MEKANISME PERUBAHAN SOSIAL (Perspektif Materialistis dan Idealis)
1 komentar Diposting oleh dyah hapsari di 19.52Perspektif materialistis bertumpu pada pemikiran Marx yang menyatakan bahwa kekuatan produksi berperan penting dalam membentuk masyarakat dan perubahan sosial. Marx memberikan penjelasan bahwa pada masa teknologi masih terbatas pada kincir angin memberikan bentuk tatanan masyarakat yang feodal, sedangkan ketika mesin uap telah ditemukan tatanan masyarakat menjadi bercirikan industrial kapitalis. Perspektif ini melihat bahwa bentuk pembagian kelas-kelas ekonomi merupakan dasar anatomi suatu masyarakat.
Peran penemuan teknologi baru di dalam perubahan sosial sangat besar, karena dengan adanya penemuan teknologi baru menyebabkan perubahan moda produksi dalam masyarakat. Masuknya teknologi telah dapat meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya menghasilkan kesempatan kerja pada industri-industri baru yang bermunculan di kota besar. Perubahan lain yang sangat mendasar adalah munculnya kelas ekonomi baru yaitu kaum pemilik modal (pengusaha) dan buruh.
Moda produksi merupakan gabungan antara kekuasaan produksi (forces of production) dan hubungan produksi (relation of production). Unsur hubungan produksi disini menunjuk pada hubungan institusional atau hubungan sosial dalam masyarakat yang pada artinya menunjuk pada struktur sosial. Karakteristik hubungan produksi ini sekaligus merupakan faktor penciri yang membedakan satu dan tipe lain dari moda produksi dalam masyarakat.
Tipe-tipe moda produksi, antara lain :
1. Produksi subsisten, yaitu usaha pertanian tanaman pangan dimana hubungan produksi terbatas dalam keluarga inti dan hubungan antara pekerja bersifat egaliter.
2. Produksi komersialis, yaitu usaha pertanian ataupun luar pertanian yang sudah berorientasi pasar dimana hubungan produksi menunjuk pada gejala eksploitasi surplus melalui ikatan kekerabatan dan hubungan sosial antara pekerja yang umumnya masih kerabat bersifat egaliter namun kompetitif.
Produksi kapitalis, yaitu usaha padat modal berorientasi pasar dimana hubungan produksi mencakup struktur buruh-majikan atau tenaga kerja-pemilik modal.
Kapitalisme telah menyebabkan eksploitasi tenaga kerja besar-besaran. Upah yang diberikan oleh pemilik modal hanyalah upah semu saja, karena nilai lebih yang dihasilkan oleh barang industri tidaklah seimbang dengan “pengorbanan” yang dilakukan oleh buruh. Kapitalisme juga telah membelenggu krativitas buruh. Terlebih dengan adanya introduksi mesin-mesin industri menjadikan buruh semakin tersisih dan persaingan diantara buruh menjadi ketat. Akibat dari semua ini adalah ketidakberdayaan buruh dalam menolak upah rendah, yang ada adalah keterpaksaan bekerja dengan upah rendah daripada harus tidak menerima upah sama sekali.
Marx melihat pada moda produksi kapitalis bersifat labil dan pada akhirnya akan hilang. Hal ini disebabkan pola hubungan antara kaum kapitalis modal dan kaum buruh bercirikan pertentangan akibat eksploitasi besar-besaran oleh kaum kapitalis. Kaum buruh merupakan kaum proletar yang kesemuanya telah menjadi “korban” eksploitasi kaum borjuis. Marx meramalkan akan terjadi suatu keadaan dimana terjadi kesadaran kelas di kalangan kaum proletar. Kesadaran kelas ini membawa dampak pada adanya kemauan untuk melakukan perjuangan kelas untuk melepaskan diri dari eksploitasi, perjuangan ini dilakukan melalui revolusi.
Menurut Marx terdapat 3 tema menarik ketika kita hendak mempelajari perubahan sosial, yaitu :
1. Perubahan sosial menekankan pada kondisi materialis yang berpusat pada perubahan cara atau teknik produksi material sebagai sumber perubahan sosial budaya.
