur sosial, di dalam dirinya sendiri mengandung konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi yang bersifat internal, yang pada gilirannya justru akan menjadi sumber bagi terjadinya perubahan-perubahan sosial; (b) reaksi suatu sistem sosial terhadap perubahan dari luar (extra-system change) tidak selalu bersifat adjustive (penyesuaian); (c) suatu sistem sosial, dalam waktu yang panjang dapat juga mengalami konflik-konflik sosial yang bersifat vicious circle; (d) perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara gradual melalui penyesuaian-penyesuaian yang lunak (soft adjustive), akan tetapi dapat juga terjadi secara revolusioner.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengabaian ini secara kontras berhadap-hadapan dengan teori konflik Marxian yang meyakini masyarakat manusia sebagai proses perkembangan yang akan meyudahi konflik dengan konflik. Paradigma konfliktual Marx dalam memandang masyarakat manusia ini didasarkan pada pembagian kelas yang secara intrinsik merupakan ‘’legitimasi’’ atas terjadinya konflik sosial. Bahkan Marx mengidentifikasi pertentangan di antara kelas-kelas sosial dalam masyarakat itu sebagai engine bagi terjadinya perubahan sosial (social change).[6] Kelas sosial oleh Marx didefinisikan sebagai pemilikan terhadap barang-barang (property). Pemilikian semacam inilah yang mendorong seseorang dengan kekuatannya untuk mengeluarkan orang lain dari kepemilikan dan menggunakan kepemilikannya itu untuk tujuan-tujuan pribadi. Berkaitan dengan pemilikan, ada tiga kelas sosial besar dalam masyarakat yang diintrodusir oleh Marx, yaitu: Kelas Borjuis (yang menguasai sarana produksi dan sumber pendapatannya berasal dari laba); Kelas Pemilik Tanah (Landowners), yang berpenghasilan dari sewa dan Kelas Proletar atau buruh yang hanya memiliki tenaga (labor) dan menjual tenaganya itu untuk mendapatkan upah. Kelas sosial, bagi Marx, dibedakan oleh oleh pemilikan sumber dan sarana-saran produksi dan bukan oleh pendapatan atau status. Hubungan antara kelas borjuis sebagai pemilik modal dan sarana-sarana produksi dan kelas buruh bersifat sangat eksploitatif. Pemerasan tenaga buruh yang tidak diimbangi dengan perhatian terhadap kesejahteraan mereka menyebabkan terjadinya pemiskinan massal. Tapi, eksploitasi besar-besaran terhadap buruh itu pada gilirannya akan melahirkan proses over production (produksi yang berlebih) yang tidak seimbang dengan daya beli masyarakat. Pada saat itulah masyarakat kapitalis akan runtuh. Keruntuhan kelas pemilik modal, secara simultan akan diikuti dengan bangkitnya kelas proletar untuk merebut faktor-faktor produksi sebagai jalan untuk melakukan perubahan ekonomi besar-besaran. Klimaksnya, terjadilah suatu masa yang oleh Marx disebut sebagai revolusi sosialis.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimanakah dengan kondisi masyarakat dunia kontemporer saat ini pasca ramalan Marx tersebut? Ternyata dalam banyak hal revolusi sosialis yang diyakini oleh Marx akan terjadi itu tidak pernah terwujud. Bahkan yang muncul ke permukaan adalah bangkrutnya ideologi sosialisme yang seolah-olah tidak berdaya di hadapan hegemoni ideologi kapitalisme. Berbarengan dengan bangkrutnya sosialisme di berbagai belahan dunia, lahir pula sejumlah paradoks yang secara universal terjadi di beberapa belahan dunia. Di satu sisi, kita menyaksikan adanya upaya-upaya maupun proses penyatuan, standarisasi, bahkan unifikasi dan uniformasasi dan sekaligus sentralisasi pada level global aspek-aspek budaya, sosial, ekonomi dan politik. Berbagai satuan ekonomi dan politik yang dulu diandaikan sebagai ‘’batas-batas absah’’ dari sebuah negara bangsa dan batas-batas imajiner dari kekuasaan nasionalisme[8] kini telah runtuh oleh satu gelombang besar baru yang bernama globalisasi. Di tengah upaya itu, berbagai fenomena upaya pemisahan diri dari berbagai wilayah dari negara kesatuan justru menampakkan eskalasinya. Keinginan untuk melepaskan diri dari wilayah kesatuan ini, ada kalanya muncul sebagai akibat dari ketidakpuasan (dissatisfaction) terhadap pemerintahan pusat yang dianggap diskriminatif dalam mendistribusikan hak-hak politik dan ekonomi mereka. Tetapi pada saat yang lain, fenomena disintegrasi itu merupakan refleksi dari pertarungan kepentingan yang saling berlawanan antara satu kelompok kepentingan dengan kelompok kepentingan lainnya, sehingga mereka selalu berada dalam situasi konflik. Lebih khusus, konflik itu lahir sebagai akibat dari terbatasnya distribusi otoritas dalam masyarakat.[9] Konsekwensinya, bertambahnya otoritas satu pihak, berarti berkurangnya otoritas pihak yang lain. Jika kontradiksi kepentingan itu tidak bisa dikendalikan, maka konflik kepentingan itu akan berwujud ke dalam kekerasan (violence).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dinamika Konflik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di banyak negara Dunia Ketiga yang tengah mengalami masa transisi demokrasi, kekerasan massa umumnya menjadi fenomena yang lazim ditemui. Sangat bisa difahami bahwa peralihan dari pemerintahan otoritarian kepada pemerintahan demokrasi dalam banyak kasus, tidak hanya mengakibatkan munculnya pscychological shock tetapi juga culture shock. Dalam kondisi semacam ini masing-masing pihak mengklaim sebagai komunitas yang paling berhak terhadap akses sumber-sumber negara. Lagi-lagi, di sinilah kepentingan yang saling kontradiktif itu kembali terjadi. Klaim sebagai pihak yang paling otoritatif terhadap sumber-sumber negara dan wilayah publik itu diperparah dengan pemahaman tentang kebebasan baru yang sangat sepihak dan subyektif. Sehingga apa yang oleh satu kelompok dianggap sebagai satu kebebasan, oleh kelompok lain justru dianggap sebagai ‘’ancaman.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih khusus lagi, wilayah-wilayah sosial yang rawan konflik itu adalah wilayah agama, kepentingan dan identitas primordial. Atau tidak jarang, kombinasi dari ketiganya merupakan faktor yang memicu lahirnya konflik dan kekerasan sosial. Tetapi para pengamat membagi tingkat sensitivitas wilayah itu secara sederhana. Bahwa yang paling rawan konflik adalah wilayah agama dan etnis. Dalam sosiologi konflik seringkali disebutkan bahwa sepanjang pertentangan yang terjadi itu menyangkut kepentingan (interest) masih sangat mungkin dicarikan jalan keluarnya. Tetapi ketika menyangkut identitas, baik agama maupun etnisitas, pemecahannya menjadi sangat sulit dilakukan. Berbagai aksi kerusuhan massa yang melibatkan berbagai suku di tanah air akhir-akhir ini, tampil sebagai contoh yang cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun perbedaan etnis tidak harus selalu dimaknai sebagai jalan bagi munculnya open conflict, tetapi fakta membuktikan bahwa konflik etnis adalah model konflik yang paling sering terjadi. Dede Oetomo menengarai hal ini sebagai akibat dari simplifikasi yang ketat terhadap identitas primordial.[10] Di samping itu, hidup dalam perbedaan etnis mengandung pengertian bahwa orang lain (others) tidak hanya sulit diatur, tetapi mereka seringkali menyebabkan kekerasan, menciptakan instabilitas yang luas bahkan mendorong penghilangan nyawa.[11] Meskipun konflik etnis lahir secara spontan dan sporadis, namun menyelesaikannya memerlukan kebijakan politik. United Nation Research Institution for Social Development (Unrisd), dalam sebuah publikasi hasil penelitiannya membagi konflik etnis ke dalam empat kategori atau kombinasi darinya, yaitu: Gerakan Separatis, Perlawanan Penduduk Pribumi, Perebutan terhadap Sumber-sumber Negara dan Hak-hak Minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gerakan Separatis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konflik etnis dalam wujud gerakan separatis dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk: pemisahan diri dari wilayah negara dan otonomi internal. Apa yang menentukan pilihan suatu kelompok tidak selalu jelas. Seperti kasus Sudan People’s Liberation Army (SPLA) dan Liberation Tiger of Tamil Eelam (LTTE). Penduduk Sudan Selatan dan Kelompok Tamil di Sri Lanka menghadapi tipe diskriminasi yang serupa dari kelompok dominan di kedua negara itu. Arab di Sudan dan Sinhala di Sri Lanka. Penduduk Sudan Selatan berjuang melawan Arabisasi, Islamisasi, kontrol yang terlalu ketat pada tanah dan sumber-sumber kekayaan alam dan diskriminasi pada sektor-sektor publik. Gerakan Pembebasan Macan Tamil Eelam juga meraskan peperangan yang sangat getir melawan pemaksaan penggunaan bahasa Sinhala sebagai bahasa resmi di Sri Lanka, pengangkatan Budha sebagai agama resmi negara dan diskriminasi kesempatan belajar, alokasi pekerjaan serta pengangkatan pemerintahan. Menghadapi keadaan-keadaan ini, SPLA berjuang untuk mendapatkan otonomi dan reformasi dari negara pusat dan tidak memilih pemisahan diri. Sementara LTTE, di sisi lain, tidak menaruh kompromi pada tuntutannya untuk memisahkan diri dari negara pusat dan mendirikan negara Tamil. Syarat utama gerakan separatisme adalah adanya wilayah yang oleh kelompok yang dirugikan dapat diklaim sebagai miliknya dan dapat dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh partikular adanya gejolak di beberapa negara kita untuk memisahkan diri dari pemerintahan yang syah, dalam beberapa hal mengikuti pola ini. Dominasi pemerintahan pusat atau suku Jawa dalam mengakses aset-aset politik, ekonomi dan sektor-sektor publik lainnya menjadi trigger factor lahirnya gerakan separatis dalam satu negara kesatuan. Dalam konteks inilah, barangkali benar analisa sejarah yang dilontarkan oleh Lombard bahwa ‘’Jawa’’ adalah ‘’inti dari ruang geopolitik’’ dari bangunan negara bangsa yang saat ini kita kenal sebagai bangsa Indonesia.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Tom Campbell, Tujuh Teori Sosial,&lt;br /&gt;[2] J. Nasikun, Sistem Sosial Indonesia,&lt;br /&gt;[3] Campbell, op. cit.&lt;br /&gt;[4] Nasikun, op. cit. h. 14&lt;br /&gt;[5] Nasikun, ibid.&lt;br /&gt;[6] Rummel, 1977&lt;br /&gt;[7] Kuntowijoyo, Paradigma Islam, h. 294.&lt;br /&gt;[8] Cornelis Lay, Pengantar dalam Nasionalisme Etnisitas&lt;br /&gt;[9] Nasikun, op. cit.&lt;br /&gt;[10] Dede Oetomo, Nasionalisme Etnisitas,&lt;br /&gt;[11] Unrisd, The Search for Identity,&lt;br /&gt;[12] PM Laksono, Nasionalisme Etnisitas, h. 3-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber  diambil dari  &lt;span style="color: rgb(255, 153, 0); font-weight: bold;"&gt;kuttubaco.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-3427492025904725600?