Google

Facebook

Pengikut

BUKU TAMU

Berbicara mengenai perubahan sosial, kita mau tidak mau harus membahas mengenai faktor yang menyebabkan perubahan itu terjadi. Untuk mempelajari perubahan pada masyarakat, perlu diketahui sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih mendalam sebab terjadinya suatu perubahan pada masyarakat, mungkin karena adanya sesuatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan. Secara garis besar faktor penyebab perubahan dapat dikelompokkan dalam dua perspektif, yaitu materialistic factors dan idealistic factors.

Perspektif Materialis

Kubu perspektif materialis memandang bahwa perubahan sosial terjadi karena adanya faktor material yang menyebabkannya. Faktor material tersebut diantaranya adalah faktor ekonomi dan teknologi yang berhubungan dengan ekonomi produksi. Pada dasarnya, perspektif ini menyatakan bahwa teknologi baru atau moda produksi baru menghasilkan perubahan pada interaksi sosial, organisasi sosial dan pada akhirnya menghasilkan nilai budaya, kepercayaan dan norma.

Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.

Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar. Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh.


Moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.


Tipe-tipe moda produksi, antara lain :
1. Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.

2. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.

Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal.

Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.

Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.

Menurut Marx terdapat 3 tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :
1. Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.

2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.

3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.

Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.

Selain Marx, tokoh yang menyajikan pendapat tentang perspektif materialis adalah Ogburn. Ogburn menyoroti mengenai teknologi yang telah menyebabkan perubahan sosial di Amerika. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag.

Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan bantuan teknologi.

2. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.

3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat.

Perspektif Idealis
Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.

Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
1. Rasionalitas tradisional.
2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.
3. Rasionalitas afektif.
4. Rasionalitas instrumental.

Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.

Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhi arah perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.

Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.

2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan.

3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.

Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu materialis yang dipelopori oleh Marx dan kubu idealis yang dipelopori oleh Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide dasar pemikiran Marx, namun dia tidak sependapat untuk menempatkan manusia sebagai robot. Pada masyarakat modern, Marx dan Weber memiliki kesamaan pandangan, bahwa masyarakat modern telah diikat dengan spirit kapitalisme.

Mobilisasi dan Kontrol; Materialis vs Idealis
Studi yang dilakukan oleh Kurasawa ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial, ekonomi dan psikologis yang muncul atau berkembang selama masa pendudukan Jepang di masyarakat pedesaan Jawa. Kebijakan-kebijakan Jepang di Jawa dapat dicirikan oleh perpaduan antara mobilisasi dan kontrol. Mobilisasi berarti memanggil rakyat untuk berpartisipasi dalam pengabdian militer, pekerjaan umum, kegiatan politik atau seremonial lainnya.

Kebijakan mobilisasi ini juga dipadukan dengan kebijakan kontrol yang ketat oleh pemerintah. Seluruh kegiatan ekonomi secara ketat dikontrol oleh pemerintah melalui berbagai bentuk peraturan. Tidak terdapat kebebasan dalam kegiatan politik, ideologi dan seni. Rakyat diharapkan mempunyai pikiran yang seragam dan melakukan konformitas dalam tingkah laku mereka.

Kebijakan Jepang membantu melahirkan berbagai perubahan dan fenomena baru di masyarakat. Perubahan sosial semacam ini paling mencolok di kawasan pedesaan. Masyarakat desa merupakan sumber dari barang-barang yang dibutuhkan Jepang untuk menjalankan kebijakan militernya. Keberhasilan pemerintah Jepang ditentukan oleh keberhasilan menarik bantuan dari masyarakat pedesaan. Oleh karenanya, Jepang melakukan berbagai proyek atau kegiatan baru di desa sehingga campur tangan dengan masalah administrasi dan adat masyarakat desa.

Di bidang pertanian, Jepang yang membutuhkan bahan pangan untuk pasukan militernya, harus berupaya mendapatkan bahan pangan dari masyarakat pedesaan. Bahan pangan utama yang dibutuhkan adalah padi, sehingga upaya peningkatan produksi dilakukan oleh Jepang. Pengenalan varietas padi baru yang dihasilkan oleh ilmuan Jepang dilakukan pada masyarakat pedesaan. Untuk memperluas sawah, hutan-hutan dibuka, pembangunan jaringan irigasi dan tanah-tanah perkebunan diubah menjadi sawah. Namun demikian, kebijakan peningkatan produksi ini mengalami kegagalan.

Kebijakan-kebijakan pendudukan Jepang di Jawa bertanggung jawab atas timbulnya bermacam-macam perubahan sosial di dalam masyarakat pedesaan. Kontrol yang kuat dipergunakan terhadap usaha-usaha dan kegiatan ekonomi petani di pedesaan menyebabkan perubahan struktur pertanian dan ekonomi di Jawa. Selain itu juga diperkenalkan kontrol terhadap pemerintahan desa dan menimbulkan perubahan dalam hubungan sosial dan sistem kepemimpinan desa. Propaganda dan pendidikan juga dilakukan oleh Jepang untuk dapat melakukan pengerahan massa sesuai dengan tujuan Jepang. Mobilitas sosial yang meningkat baik secara horisontal maupun vertikal menyebabkan timbulnya identitas “nasional”. Selain itu, Jepang juga harus bertanggung jawab atas menguaknya keterpisahan sosial antar lapisan dalam masyarakat pedesaan. Ringkasnya, Jepang telah membantu meningkatkan keragaman dan diversivikasi di masyarakat pedesaan. Cara berpikir dan bertingkah laku yang baru, pola-pola persekutuan dan persaingan menjadi berkembang di pedesaan Jawa. Masa penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun ternyata tidak cukup bagi Jepang untuk mencapai sasaran-sasaran yang mereka kehendaki.

Jepang berusaha melakukan propaganda melalui pendidikan sehingga akan menghasilkan nilai budaya dan kepercayaan yang baru. Semangat kerja keras ala samurai juga coba diperkenalkan kepada masyarakat pedesaan. Dalam perspektif idealis memandang usaha yang dilakukan Jepang merupakan suatu proses yang akan menghasilkan perubahan pada masyarakat pedesaan. Penanaman ideologi yang dilakukan oleh Jepang dapat menyebabkan sebuah perubahan sosial yang mendasar di pedesaan. Tumbuhnya semangat untuk melakukan meraih kemerdekaan merupakan perubahan yang mendasar hingga akhirnya tercapai pada tahun 1945. Perubahan pada masa penjajahan Jepang tidak hanya dapat dipandang dari sudut idealisme saja. Perubahan struktur ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan, mau tidak mau juga telah menyebabkan perubahan di dalam hubungan antar individu.

Daftar Rujukan

Harper, Charle L. 1989. Exploring Social Change. New Jersey: Prentice Hall.

Kurasawa, Aiko. 1982. Mobilisasi dan Kontrol; Strudi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Jakarta: Grasindo.

Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial; Sketsa dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Jogjakarta: Tiara Wacana.

Strasser, Hermann and Susan C. Rendall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge & Kegan Paul.


Sumber dari learning-of.slametwidodo.com

1 Responses to MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL (Perspektif Materialistis dan Idealis)

  1. januar surya Says:
  2. mantap artikelnya, sangat bermanfaat.

    www.kiostiket.com

     

Poskan Komentar

Tentang Saya