2. Perubahan sosial utama adalah kondisi material dan cara produksi dan hubungan sosial serta norma-norma kepemilikan.
3. Manusia menciptakan sejarah materialnya sendiri, selama ini mereka berjuang menghadapi lingkungan materialnya dan terlibat dalam hubungan-hubungan sosial yang terbatas dalam proses pembentukannya. Kemampuan manusia untuk membentuk sejarahnya sendiri dibatasi oleh keadaan lingkungan material dan sosial yang telah ada.
Dalam konsepsi Marx, perubahan sosial ada pada kondisi historis yang melekat pada perilaku manusia secara luas, tepatnya sejarah kehidupan material manusia. Pada hakikatnya perubahan sosial dapat diterangkan dari sejumlah hubungan sosial yang berasal dari pemilikan modal atau material. Dengan demikian, perubahan sosial hanya mungkin terjadi karena konflik kepentingan material atau hal yang bersifat material. Konflik sosial dan perubahan sosial menjadi satu pengertian yang setara karena perubahan sosial berasal dari adanya konflik kepentingan material tersebut.
Selain Marx, tokoh yang menyajikan pendapat tentang perspektif materialis adalah Ogburn. Ogburn menyoroti mengenai teknologi yang telah menyebabkan perubahan sosial di Amerika. Ogburn berpendapat bahwa budaya material berubah lebih cepat dibandingkan dengan budaya non material yang dapat menyebabkan terjadinya cultural lag.
Teknologi dapat menyebabkan perubahan sosial melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Teknologi baru mampu meningkatkan berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam masyarakat. Suatu hal yang tidak mungkin dilakukan pada masa lalu akan menjadi mungkin dengan bantuan teknologi.
2. Teknologi baru merubah pola interaksi dalam masyarakat.
3. Teknologi baru menyebabkan terjadinya berbagai permasalahan hidup baru bagi masyarakat.
Perspektif Idealis
Berbeda dengan kubu materialis yang memandang bahwa faktor budaya material yang menyebabkan perubahan sosial, perspektif idealis melihat bahwa perubahan sosial disebabkan oleh faktor non material. Faktor non material ini antara lain ide, nilai dan ideologi. Ide merujuk pada pengetahuan dan kepercayaan, nilai merupakan anggapan terhadap sesuatu yang pantas atau tidak pantas, sedangkan ideologi berarti serangkaian kepercayaan dan nilai yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi bentuk tindakan masyarakat.
Salah satu pemikir dalam kubu idealis adalah Weber. Weber memiliki pendapat yang berbeda dengan Marx. Perkembangan industrial kapitalis tidak dapat dipahami hanya dengan membahas faktor penyebab yang bersifat material dan teknik. Namun demikian Weber juga tidak menyangkal pengaruh kedua faktor tersebut. Pemikiran Weber yang dapat berpengaruh pada teori perubahan sosial adalah dari bentuk rasionalisme yang dimiliki. Dalam kehidupan masyarakat barat model rasionalisme akan mewarnai semua aspek kehidupan. Menurut Webar, rasionalitas memiliki empat macam model, yaitu :
1. Rasionalitas tradisional.
2. Rasionalitas yang berorientasi nilai.
3. Rasionalitas afektif.
4. Rasionalitas instrumental.
Weber melihat bahwa pada wilayah Eropa yang mempunyai perkembangan industrial kapital pesat adalah wilayah yang mempunyai penganut protestan. Bagi Weber, ini bukan suatu kebetulan semata. Nilai-nilai protestan menghasilkan etik budaya yang menunjang perkembangan industrial kapitalis. Protestan Calvinis merupakan dasar pemikiran etika protestan yang menganjurkan manusia untuk bekerja keras, hidup hemat dan menabung. Pada kondisi material yang hampir sama, industrial kapital ternyata tidak berkembang di wilayah dengan mayoritas Katholik, yang tentu saja tidak mempunyai etika protestan.
Tokoh lain adalah Lewy yang memperjelas pendapat Weber tentang peranan agama dalam perubahan sosial. Lewy mengambil contoh sejarah yang menggambarkan bahwa nilai-nilai agama mempengaruhi arah perubahan. Dia menyebutkan adanya pemberontakan Puritan di Inggris, kebangkitan kembali Islam di Sudan, pemberontakan taiping dan boxer di China. Seperti halnya Weber, Lewy tidak menyangkal bahwa kondisi material mempengaruhi perubahan sosial. Namun demikian kita tidak dapat hanya memahami perubahan sosial yang terjadi hanya dari faktor material saja.