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/3427492025904725600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/kekerasan-dan-konflik-massa-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3427492025904725600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3427492025904725600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/kekerasan-dan-konflik-massa-dalam.html' title='KEKERASAN DAN KONFLIK MASSA DALAM ANALISIS SOSIOLOGI'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-590692152529449564</id><published>2009-10-13T06:22:00.005+07:00</published><updated>2009-10-13T06:55:54.096+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>MODERNISASI DAN PEMBANGUNAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan merupakan bentuk perubahan sosial yang terarah dan terncana melalui berbagai macam kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Bangsa Indonesia seperti termaktub dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 telah mencantumkan tujuan pembangunan nasionalnya. Kesejahteraan masyarakat adalah suatu keadaan yang selalu menjadi cita-cita seluruh bangsa di dunia ini. Berbagai teori tentang pembangunan telah banyak dikeluarkan oleh ahli-ahli sosial barat, salah satunya yang juga dianut oleh Bangsa Indonesia dalam program pembangunannya adalah teori modernisasi. Modernisasi merupakan tanggapan ilmuan sosial barat terhadap tantangan yang dihadapi oleh negara dunia kedua setelah berakhirnya Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi menjadi sebuah model pembangunan yang berkembang dengan pesat seiring keberhasilan negara dunia kedua. Negara dunia ketiga juga tidak luput oleh sentuhan modernisasi ala barat tersebut. berbagai program bantuan dari negara maju untuk negara dunia berkembang dengan mengatasnamakan sosial dan kemanusiaan semakin meningkat jumlahnya. Namun demikian kegagalan pembangunan ala modernisasi di negara dunia ketiga menjadi sebuah pertanyaan serius untuk dijawab. Beberapa ilmuan sosial dengan gencar menyerang modernisasi atas kegagalannya ini. Modernisasi dianggap tidak ubahnya sebagai bentuk kolonialisme gaya baru, bahkan Dube (1988) menyebutnya seolah musang berbulu domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Modernisasi; Konsep Awal Spencer, Optimisme Schoorl dan Pesimisme Dube&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Herbert Spencer (1820-1903), sangat dipengaruhi oleh ahli biologi pencetus ide evolusi sebagai proses seleksi alam, Charles Darwin, dengan menunjukkan bahwa perubahan sosial juga adalah proses seleksi. Masyarakat berkembang dengan paradigma Darwinian: ada proses seleksi di dalam masyarakat kita atas individu-individunya. Spencer menganalogikan masyarakat sebagai layaknya perkembangan mahkluk hidup. Manusia dan masyarakat termasuk didalamnya kebudayaan mengalami perkembangan secara bertahap. Mula-mula berasal dari bentuk yang sederhana kemudian berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks menuju tahap akhir yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Spencer, suatu organisme akan bertambah sempurna apabila bertambah kompleks dan terjadi diferensiasi antar organ-organnya. Kesempurnaan organisme dicirikan oleh kompleksitas, differensiasi dan integrasi. Perkembangan masyarakat pada dasarnya berarti pertambahan diferensiasi dan integrasi, pembagian kerja dan perubahan dari keadaan homogen menjadi heterogen. Spencer berusaha meyakinkan bahwa masyarakat tanpa diferensiasi pada tahap pra industri secara intern justru tidak stabil yang disebabkan oleh pertentangan di antara mereka sendiri. Pada masyarakat industri yang telah terdiferensiasi dengan mantap akan terjadi suatu stabilitas menuju kehidupan yang damai. Masyarakat industri ditandai dengan meningkatnya perlindungan atas hak individu, berkurangnya kekuasaan pemerintah, berakhirnya peperangan antar negara, terhapusnya batas-batas negara dan terwujudnya masyarakat global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Spencer dapat dikatakan sebagai dasar dalam teori modernisasi, walaupun Webster (1984) tidak memasukkan nama Spencer sebagai dasar pemikiran teori modernisasi. Teorinya tentang evolusi masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat industri yang harus dilalui melalui perubahan struktur dan fungsi serta kompleksitas organisasi senada dengan asumsi dasar konsep modernisasi yang disampaikan oleh Schoorl (1980) dan Dube (1988). Asumsi modernisasi yang disampaikan oleh Schoorl melihat modernisasi sebagai suatu proses transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Dibidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri dengan pertumbuhan ekonomi sebagai akses utama. Berhubung dengan perkembangan ekonomi, sebagian penduduk tempat tinggalnya tergeser ke lingkungan kota-kota. Masyarakat modern telah tumbuh tipe kepribadian tertentu yang dominan. Tipe kepribadian seperti itu menyebabkan orang dapat hidup di dalam dan memelihara masyarakat modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dube berpendapat bahwa terdapat tiga asumsi dasar konsep modernisasi yaitu ketiadaan semangat pembangunan harus dilakukan melalui pemecahan masalah kemanusiaan dan pemenuhan standart kehidupan yang layak, modernisasi membutuhkan usaha keras dari individu dan kerjasama dalam kelompok, kemampuan kerjasama dalam kelompok sangat dibutuhkan untuk menjalankan organisasi modern yang sangat kompleks dan organisasi kompleks membutuhkan perubahan kepribadian (sikap mental) serta perubahan pada struktur sosial dan tata nilai. Kedua asumsi tersebut apabila disandingkan dengan pemikiran Spencer tentang proses evolusi sosial pada kelompok masyarakat, terdapat kesamaan. Tujuan akhir dari modernisasi menurut Schoorl dan Dube adalah terwujudnya masyarakat modern yang dicirikan oleh kompleksitas organisasi serta perubahan fungsi dan struktur masyarakat. Secara lebih jelas Schoorl menyajikan proses petumbuhan struktur sosial yang dimulai dari proses perbesaran skala melalui integrasi. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan diferensiasi hingga pembentukan stratifikasi dan hirarki.&lt;br /&gt;Ciri manusia modern menurut Dube ditentukan oleh struktur, institusi, sikap dan perubahan nilai pada pribadi, sosial dan budaya. Masyarakat modern mampu menerima dan menghasilkan inovasi baru, membangun kekuatan bersama serta meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan masalah. Oleh karenanya modernisasi sangat memerlukan hubungan yang selaras antara kepribadian dan sistem sosial budaya. Sifat terpenting dari modernisasi adalah rasionalitas. Kemampuan berpikir secara rasional sangat dituntut dalam proses modernisasi. Kemampuan berpikir secara rasional menjadi sangat penting dalam menjelaskan berbagai gejala sosial yang ada. Masyarakat modern tidak mengenal lagi penjelasan yang irasional seperti yang dikenal oleh masyarakat tradisional. Rasionalitas menjadi dasar dan karakter pada hubungan antar individu dan pandangan masyarakat terhadap masa depan yang mereka idam-idamkan. Hal yang sama disampaikan oleh Schoorl, walaupun tidak sebegitu mendetail seperti Dube. Namun demikian terdapat ciri penting yang diungkapkan Schoorl yaitu konsep masyarakat plural yang diidentikkan dengan masyarakat modern. Masyarakat plural merupakan masyarakat yang telah mengalami perubahan struktur dan stratifikasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lerner dalam Dube (1988) menyatakan bahwa kepribadian modern dicirikan oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Empati &lt;/span&gt;: kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mobilitas&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;: kemampuan untuk melakukan “gerak sosial” atau dengan kata lain kemampuan “beradaptasi”. Pada masyarakat modern sangat memungkinkan terdapat perubahan status dan peran atau peran ganda. Sistem stratifikasi yang terbuka sangat memungkinkan individu untuk berpindah status.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Partisipasi&lt;/span&gt; : &lt;/span&gt;Masyarakat modern sangat berbeda dengan masyarakat tradisional yang kurang memperhatikan partisipasi individunya. Pada masyarakat tradisional individu cenderung pasif pada keseluruhan proses sosial, sebaliknya pada masyarakat modern keaktifan individu sangat diperlukan sehingga dapat memunculkan gagasan baru dalam pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang disampaikan oleh Lerner tersebut semakin memperkokoh ciri masyarakat modern Schoorl, yaitu pluralitas dan demokrasi. Perkembangan masyarakat tradisional menuju masyarakat modern baik yang diajukan oleh Schoorl maupun Dube tak ubahnya analogi pertumbuhan biologis mahkluk hidup, suatu analogi yang disampaikan oleh Spencer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schoorl dan Dube yang keduanya sama-sama mengulas masalah modernisasi menunjukkan ada perbedaan pandangan. Schoorl cenderung optimis melihat modernisasi sebagai bentuk teori pembangunan bagi negara dunia ketiga, sebaliknya Dube mengkritik modernisasi dengan mengungkapkan kelemahan-kelemahannya. Schoorl bahkan menawarkan modernisasi di segala bidang sebagai sebuah kewajiban negara berkembang apabila ingin menjadi negara maju, tidak terkecuali modernisasi pedesaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernisasi yang lahir di Barat akan cenderung ke arah Westernisasi, memiliki tekanan yang kuat meskipun unsur-unsur tertentu dalam kebudayaan asli negara ketiga dapat selalu eksis, namun  setidaknya akan muncul ciri kebudayaan barat dalam kebudayaannya (Schoorl, 1988). Schoorl membela modernisasi karena dengan gamblang menyatakan modernisasi lebih baik dari sekedar westernisasi. Dube memberikan pernyataan yang tegas bahkan cenderung memojokkan modernisasi dengan mengungkapkan berbagai kelemahan modernisasi, antara lain keterlibatan negara berkembang diabaikan, konsep persamaan hak dan keadilan sosial tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Lebih lanjut Dube menjelaskan kelemahan modernisasi antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan ilumu pengetahuan dan teknologi pada organisasi modern tidak dapat diikuti oleh semua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tidak adanya indikator sosial pada modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Keterlibatan negara berkembang diabaikan, konsep persamaan hak dan keadilan sosial antara negara maju dan berkembang tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Modernisasi yang mendasarkan pada penggunaan iptek pada organisasi modern tidak dapat diikuti oleh semua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tidak adanya indikator sosial pada modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Keberhasilan negara barat dalam melakukan modernisasi disebabkan oleh kekuasaan kolonial yang mereka miliki sehingga mampu mengeruk SDA dengan mudah dari negara berkembang dengan murah dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan negara barat dalam melakukan modernisasi disebabkan oleh kekuasaan kolonial yang mereka miliki sehingga mampu mengeruk sumberdaya alam dari negara berkembang dengan murah dan mudah. Modernisasi tidak ubahnya seperti kolonialisme gaya baru dan engara maju diibaratkan sebagai musang berbulu domba oleh Dube. Dube selain mengkritik modernisasi juga memberikan berbagai masukan untuk memperbaiki modernisasi. Pendekatan-pendekatan yang digunakan lebih “memanusiakan manusia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kegagalan Modernisasi; Kajian Empirik Dove dan Sajogyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia selama ini juga tidak lepas dari pendekatan modernisasi. Asumsi modernisasi sebagai jalan satu-satunya dalam pembangunan menyebabkan beberapa permasalahan baru yang hingga kini menjadi masalah krusial Bangsa Indonesia. Penelitian tentang modernisasi di Indonesia yang dilakukan oleh Sajogyo (1982) dan Dove (1988). Kedua hasil penelitian mengupas dampak modernisasi di beberapa wilayah Indonesia. Hasil penelitian keduanya menunjukkan dampak negatif modernisasi di daerah pedesaan. Dove mengulas lebih jauh kegagalan modernisasi sebagai akibat benturan dua budaya yang berbeda dan adanya kecenderungan penghilangan kebudayaan lokal dengan nilai budaya baru. Budaya baru yang masuk bersama dengan modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dove dalam penelitiannya di membagi dampak modernisasi menjadi empat aspek yaitu ideologi, ekonomi, ekologi dan hubungan sosial. Aspek ideologi sebagai kegagalan modernisasi mengambil contoh di daerah Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah. Penelitian Dove menunjukkan bahwa modernisasi yang terjadi pada Suku Wana telah mengakibatkan tergusurnya agama lokal yang telah mereka anut sejak lama dan digantikan oleh agama baru. Modernisasi seolah menjadi sebuah kekuatan dahsyat yang mampu membelenggu kebebasan asasi manusia termasuk di dalamnya kebebasan beragama. Pengetahuan lokal masyarakat juga menjadi sebuah komoditas jajahan bagi modernisasi. Pengetahuan lokal yang sebelumnya dapat menyelesaikan permasalahan masyarakat harus serta merta digantikan oleh pengetahuan baru yang dianggap lebih superior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajogyo membahas proses modernisasi di Jawa yang menyebabkan perubahan budaya masyarakat. Masyarakat Jawa dengan tipe ekologi sawah selama ini dikenal dengan “budaya padi” menjadi “budaya tebu”. Perubahan budaya ini menyebabkan perubahan pola pembagian kerja pria dan wanita. Munsulnya konsep sewa lahan serta batas kepemilikan lahan minimal yang identik dengan kemiskinan menjadi berubah. Pola perkebunan tebu yang membutuhkan modal lebih besar dibandingkan padi menyebabkan petani menjadi tidak merdeka dalam mengusahakan lahannya. Pola hubungan antara petani dan pabrik gula cenderung lebih menggambarkan eksploitasi petani sehingga semakin memarjinalkan petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup; Modernisasi, Masih Bisakah Dipertahankan ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai ulasan tentang modernisasi yang telah disajikan di depan membawa kita pada pertanyaan akhir yang layak untuk didiskusikan. Modernisasi masih bisakah dipertahankan sebagai perspektif pembangunan bangsa kita. Modernisasi tentu harus kita oleh lebih jauh lagi dan tidak menerimanya sebagai teori Tuhan yang berharga mati. Perbaikan-perbaikan konsep modernisasi yang diselaraskan dengan budaya serta pengetahuan lokal masyarakat akan menjadi sebuah konsep pembangunan yang berwawasan lingkungan dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;DAFTAR RUJUKAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dove, Michael R (ed). 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia dalam Modernisasi. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dube, S.C. 1988. Modernization and Development: The Search for Alternative Paradigms.  Zed Books Ltd, London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajogyo. 1982. Modernization Without Development.  The Journal of Social Studies. Bacca, Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schoorl, J.W. 1980. Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Sedang Berkembang. PT. Gramedia, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spencer, Herbert.1963. ‘The Evolution of Societies’. Pp 9-13 in Etzioni, A. &amp;amp; Halevy, Eva Etzioni- (eds). Social Changes: Sources, Patterns and Consequences.  Basic Books, New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan diambil dari &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; learning-of.slametwidodo.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-590692152529449564?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/590692152529449564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/modernisasi-dan-pembangunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/590692152529449564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/590692152529449564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/modernisasi-dan-pembangunan.html' title='MODERNISASI DAN PEMBANGUNAN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-5025454545555011113</id><published>2009-10-07T19:26:00.004+07:00</published><updated>2009-10-07T21:10:47.386+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal - Soal'/><title type='text'>TUGAS SOSIOLOGI PEMBANGUNAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk memperdalam pemahaman materi-materi yang telah diberikan , kerjakanlah tugas-tugas  berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cobalah analisis dengan menggunakan teori ketergantungan politik luar negeri Indonesia    dan negara-negara berkembang dengan politik negara-negara maju.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;2. Jelaskan pengaruh teori fungsionalisme terhadap toeri modernisasi dan pembangunan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apa yang dimaksud dengan Neoliberalisme, Kapitalisme dalam perekonomian Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Buatkan model pembangunan masyarakat pedesaan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jelaskan yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;- Teori pertumbuhan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adam Smith&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Teori Pembangunan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karl Marx&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Teori Pertumbuhan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rostow&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Teori Pembangunan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arthur Lewis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Teori Pola  Pembangunan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Chenery&lt;/span&gt;&lt;qtlend&gt;&lt;/qtlend&gt;&lt;qtlend&gt;&lt;/qtlend&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keterangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Jawaban  dikirim melalui email.&lt;br /&gt;2. Email Address : &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;dyahhapsari2@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. Dengan Subjek : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Jawaban Sosiologi Pembangunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. Jawaban diterima paling lambat tanggal &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;14 Oktober 2009 - Pukul 14.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;"&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;SELAMAT MENGERJAKAN&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;qtlbar id="qtlbar" dir="ltr" style="padding: 0pt; display: inline; text-align: left; line-height: 100%; background-color: rgb(236, 236, 236); -moz-border-radius-topleft: 3px; -moz-border-radius-topright: 3px; -moz-border-radius-bottomright: 3px; -moz-border-radius-bottomleft: 3px; cursor: pointer; z-index: 999; left: 282px; top: 404px;"&gt;&lt;img class="qtl" title="Copy selction" src="http://www.qtl.co.il/img/copy.png" /&gt;&lt;iframe id="qtlframe" src="" style="border: 1px solid rgb(236, 236, 236); display: none; background-color: white;"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/qtlbar&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-5025454545555011113?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/5025454545555011113/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/tugas-sosiologi-pembangunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5025454545555011113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5025454545555011113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/tugas-sosiologi-pembangunan.html' title='TUGAS SOSIOLOGI PEMBANGUNAN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-8601872048032954615</id><published>2009-10-03T16:37:00.004+07:00</published><updated>2009-10-03T18:01:11.993+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosiologi Pembangunan'/><title type='text'>Sosiologi Pembangunan: Pengertian, Prinsip-Prinsip dan Aspek-Aspeknya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosiologi pembangunan berkembang pesat sejak awal 1960-an. Sebagai bagian dari ilmu  sosiologi, sosiologi pembangunan sangat dipengaruhi oleh pokok-pokok pikiran ahli sosiologi klasik seperti Marx, Weber dan Durkheim. Perkembangan sosiologi pembangunan semakin pesat seiring dengan gagalnya program pembangunan yang disponsori oleh Amerika Serikat pada negara-negara dunia ketiga. Kegagalan pembangunan dunia ketiga tersebut memicu sebuah tanda tanya besar bagi peneliti sosial untuk mengungkap faktor-faktor penyebabnya. Kelima penulis walaupun menggunakan teori yang berbeda memiliki satu kesepahaman tentang kegagalan pembangunan pada negara dunia ketiga. Sosiologi pembangunan membawa dampak pada lahirnya dimensi-dimensi baru dalam konsep pembangunan. Menurut Webster (1984), terdapat lima dimensi yang perlu untuk diungkap, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Posisi negara miskin dalam hubungan sosial dan ekonominya dengan negara-negara  lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ciri khas atau karakter dari suatu masyarakat yang mempengaruhi pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hubungan antara proses budaya dan ekonomi yang mempengaruhi pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Aspek sejarah dalam proses pembangunan atau perubahan sosial yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Penerapan berbagai teori perubahan sosial yang mempengaruhi kebijakan pembangunan nasional pada negara-negara berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi pembangunan mencoba melengkapi kajian ekonomi yang selama ini hanya didasarkan pada produktivitas dan efisiensi dalam mengukur keberhasilan pembangunan. Pembangunan sebagai sebuah perubahan sosial yang terencana tidak bisa hanya dijelaskan secara kuantitatif dengan pendekatan ekonomi semata, terdapat aspek tersembunyi jauh pada diri masyarakat seperti persepsi, gaya hidup, motivasi dan budaya yang mempengaruhi pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sosiologi pembangunan juga berusaha untuk menjelaskan berbagai dampak baik positif maupun negatif dari pembangunan terhadap sosial budaya masyarakat. Berbagai introduksi baik yang berupa teknologi dan nilai-nilai baru dalam proses pembangunan tentu akan membawa dampak pada bangunan sosial yang sudah ada sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah perkembangan sosiologi pembangunan di Belanda diawali dengan menggunakan pendekatan sosiologi historis. Sosiologi historis menggunakan perspektif pertumbuhan dalam mengungkap permasalahan dengan teori dan konsep sosiologi. Berbagai penelitian yang menggunakan pendekatan historis pada awal perkembangannya menjadikan daerah kolonial sebagai objek kajian. Berberapa penelitian yang mengambil objek kajian di Indonesia menjelaskan tentang berbagai dampak pembangunan seperti lahirnya konsep shared proverty oleh Geertz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan kedua yang muncul setelah pendekatan sosiologi historis adalah ekonomi politik. Aliran ini berangkat dari keterbelakangan yang dialami oleh negara dunia ketiga. Pendekatan ekonomi politik memberikan gambaran tentang secara ekonomi antara negara maju dan negara miskin. Objek penelitian pendekatan ekonomi politik adalah negara dunia ketiga di Amerika Latin. Kelompok yang menggunakan aliran ini kemudian mengembangkan teori dependensi. Sedangkan endekatan yang ketiga adalah sosiologi modernisasi. Aliran ini kemudian berkembang menjadi teori modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan yang keempat adalah tradisi antropologi marxis. Pokok kajian pendekatan ini adalah cara produksi yang dominan di Amerika Latin. Perspektif cara berproduksi tidak dapat menghasilkan pemecahan pada masalah-masalah pembangunan dan kebijaksanaan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan terakhir adalah sosiologi terapan. Pendekatan sosiologi terapan adalah pada kajian pembangunan secara mikro. Para ahli sosiologi terapan berusaha memberikan data praktis tingkat lokal kepada pengambil kebijakan atau pengambil kebijakan. Kelemahan pendekatan ini adalah miskin akan teori serta hasil penelitian yang didapat kurang bisa ditarik menjadi sebuah model yang general.