Ideologi mampu menyebabkan perubahan paling tidak melalui tiga cara yang berbeda, yaitu :
1. Ideologi dapat melegitimasi keinginan untuk melakukan perubahan.
2. Ideologi mampu menjadi dasar solidaritas sosial yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan.
3. Ideologi dapat menyebabkan perubahan melalui menyoroti perbedaan dan permasalahan yang ada pada masyarakat.
Konsep perubahan sosial dapat muncul dari dua kubu yang berbeda, yaitu kubu materialis yang dipelopori oleh Marx dan kubu idealis yang dipelopori oleh Weber. Pemikiran Weber pada awalnya setuju dengan ide dasar pemikiran Marx, namun dia tidak sependapat untuk menempatkan manusia sebagai robot. Pada masyarakat modern, Marx dan Weber memiliki kesamaan pandangan, bahwa masyarakat modern telah diikat dengan spirit kapitalisme.
Mobilisasi dan Kontrol; Materialis vs Idealis
Studi yang dilakukan oleh Kurasawa ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial, ekonomi dan psikologis yang muncul atau berkembang selama masa pendudukan Jepang di masyarakat pedesaan Jawa. Kebijakan-kebijakan Jepang di Jawa dapat dicirikan oleh perpaduan antara mobilisasi dan kontrol. Mobilisasi berarti memanggil rakyat untuk berpartisipasi dalam pengabdian militer, pekerjaan umum, kegiatan politik atau seremonial lainnya.
Kebijakan mobilisasi ini juga dipadukan dengan kebijakan kontrol yang ketat oleh pemerintah. Seluruh kegiatan ekonomi secara ketat dikontrol oleh pemerintah melalui berbagai bentuk peraturan. Tidak terdapat kebebasan dalam kegiatan politik, ideologi dan seni. Rakyat diharapkan mempunyai pikiran yang seragam dan melakukan konformitas dalam tingkah laku mereka.
Kebijakan Jepang membantu melahirkan berbagai perubahan dan fenomena baru di masyarakat. Perubahan sosial semacam ini paling mencolok di kawasan pedesaan. Masyarakat desa merupakan sumber dari barang-barang yang dibutuhkan Jepang untuk menjalankan kebijakan militernya. Keberhasilan pemerintah Jepang ditentukan oleh keberhasilan menarik bantuan dari masyarakat pedesaan. Oleh karenanya, Jepang melakukan berbagai proyek atau kegiatan baru di desa sehingga campur tangan dengan masalah administrasi dan adat masyarakat desa.
Di bidang pertanian, Jepang yang membutuhkan bahan pangan untuk pasukan militernya, harus berupaya mendapatkan bahan pangan dari masyarakat pedesaan. Bahan pangan utama yang dibutuhkan adalah padi, sehingga upaya peningkatan produksi dilakukan oleh Jepang. Pengenalan varietas padi baru yang dihasilkan oleh ilmuan Jepang dilakukan pada masyarakat pedesaan. Untuk memperluas sawah, hutan-hutan dibuka, pembangunan jaringan irigasi dan tanah-tanah perkebunan diubah menjadi sawah. Namun demikian, kebijakan peningkatan produksi ini mengalami kegagalan.
Kebijakan-kebijakan pendudukan Jepang di Jawa bertanggung jawab atas timbulnya bermacam-macam perubahan sosial di dalam masyarakat pedesaan. Kontrol yang kuat dipergunakan terhadap usaha-usaha dan kegiatan ekonomi petani di pedesaan menyebabkan perubahan struktur pertanian dan ekonomi di Jawa. Selain itu juga diperkenalkan kontrol terhadap pemerintahan desa dan menimbulkan perubahan dalam hubungan sosial dan sistem kepemimpinan desa. Propaganda dan pendidikan juga dilakukan oleh Jepang untuk dapat melakukan pengerahan massa sesuai dengan tujuan Jepang. Mobilitas sosial yang meningkat baik secara horisontal maupun vertikal menyebabkan timbulnya identitas “nasional”. Selain itu, Jepang juga harus bertanggung jawab atas menguaknya keterpisahan sosial antar lapisan dalam masyarakat pedesaan. Ringkasnya, Jepang telah membantu meningkatkan keragaman dan diversivikasi di masyarakat pedesaan. Cara berpikir dan bertingkah laku yang baru, pola-pola persekutuan dan persaingan menjadi berkembang di pedesaan Jawa. Masa penjajahan Jepang yang hanya 3,5 tahun ternyata tidak cukup bagi Jepang untuk mencapai sasaran-sasaran yang mereka kehendaki.