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan tentang dunia ketiga disampaikan oleh Webster (1984), yang mencoba mengulas tentang negara dunia ketiga yang dicirikan sebagai negara miskin yang masih terbelakang dan secara ekonomi masih bertumpu pada pertanian. Tekanan utama dalam membedakan negara-negara di dunia didasarkan pada konsep kesejahteraan yang pada akhirnya terdapat dua kutub yaitu negara kaya dan negara miskin. Tingkat kesejahteraan suatu negara yang hanya didasarkan pada GNP ternyata memiliki beberapa kelemahan antara lain GNP hanya mencerminkan akumulasi pada tingkatan suatu negara dan tidak mencerminkan distribusi sumberdaya antar penduduknya, GNP telah menghilangkan beberapa kegiatan yang memiliki potensi nilai ekonomi, GNP lebih mengutamakan pengukuran secara kuantitatif saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori pembangunan mengerucut pada dua buah teori besar, yaitu teori modernisasi dan teori dependensi. Dua teori ini saling bertolak belakang dan merupakan sebuah pertarungan paradigma hingga saat ini. Teori modernisasi merupakan hasil dari keberhasilan Amerika Serikat dalam membawa pembangunan ekonomi di negara-negara eropa. Sedangkan kegagalan pembangunan di Afrika, Amerika Latin dan Asia menjadi awal lahirnya teori dependensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori Modernisasi berasal dari dua teori dasar yaitu teori pendekatan psikologis dan teori pendekatan budaya. Teori pendekatan psikologis menekankan bahwa pembangunan ekonomi yang gagal pada negara berkembang disebabkan oleh mentalitas masyarakatnya. Menurut teori ini, keberhasilan pambangunan mensyaratkan adanya perubahan sikap mental penduduk negara berkembang. Sedangkan teori pendekatan kebudayaan lebih melihat kegagalan pembangunan pada negara berkembang disebabkan oleh ketidaksiapan tata nilai yang ada dalam masyarakatnya. Secara garis besar teori modernisasi merupakan perpaduan antara sosiologi, psikologi dan ekonomi. Teori dasar yang menjadi landasan teori modernisasi adalah ide Durkheim dan Weber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik terhadap teori modernisasi lahir seiring dengan kegagalan pembangunan di negara dunia ketiga dan berkembang menjadi sebuah teori baru yaitu teori dependensi. Frank (1984) mencoba mengembangkan teori dependensi dan mengemukakan pendapat bahwa keterbelakangan pada negara dunia ketiga justru disebabkan oleh kontak dengan negara maju. Teori dependensi menjadi sebuah perlawanan terhadap teori modernisasi yang menyatakan untuk mencapai tahap kemajuan, sebuah negara berkembang harus meniru teknologi dan budaya negara maju. Frank memberikan kritiknya terhadap pendekatan-pendekatan yang menjadi rujukan teori modernisasi, antara lain pendekatan indeks tipe ideal, pendekatan difusionis dan pendekatan psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori dependensi bertitik tolak dari pemikiran Marx tentang kapitalisme dan konflik kelas. Marx mengungkapkan kegagalan kapitalisme dalam membawa kesejahteraan bagi masyarakat namun sebaliknya membawa kesengsaraan. Penyebab kegagalan kapitalisme adalah penguasaan akses terhadap sumberdaya dan faktor produksi menyebabkan eksploitas terhadap kaum buruh yang tidak memiliki akses. Eksploitasi ini harus dihentikan melalui proses kesadaran kelas dan perjuangan merebut akses sumberdaya dan faktor produksi untuk menuju tatanan masyarakat tanpa kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksploitas juga dialami oleh negara dunia ketiga. Proses eksploitasi yang dilakukan oleh negara maju dapat dijelaskan dalam tiga bagian, yaitu pedagang kapitalis, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Tahap awal yaitu masa pedagang kapitalis. Negara-negara Eropa berusaha berusaha untuk mendapatkan sumberdaya alam yang ada di negara dunia ketiga melalui kegiatan perdagangan. Perdagangan ini berkembang dan pada prakteknya merupakan suatu bentuk eksploitasi terhada sumberdaya negara dunia ketiga. Pemanfaatan tenaga kerja yang murah yaitu sistem perbudakan menjadikan para pedagang kolonial mampu meraup keuntungan yang sangat besar. Eksploitasi terus berlanjut hingga memunculkan ide adanya kolonialisme. Asumsi yang berkembang di negara kapitalis adalah peningkatan keuntungan serta kekuatan kontrol atas sumberdaya yang ada di negara miskin. Seiring berakhirnya era kolonialisme timbul sebuah era baru yang dikenal dengan neo-kolonialisme. Penjajahan yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara dunia ketiga pada dasarnya masih tetap berlangsung dengan bermunculannya perusahaan multinasional. Negara dunia ketiga menjadi salah satu sarana penyedia tenaga kerja murah dan sumber daya alam yang melimpah, selain itu jumlah penduduk yang relatif besar menjadi potensi pasar tersendiri. Ketiga tahap inilah yang semakin memperpuruk kondisi negara dunia ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daftar Rujukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrew, Webster (1984). “Introduction to the Sociology of Development”. Cambridge: Macmillan. (pp 1-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carle C. Zimmerman and Richard E. Du Wors (1970). “Sociology of Underdevelopment”.&lt;br /&gt;Vancouver: The Copp Clark Publishing Company. (pp 25-35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Frank, Andre Gunder. (1984). “Sosiologi Pembangunan dan Keterbelakangan Sosiologi”. Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial. (pp 1-32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Norman, Long (2001). “Development Sociology A Actor Perspektif”. London &amp;amp; Newyork: Routledge. (pp 1-29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Philip Quarles van Ufford, Frans Husken, dan Dirk Kruijt (eds) (1989). “Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan”. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia. (pp 1-18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber diambil dari &lt;span style="color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;-&lt;/span&gt; l&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;earning-of.slametwidodo.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWKS1ME%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-US;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.1pt 951.45pt; 	margin:70.9pt 42.55pt 2.0cm 89.85pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-8601872048032954615?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/8601872048032954615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/sosiologi-pembangunan-pengertian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/8601872048032954615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/8601872048032954615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/10/sosiologi-pembangunan-pengertian.html' title='Sosiologi Pembangunan: Pengertian, Prinsip-Prinsip dan Aspek-Aspeknya'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1490985558053283975</id><published>2009-09-30T05:14:00.007+07:00</published><updated>2009-09-30T05:49:33.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal - Soal'/><title type='text'>TUGAS - TUGAS MSDM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk memperdalam pemahaman materi-materi yang telah diberikan , kerjakanlah tugas-tugas  berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah saudara mengetahui definisi dan konsep-konsep mengenai Manajemen Sumber Daya Manusia di sektor publik coba indentifikasikan permasalahan-permasalahan Manajemen Sumber Daya Manusia di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah saudara mengidentifikasi permasalahan Managemen Sumber Daya Manusia di Indonesia, Coba jelas bagaimana solosi yang harus dilakukan untuk memecahkan permasalahan tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berikan contoh-contoh yang kongkrit dan tuliskan dalam bentuk sebuah paper berdasarkan salah satu kasus yang dimuat di dalam media masa (sebutkan sumbernya)!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keterangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Jawaban soal no. 1-2 dikirim melalui email.&lt;br /&gt;2. Email Address : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;dyahhapsari2@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. Dengan Subjek :&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Jawaban Soal MSDM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. Jawaban diterima paling lambat tanggal &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;07 Oktober 2009 - Pukul 14.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;5. Tugas no.3 dibuat dalam bentuk Hard Copy diserah seperti waktu di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;"SELAMAT MENGERJAKAN'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1490985558053283975?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1490985558053283975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/tugas-tugas-msdm.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1490985558053283975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1490985558053283975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/tugas-tugas-msdm.html' title='TUGAS - TUGAS MSDM'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1678036178148639272</id><published>2009-09-28T07:17:00.006+07:00</published><updated>2009-10-07T21:12:06.594+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal - Soal'/><title type='text'>SOAL  ANTROPOLOGI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk memperdalam pemahaman materi-materi yang telah diberikan , kerjakanlah soal-soal berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jelaskan apa yang melatarbelakangi munculnya teori evolusi multilinear  dan uraikan pula pokok-pokok pemikiran yang ditawarkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. jelaskan pokok-pokok pikiran dari teori strukturalisme Levi Strauss!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jelaskan bagaimana seharusnya kita mengkaji gejala social yang ada pada masyarakat kompleks!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Uraikan perkembangan evolusi dalam etnografi berdasarkan kekuatan dan kelemahannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jelaskan kebudayaan sebagai sistem kognitif dan kebudayaan sebagai sistem adaptif!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Jelaskan bagaimana seharusnya kita memandang dan memahami kebudayaan masyarakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Sebutkan definisi dan konsep tentang masyarakat dan hal-hal yang terkait di dalamnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jelaskan karakteristik masyarakat dan unsure-unsur yang ada dalam masyarakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Coba jelaskan apa yang dimaksud dengan jaringan social , struktur social!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.Jelaskan dan berilah contohnya bentuk-bentuk kelompok yang ada dalam masyarakat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Jelaskan bagaimana pengaruh modernisasi dan globalisasi pada hubungan antar kelompok masyarakat di dunia ini. Adakah kesamaan di antara keduanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Coba jelaskan bagaimana mungkin di-tengah-tengah menguatnya isu homogenitas budaya nasional/dunia juga menguatnya etnosentrisme budaya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Keterangan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Jawaban  dikirim melalui email.&lt;br /&gt;2. Email Address : &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;dyahhapsari2@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. Dengan Subjek :&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Jawaban Soal Antropologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. Jawaban sudah diterima paling lambat tanggal&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt; 05 Oktober 2009 - Pukul 13.00&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;"SELAMAT MENGERJAKAN"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1678036178148639272?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1678036178148639272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/soal-soal-antropologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1678036178148639272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1678036178148639272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/soal-soal-antropologi.html' title='SOAL  ANTROPOLOGI'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-3937854482991900823</id><published>2009-09-25T15:54:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T15:59:10.556+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Kampus - Bursa Kerja 2009'/><title type='text'>PENERIMAAN CPNS  DEPLU 2009</title><content type='html'>P E N G U M U M A N&lt;br /&gt;NOMOR : 00892/KP/VII/ 2009/19/02&lt;br /&gt;SELEKSI PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL&lt;br /&gt;DEPARTEMEN LUAR NEGERI&lt;br /&gt;TINGKAT SARJANA (GOLONGAN III) DAN DIPLOMA 3 (GOLONGAN II)&lt;br /&gt;TAHUN ANGGARAN 2009&lt;br /&gt;———— ——— ——— ——— ——— —&lt;br /&gt;&lt;span id="more-3307"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Departemen Luar Negeri (Deplu) Republik Indonesia membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia pria dan wanita yang memiliki integritas dan komitmen tinggi untuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Golongan III dan II untuk dididik menjadi Pejabat Dinas Luar Negeri (PDLN). &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;I. KETENTUAN UMUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Proses Seleksi Penerimaan CPNS Deplu Tahun Anggaran 2009 ini terbuka untuk semua Warga Negara Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bersedia mengikuti seluruh proses tahapan seleksi di Jakarta atas biaya sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pelamar tidak diperkenankan menghubungi/ berhubungan dengan pejabat/pegawai Deplu dalam kaitannya dengan proses seleksi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Seluruh tahapan proses seleksi ini tidak dipungut biaya apapun.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;II. PERSYARATAN UMUM&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Warga Negara Indonesia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, setia, dan taat kepada Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai PNS/Anggota TNI/Polri atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak berkedudukan sebagai CPNS atau Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan tidak sedang terikat perjanjian/kontrak kerja dengan instansi lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak bersuami/beristrika n seorang yang berkewarganegaraan asing atau tanpa kewarganegaraan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sehat jasmani dan rohani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersedia menjalani ikatan dinas selama 5 (lima) tahun dan ditempatkan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia atau negara lain yang ditentukan oleh Pemerintah.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;III. PERSYARATAN KHUSUS&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. PEJABAT DIPLOMATIK DAN KONSULER (DIPLOMAT/PDK)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;a.  Berijazah Sarjana (S1), Magister/Master (S2), atau Doktor (S3):&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt; Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Jurusan Ilmu Politik, Hubungan Internasional, Studi Kawasan, Ilmu Komunikasi/ Hubungan Masyarakat, Sosiologi, Ilmu Pemerintahan, dan Administrasi Negara)&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ilmu Hukum dengan kekhususan di bidang Hukum Internasional, Hukum Bisnis, Hukum Perdata, Hukum Tata Negara, atau Hukum Administrasi Negara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ilmu Ekonomi (Jurusan Studi Pembangunan) .&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sastra/Ilmu Pengetahuan Budaya (Arab, China, Inggris, Indonesia, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Teknik Informatika&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;b&gt;b. Lulusan Perguruan Tinggi Negeri, Perguruan Tinggi Swasta, atau Perguruan Tinggi luar negeri yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi, dengan persyaratan IPK:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Sarjana (S1) minimal 2,75 (dua koma tujuh lima);&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Magister (S2) minimal 3,00 (tiga koma nol nol); dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Doktor (S3) minimal 3,00 (tiga koma nol nol).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;c. Menguasai bahasa Inggris dengan baik (lisan dan tulisan) dan/atau bahasa Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB)/asing lainnya (Arab, China, Jepang, Perancis, Rusia, dan Spanyol).&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;d.  Berusia maksimum:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; 28 tahun pada tanggal 1 Desember 2009 (lahir setelah 30 November 1981) untuk tingkat Sarjana (S1);&lt;/li&gt;&lt;li&gt; 2 tahun pada tanggal 1 Desember 2009 (lahir setelah 30 November 1977) untuk tingkat Magister (S2);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;35 tahun pada tanggal 1 Desember 2009 (lahir setelah 30 November 1974) untuk tingkat Doktor (S3).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Untuk keterangan lebih lanjut&amp;nbsp; dan lengkap dari ketentuan di atas,&amp;nbsp; &lt;i style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;klik disini &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-3937854482991900823?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/3937854482991900823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/lowongan-cpns-deplu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3937854482991900823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/3937854482991900823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/lowongan-cpns-deplu.html' title='PENERIMAAN CPNS  DEPLU 2009'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-6778597095564219451</id><published>2009-09-25T09:43:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T09:43:34.875+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>DINAMIKA MASYARAKAT DAN SOSIOLOGI KONFLIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Revolusi industri di Eropa yang mengubah produksi tradisional menjadi model produksi modern menghasilkan produk secara masal telah ikut berperan dalam mengubah struktur sosial masyarakat Eropa di awal abad ke-19.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemunculan kelompok-kelompok pemilik modal yang menguasai sistem produksi telah menyebabkan ketertindasan kalangan yang tak memiliki modal kecuali tenaga. Latar belakang masyarakat inilah yang menjadi perkembangan analisis konflik dalam sosiologi di Eropa seperti konflik kelas Karlmarx.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konteks dinamika masyarakat dan konflik inilah yang kemudian dianalisis oleh Ibnu Khaldun. Analisa tersebut melahirkan teori konflik kelompok dan hukum sosial konflik masyarakat. Masyarakat selalu mengalami perubahan sosial baik pada nilai dan strukturnya baik secara revolosione maupun evolosioner.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perubahan-perubahan dipengaruhi oleh geraka-gerakan sosial dari individu dan kelompok sosial yang menjadi bagian dari masyarakat. Gerakan sosial dalam sejarah masyarakat dunia bisa muncul dalam bermacam bentuk kepentingan, seperti mengubah struktur hubungan sosial, mengubah pandangan hidup, dan kepentingan merebut peran politik (kekuasaan). Ilmu sosiologi, perubahan sosial dan dinamika gerakan sosial dari masa klasik sampai kontemporer. Bisa dikatakan, menurut Kornblurn, sosiologi menjadi bagian gerakan sosial itu sendiri karena seorang ilmuwan sosial dalam sejarahnya adalah reformer ( Kornblurn, 2003).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Materi_materi yang terkait :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Dinamika Masyarakat Dan Kebudayaan - &lt;a href="http://www.4shared.com/file/135220358/59cbac52/DINAMIKA_MASYARAKAT_DAN_KEBUDAYAAN.html"&gt;&lt;i style="color: lime;"&gt;&lt;b&gt;download&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Kekerasan  Dan Konflik Masa Dalam Analisis Sosiologi - &lt;a href="http://www.4shared.com/file/135220702/c36019d5/KEKERASAN_DAN_KONFLIK_MASSA_DALAM_ANALISIS_SOSIOLOGI.html"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;download &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Konflik Sosial Dan Resolusi Konflik ... - &lt;a href="http://www.4shared.com/file/135224997/e734ec4e/KONFLIK_SOSIAL_.html"&gt;&lt;i&gt;&lt;b style="color: lime;"&gt;download &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-6778597095564219451?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/6778597095564219451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/dinamika-masyarakat-dan-sosiologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/6778597095564219451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/6778597095564219451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/dinamika-masyarakat-dan-sosiologi.html' title='DINAMIKA MASYARAKAT DAN SOSIOLOGI KONFLIK'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1284077571051823894</id><published>2009-09-25T01:12:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T02:01:29.799+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>SOSIOLOGI KONFLIK DAN REKONSILIASI</title><content type='html'>&lt;b&gt;KONSEP - KONSEP  :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;KONFLIK :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antar dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki sasaran-sasaran&amp;nbsp; yang tak sejalan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;KEKERASAN :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tindakan, perkataan, sikap berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosia atau lingkungan, dan/atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;MENGINTENSIFKAN KONFLIK :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Mengungkapkan konflik latent ke permukaan dan menjadikan terbuka untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;MENINGKATKAN KONFLIK :&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada situasi yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat ketegangan dan kekerasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi selengkapnya dapat di download&lt;a href="http://www.4shared.com/file/135124098/feceb8fe/SOSIOLOGI_KONFLIK_DAN_REKONSILIASI_2.html"&gt;&lt;b style="color: lime;"&gt;&lt;i&gt; disini&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1284077571051823894?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1284077571051823894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/sosiologi-konflik-dan-rekonsiliasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1284077571051823894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1284077571051823894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/sosiologi-konflik-dan-rekonsiliasi.html' title='SOSIOLOGI KONFLIK DAN REKONSILIASI'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-4794855110118930155</id><published>2009-09-17T20:17:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T15:57:33.565+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita Kampus - Bursa Kerja 2009'/><title type='text'>PENERIMAAN CPNS UNSRI 2009</title><content type='html'>&lt;hr size="1px" style="color: darkorange;" /&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;Penerimaan CPNS di Lingkungan Universitas Sriwijaya Tahun 2009&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor : 47190/A4/KP/2009 tanggal 4 September 2009 tentang Penetapan Formasi Calon Pegawai Negeri Sipil dari Pelamar Umum Tahun Anggaran 2009 di Lingkungan Departemen Pendidikan Nasional, hasil rapat teknis Kepegawaian tanggal 7--9 September 2009 dan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasioanal Nomor : 47192/A4/KP/2009 tanggal 4 September 2009, bahwa Universitas Sriwijaya akan menerima Calon Pegawai Negeri Sipil sejumlah 41 orang, dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk selengkapnya silahkan unduh lampiran di bawah ini: &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Download attachment:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.unsri.ac.id/upload/attachment/PENGUMUMAN%20PENERIMAAN%20CPNS%20UNSRI%20TAHUN%202009____3593.pdf" style="color: #009900; font-style: italic; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;PENGUMUMAN PENERIMAAN CPNS UNSRI TAHUN 2009&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #009900; font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;- &lt;img src="http://www.unsri.ac.id/images/icon-pdf.gif" style="border: medium none;" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.unsri.ac.id/upload/attachment/MINAT%20ILMU%20CPNS%20UNSRI%202009____2211.pdf" style="color: #009900; font-style: italic; text-decoration: none;" target="_blank"&gt;MINAT ILMU CPNS UNSRI 2009&lt;/a&gt; - &lt;img src="http://www.unsri.ac.id/images/icon-pdf.gif" style="border: medium none;" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-4794855110118930155?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/4794855110118930155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengumuman-penerimaan-cpns-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4794855110118930155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4794855110118930155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengumuman-penerimaan-cpns-di.html' title='PENERIMAAN CPNS UNSRI 2009'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-5759096202804626401</id><published>2009-09-17T09:34:00.004+07:00</published><updated>2009-11-05T23:11:54.747+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Non Kategori'/><title type='text'>PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);font-family:Verdana;" &gt;PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unsri.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unsri.ac.id" href="http://www.unsri.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;U&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;niversitas Sriwijaya (UNSRI)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus Utama : Bukit Besar dan Inderalaya, Palembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.ui.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.ui.ac.id" href="http://www.ui.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Indonesia (UI)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Depok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.gadjahmada.edu';return true" target="_blank" title="http://www.gadjahmada.edu" href="http://www.gadjahmada.edu/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Gadjah Mada - UGM&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor dan Kampus : Bulaksumur Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.ipb.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.ipb.ac.id" href="http://www.ipb.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Pertanian Bogor - IPB&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor : Jalan Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor&lt;br /&gt; Telepon : (0251) 622642&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.itb.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.itb.ac.id" href="http://www.itb.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Teknologi Bandung - ITB&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor Pusat : Jl. Tamansari 64 Bandung&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Ganesha 10 Bandung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.its.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.its.ac.id" href="http://www.its.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Teknologi Surabaya - ITS&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unair.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unair.ac.id" href="http://www.unair.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Airlangga (UNAIR)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Airlangga no. 4-6 Surabaya, Jawa Timur&lt;br /&gt; Telp : 031.5031983 - 031.5342557. Faks. 031.5032557&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.undip.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.undip.ac.id" href="http://www.undip.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Diponegoro (UNDIP)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus Tembalang, Semarang 50239 , Jawa Tengah&lt;br /&gt; Telp. : 024-7460038, Fax : 024-7460038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.brawijaya.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.brawijaya.ac.id" href="http://www.brawijaya.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Brawijaya - UNBRAW&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Veteran , Malang&lt;br /&gt; Telepon : (0341) 551611&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.uns.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.uns.ac.id" href="http://www.uns.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Sebelas Maret (UNS)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Ir. Sutami no.36 A Surakarta, Jawa Tengah&lt;br /&gt; Telp: +62 271 646994, 646761, 646624, Fax. 46655.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unpad.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unpad.ac.id" href="http://www.unpad.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Padjadjaran - UNPAD&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor : Jalan Dipati Ukur 35 Bandung&lt;br /&gt; Telepon : (022) 2503271&lt;br /&gt; E-mail : humas@unpad.ac.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.ikj.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.ikj.ac.id" href="http://www.ikj.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Kesenian Jakarta (IKJ)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Cikini (TIM), Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.isi.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.isi.ac.id" href="http://www.isi.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Seni Indonesia (ISI)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unhas.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unhas.ac.id" href="http://www.unhas.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Hasanuddin (UNHAS)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jalan Perintis Kemerdekaan km 10, Makassar&lt;br /&gt; Telp. 0411-584002, Fax. 0411-585188&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unej.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unej.ac.id" href="http://www.unej.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Jember (UNEJ)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Jember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unila.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unila.ac.id" href="http://www.unila.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Lampung (UNILA)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Prof. Dr. Sumantri Brojonegoro no. 1 Bandarlampung, 35145 ,&lt;br /&gt; Lampung&lt;br /&gt; Telp. : 0721 - 701609, 0721 - 702673, Fax. 0721 - 702767&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unmul.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unmul.ac.id" href="http://www.unmul.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Mulawarman (UNMUL)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Gunung Kelua, Samarinda, 75119 , Kalimantan Timur&lt;br /&gt; Telepon: (0541) 741118, 741797 , Fax.: (0541) 732870&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unj.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unj.ac.id" href="http://www.unj.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Negeri Jakarta (UNJ)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Rawamangun Muka, Jakarta 13220&lt;br /&gt; Telp. : (021)4890046, 4893726, 489 3982, Fax.(021)489 3726&lt;br /&gt; E-mail : unj@unj.ac.id,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unm.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unm.ac.id" href="http://www.unm.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Negeri Makassar (UNM)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor : Jl. A.P.Pettarani Makassar 90222&lt;br /&gt; Telp. : (0411) 869834 - 869854 - 860468, FAX. (0411) 868794&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unp.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unp.ac.id" href="http://www.unp.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Negeri Padang (UNP)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unesa.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unesa.ac.id" href="http://www.unesa.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Negeri Surabaya&lt;br /&gt;(UNESA)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kantor : Jl. Ketintang, Surabaya 60231 Indonesia&lt;br /&gt; Telp. : (031)-8280009, 8280393, 8280675 Fax : (031)-8280804&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unri.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unri.ac.id" href="http://www.unri.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Riau (UNRI)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Binawidya Km. 12.5 Simpang Baru Pekanbaru 28293, Riau&lt;br /&gt; Telp. : (0761) 63266, Fax. (0761) 63279&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.usu.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.usu.ac.id" href="http://www.usu.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Sumatera Utara (USU)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jalan Dr.Mansyur No 9, Padang Bulan Medan 20155, Sumatera Utara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.untan.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.untan.ac.id" href="http://www.untan.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Tanjungpura (UNTAN)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. A. Yani Pontianak, 78124 Kalimantan Barat&lt;br /&gt; Telp. : 0561-734439, Fax 0561-743946&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.sunan-ampel.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.sunan-ampel.ac.id" href="http://www.sunan-ampel.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel - IAIN Sunan Ampel&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Jl. Achmad Yani 117, Surabaya&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;a onmouseout="window.status=''; return true" onmouseover="window.status='http://www.unud.ac.id';return true" target="_blank" title="http://www.unud.ac.id" href="http://www.unud.ac.id/" style="text-decoration: none;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;Universitas Udayana(UNUD)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;br /&gt; Kampus : Bukit Jimbaran, Bali&lt;br /&gt; Telp: 0361-704625, Fax: 0361-701907&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-5759096202804626401?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/5759096202804626401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/perguruuan-tinggi-negeri-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5759096202804626401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5759096202804626401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/perguruuan-tinggi-negeri-di-indonesia.html' title='PERGURUAN TINGGI NEGERI DI INDONESIA'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-4587355188242914589</id><published>2009-09-15T14:39:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T21:44:44.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>MANAJEMEN SDM SEKTOR PUBLIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq9RrAygPMI/AAAAAAAAABw/GDSsQyTcFZc/s1600-h/mANJEMEN+SDM.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 101px; height: 126px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq9RrAygPMI/AAAAAAAAABw/GDSsQyTcFZc/s320/mANJEMEN+SDM.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381609879119084738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan berbagai fungsi afektif ditujukan pada organisasi mengelola karyawan atau sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HRM tujuan adalah untuk membantu organisasi untuk memenuhi tujuan strategis dengan&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menarik dan mempertahankan karyawan yang memenuhi syarat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengelola secara efektif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memastikan bahwa organisasi sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan yang tepat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab Manajer SDM (baik dalam Perusahaan maupun Pemerintahan) :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;li&gt;Mengadakan rekruitmen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan training&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memfasilitasi dan Mengelola kebutuhan karyawan&lt;/li&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Juga Termasuk :&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;li&gt;Menulis deskripsi kerja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wawancara dan pengujian pelamar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian gaji dan manfaat program&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelatihan staf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konseling karyawan mengenai pekerjaan mereka pribadi dan masalah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berurusan dengan pelanggaran aturan yang melakukan penelitian dalam masalah-masalah pekerjaan&lt;/li&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Manjemen  SDM :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan  dan praktek yang dibutuhkan seseorang untuk menjalankan aspek sumber daya manusia dalam sebuah proses manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Untuk materi selengkapnya dalam bentuk Powerpoint dapat didownload &lt;a href="http://www.4shared.com/file/129023717/fe66b814/MANAGEMEN_SDM_SEKTOR_PUBLIK.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic; color: rgb(51, 204, 0);"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-4587355188242914589?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/4587355188242914589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/manajemen-sdm-sektor-publik.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4587355188242914589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/4587355188242914589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/manajemen-sdm-sektor-publik.html' title='MANAJEMEN SDM SEKTOR PUBLIK'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq9RrAygPMI/AAAAAAAAABw/GDSsQyTcFZc/s72-c/mANJEMEN+SDM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-2974443081073322373</id><published>2009-09-15T12:47:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T21:43:28.240+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Manajemen'/><title type='text'>PENGERTIAN MANAJEMEN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq99Iza0A_I/AAAAAAAAACI/gqeuuYuAoDo/s1600-h/images3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 116px; height: 113px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq99Iza0A_I/AAAAAAAAACI/gqeuuYuAoDo/s320/images3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381657669926126578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ilmu manajemen sebetulnya sama usinya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen. Baik langsung maupun tidak langsung, baik disadari maupun tidak disadari manusia menggunakan prinsip-prinsip dari manajemen. Ilmu manajemen ilmiah timbul pada sekitar awal abad ke-20 di benua Eropa Barat dan Amirika. Dimana di negara-negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri, yaitu percobaan-percobaan dalam pengelolaan produksi yang efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah semaki maju dan kebutuhan manusia sudah semakin banyak dan beragam jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang timbul suatu pertanyaan "Siapa sajakah yang sebenarnya memamkai manajemnen?" Apakah hanya digunakan di perusahaan saja apakah hanya dipemerintahan saja. Manajemen diperlukan dalam segala bidang, bentuk dan organisasi serta tipe kegiatan, di mana orang-orang saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk materi selengkapnya dapat  di download &lt;a href="http://www.4shared.com/file/132772288/1a2450ee/PENGERTIAN_MANAGEMEN.html"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 153, 0); font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-2974443081073322373?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/2974443081073322373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengertian-manajemen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2974443081073322373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2974443081073322373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengertian-manajemen.html' title='PENGERTIAN MANAJEMEN'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq99Iza0A_I/AAAAAAAAACI/gqeuuYuAoDo/s72-c/images3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-2792113629210469424</id><published>2009-09-14T05:46:00.000+07:00</published><updated>2009-09-15T15:30:52.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahan Ajar Antropologi'/><title type='text'>PENGANTAR ANTROPOLOGI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5KgYIgtzI/AAAAAAAAABA/JQYqc2VVWSU/s1600-h/evolusi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 179px; height: 146px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5KgYIgtzI/AAAAAAAAABA/JQYqc2VVWSU/s320/evolusi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381320524848740146" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Antropologi adalah Ilmu Pengetahuan Sosial , beberapa antropolog berpendapat bahwa antropologi muncul sebagai suatu cabang keilmuan yang jelas batasannya pada sekitar pertengahan abad ke-19 tatkala perhatian orang pada evolosi manusia berkembang. Antropologi sebagai disiplin akademik baru dimulai tidak lama setelah itu, ketika pengangkatan pertama antropolog profresional di universitas, museum, dan kantor-kantor pemerintahan (Garbarino, 1984:Kuncaraningrat,1991).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap antropolog dan ahli sejarah memiliki alasan sendiri-sendiri untuk menentukan kapan antropologi dimulai. Dari sudut pandang "sejarah gagasan", tulisan-tulisan silsus, dan pejiarah Yunani, sejarawan Arab kuno, peziarah Eropa kuno, maupun masa renaisance, dan silsus, ahli hukum, ilmuwan berbagai bidang dari Eropa, semuanya bisa dianggap pendorong bagi dibangunnya tradisi antropologi (Kuncaraningrat,1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antropologi pada abad ke-19, terlebih abad ke-20 berkembang dalam arah yang sistemamtik dan menggunakan peralatan metodologi ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi selengkapnya dalam bentuk Powerpoint dapat di donwload &lt;a style="font-style: italic; color: rgb(51, 204, 0);" href="http://www.4shared.com/file/128779647/9efc727e/PENGANTAR_ANTROPOLOGI.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;disini &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-2792113629210469424?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/2792113629210469424/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengantar-antropologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2792113629210469424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/2792113629210469424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/pengantar-antropologi.html' title='PENGANTAR ANTROPOLOGI'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5KgYIgtzI/AAAAAAAAABA/JQYqc2VVWSU/s72-c/evolusi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-1250892821608938656</id><published>2009-09-14T05:37:00.001+07:00</published><updated>2009-11-14T08:46:08.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>8 KIAT SUKSES MENJADI NETPRENEUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5OpM_FiuI/AAAAAAAAABY/TXwBhO4Fdic/s1600-h/enterpreneur+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 142px; height: 201px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5OpM_FiuI/AAAAAAAAABY/TXwBhO4Fdic/s320/enterpreneur+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381325074521754338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Kecepatan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan segala percepatan perkembangan teknologi, globalisasi, dan internet, laju perubahan pun semakin cepat dari yang pernahdibayangkan. Karena itu, Anda  harus bisa mengantisipasinya dan sanggup bereaksi cepat, tapi juga penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kemampuan Beradaptasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Laju perubahan yang terjadi pada dunia internet membutuhkan bisnis yang lebih fleksibel dan adaptif dibandingkan sebelumnya. Anda  harus menambah pengetahuan dan mampu menginterpretasinya, serta secara cepat merespon perubahan tersebut dimanapun terjadinya baik dalam teknologi dan kompetisi, juga pada pergantian pola pasar dan pembeli.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Eksperimen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang netpreneur harus bersedia mencoba ide-ide baru di pasar yang dibidiknya. Anda  tidak memiliki banyak waktu atau hanya mengandalkan 'market research' yang sudah tidak up to date untuk mengevaluasi tindakan-tindakan Anda . Eksperimen dan siap bergerak cepat untuk beradaptasi dengan apa yang dibutuhkan dan diinginkan pasar kepada Anda .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Inovasi Yang Konstan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meluncurkan produk ke pasar hanyalah sebuah permulaan. Dorongan kompetisi yang tak kenal henti dan tuntutan pasar terhadap perbaikan membuat fokus bisnis pada inovasi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Kolaborasi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah menjadi sifat dari netpreneur menjadi kolaboratif. Anda tidak bisa bekerja sendiri di pergerakan dengan kecepatan seperti ini. Internet memungkinkan Anda melibatkan banyak pemilik perusahaan dalam setiap langkah. Mulai dari kelahiran sebuah produk melalui riset, pembangunan produk, pengemasan, pengiriman, support dan proses perbaikan yang terus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Jadilah Penggerak Distribusi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tantangan nyata dari dunia bisnis saat ini adalah distribusi penyebaran   merek serta identitas produk dan jasa Anda. Satu hal yang paling terasa, internet memperkecil hambatan distribusi. Untuk itu, Anda harus membangun merek dan saluran distribusi demi kesinambungan kesuksesan bisnis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Fokus Pada Niche Market.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Internet menjangkau dan mendistribusi kesempatan bisnis pada pasar baru yang terbuka. Karena itu, netpreneur harus memfokuskan pada sektor pasar yang terdefinisi dengan baik -yaitu pada niche market atau pasar ceruk- agar dapat meraih posisi dominan atau menemukan pasar yang belum atau kurang terlayani. Walau kenyataannya, kesempatan yang paling menggairahkan terletak pada menciptakan pasar yang baru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Jadilah Multidisipliner.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perusahaan dalam era ekonomi baru seperti sekarang menciptakan solusi dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti teknologi, content, grafis, layanan dan hubungan. Karena itu, seorang netpreneur sukses biasanya memahami berbagai disiplin ilmu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah kemampuan yang harus dimiliki seorang netpreneur dalam lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat. Dan sebuah cara untuk memiliki kemampuan seperti seorang netpreneur sukses adalah dengan mempelajari internet marketing .&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-1250892821608938656?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/1250892821608938656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/8-kiat-sukses-menjadi-netpreneur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1250892821608938656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/1250892821608938656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/09/8-kiat-sukses-menjadi-netpreneur.html' title='8 KIAT SUKSES MENJADI NETPRENEUR'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5OpM_FiuI/AAAAAAAAABY/TXwBhO4Fdic/s72-c/enterpreneur+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8844398163260116200.post-5830373747106825429</id><published>2009-07-17T13:30:00.002+07:00</published><updated>2009-11-14T08:48:37.864+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kewirausahaan'/><title type='text'>9 Tipe Kepribadian Entrepreneur</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5MZFbFiuI/AAAAAAAAABQ/TBT1kNUlzOQ/s1600-h/enterpreneur+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 168px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5MZFbFiuI/AAAAAAAAABQ/TBT1kNUlzOQ/s320/enterpreneur+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5381322598590548706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. The Improver. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda memiliki kepribadian ini jika Anda menjalankan bisnis dengan menonjolkan gaya improver alias ingin selalu memperbaiki.  Anda menggunakan perusahaan Anda untuk memperbaiki dunia. Improver memiliki kemampuan yang kokoh dalam menjalankan bisnis.  Mereka juga memiliki intergritas dan etika yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waspadai sifat Anda yang cenderung menjadi perfeksionis dan terlalu kritis terhadap karyawan dan pelanggan Anda. Contoh Entrepreneur: Anita Roddick, pendiri The Body Shop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. The Advisor. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipe kepribadian pebisnis seperti ini bersedia memberikan  bantuan dan saran tingkat tinggi bagi para pelanggannya.  Motto dari advisor ini yaitu pelanggan adalah benar dan kita  harus melakukan apa saja untuk menyenangkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang advisor bisa jadi terlalu fokus pada kebutuhan bisnis mereka dan pelanggan, sehingga&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;cenderung mengabaikan kebutuhan mereka sendiri dan bisa-bisa malah cape hati sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;John W. Nordstrom, pendiri Nordstorm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. The Superstar&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bisnis yang pusatnya dikelilingi oleh karisma dan energi  tinggi dari Sang CEO Superstar. Pebisnis dengan kepribadian  seperti ini biasanya membangun bisnis mereka dengan personal&lt;br /&gt;brand mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pebisnis dengan tipe ini bisa menjadi terlalu kompetitif dan workaholics.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Donald Trump, CEO Trump Hotels &amp;amp; Casino Resorts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. The Artist. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian pebisnis seperti ini biasanya senang menyendiri tapi memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka biasanya sering  kali ditemukan di bisnis yang membutuhkan kreativitas seperti  pada perusahaan agen periklanan, web design, dll.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Scott Adams, pendiri dan penggagas Dilbert.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. The Visionary. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bisnis yang dibangun oleh seorang visioner biasanya berdasarkan visi masa depan dan pemikiran pendirinya. Anda memiliki keingintahuan yang tinggi untuk mengerti dunia di sekeliling Anda dan akan membuat rencana untuk menghindari segala macam rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang visioner bisa jadi terlalu fokus pada mimpi mereka dan kurang berpijak pada realitas. Dan jangan lupa, menyertai visi Anda dengan melakukan tindakan nyata.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bill Gates, pendiri MicroSoft Inc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. The Analyst. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda menjalankan bisnis sebagai seorang analis, perusahaan  Anda biasanya memfokuskan pada penyelesaian masalah dalam  suatu cara sistematis. Seringkali berbasis pada ilmu pengetahuan, keahlian teknis atau komputer, seorang analis perusahaan biasanya hebat dalam memecahkan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati dengan kelumpuhan analisa. Bekerjalah dengan mempercayai orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gordon Moore, pendiri Intel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. The Fireball. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bisnis yang dimiliki oleh si Bola Api ini biasanya dioperasikan dengan penuh hidup, energi dan optimisme. Pelanggan merasa perusahaan Anda dijalankan dengan tingkah laku yang fun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa jadi berkomitmen yang berlebihan terhadap tim Anda dan bertingkah laku terlalu&lt;br /&gt;impulsif. Seimbangkan keimpulsivan Anda dengan rencana bisnis.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Malcolm Forbes, penerbit dan pendiri Forbes Magazine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. The Hero. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda memiliki kemauan dan kemampuan yang luar biasa dalam memimpin dunia dan bisnis Anda melalui segala macam tantangan. Anda adalah inti dari kewirausahaaan dan bisa mengumpulkan banyak perusahaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terlalu mengumbar janji dan menggunakan taktik kekuatan penuh untuk mendapatkan sesuatu dengan cara Anda tidak akan berhasil dalam jangka waktu panjang. Untuk menjadi sukses, percayailah keterampilan kepemimpinan Anda untuk menolong orang lain menemukan jalan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Contoh Entrepreneur: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jack Welch, CEO GE.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. The Healer.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda adalah seorang 'penyembuh', Anda bersifat pengasuh dan penjaga keharmonisan dalam bisnis Anda. Anda memiliki kemampuan bertahan yang luar biasa dan keteguhan disertai dengan ketenangan dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Personality Alert: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena sifat perhatian Anda dan kepenyembuhan Anda dalam menjalankan bisnis, Anda bisa jadi menghindari realitas di luar sana dan selalu terlalu berharap. Gunakan skenario perencanaan untuk persiapan datangnya masalah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Contoh Entrepreneur: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ben Cohen, salah satu pendiri Ben &amp;amp; Jerry's Ice Cream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8844398163260116200-5830373747106825429?l=dyahhapsari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/feeds/5830373747106825429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/07/9-tipe-kepribadian-entrepreneur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5830373747106825429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8844398163260116200/posts/default/5830373747106825429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dyahhapsari.blogspot.com/2009/07/9-tipe-kepribadian-entrepreneur.html' title='9 Tipe Kepribadian Entrepreneur'/><author><name>dyah hapsari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11406588751469078467</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/SsSAoI00IGI/AAAAAAAAADM/9TOCX66XINQ/S220/den.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4uIWOxw_tmw/Sq5MZFbFiuI/AAAAAAAAABQ/TBT1kNUlzOQ/s72-c/enterpreneur+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