Jepang berusaha melakukan propaganda melalui pendidikan sehingga akan menghasilkan nilai budaya dan kepercayaan yang baru. Semangat kerja keras ala samurai juga coba diperkenalkan kepada masyarakat pedesaan. Dalam perspektif idealis memandang usaha yang dilakukan Jepang merupakan suatu proses yang akan menghasilkan perubahan pada masyarakat pedesaan. Penanaman ideologi yang dilakukan oleh Jepang dapat menyebabkan sebuah perubahan sosial yang mendasar di pedesaan. Tumbuhnya semangat untuk melakukan meraih kemerdekaan merupakan perubahan yang mendasar hingga akhirnya tercapai pada tahun 1945. Perubahan pada masa penjajahan Jepang tidak hanya dapat dipandang dari sudut idealisme saja. Perubahan struktur ekonomi yang terjadi di daerah pedesaan, mau tidak mau juga telah menyebabkan perubahan di dalam hubungan antar individu.
Daftar Rujukan
Harper, Charle L. 1989. Exploring Social Change. New Jersey: Prentice Hall.
Kurasawa, Aiko. 1982. Mobilisasi dan Kontrol; Strudi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945. Jakarta: Grasindo.
Salim, Agus. 2002. Perubahan Sosial; Sketsa dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia. Jogjakarta: Tiara Wacana.
Strasser, Hermann and Susan C. Rendall. 1981. An Introdustion to Theories of Social Change. London: Routledge & Kegan Paul.
Sumber dari learning-of.slametwidodo.com
Label: Sosiologi Pembangunan
TEORI PEMBANGUNAN DUNIA KETIGA
* Memiliki perbedaan dan persamaan dengan teori pembangunan bagi negara-negara adikuasa, karena persoalan yang dihadapinya berlainan.
* Bagi negara-negara dunia ketiga, persoalannya adalah bagaimana bertahan hidup atau bagaimana meletakkan dasar-dasar ekonominya supaya bis bersaing di pasar internasional
* Bagi negara-negara adikuasa persolannya adalah bagaimana melakukan ekspansi lebih lanjut bagi kehidupan ekonominya yang sudah mapan
1. Teori modernisasi. Menekankan faktor manusia dan nilai-nilai budanya sebagai pokok persoalan dalam pembangunan. Teori modernisasi merupakan kelompok teori yang dominan dalam mengkaji masalah pembangunan di
2. Teori ketergantungan. Teori ini merupakan reaksi terhadap teori modernisasi. Teori ini mula-mula tumbuh di kalangan para ahli ilmu sosial di Amreika Latin kemudian meluas sampai ke Amerika Serikat dan Eropa dan
3. Teori yang merupakan reaksi terhadap teori ketergantungan. Teori ini sering disebut sebagai teori pasca ketergantungan. Di dalamnya ada teori sistem dunia, teori artikulasi dsb.
BAGAIMANA MENGUKUR PEMBANGUNAN?
1. Kekayaan rata-rata
2. Pemerataan
3. Kualitas kehidupan
4. Kerusakan lingkungan
5. Keadilan Sosial dan kesinambungan
1. Kekayaan rata-rata
* Pembangunan dimaknai dalam arti pertumbuhan ekonomi. Sebuah masyarakat dinilai berhasil melaksanakan pembangunan bila pertumbuhan ekonomi masyarakat tersebut cukup tinggi.
* Jadi yang diukur adalah produktivitas masyarakat atau negara tersebut tiap tahunnya.
* Dalam bahasa teknis ekonominya GNP (Gross National Product ) dan PDB atau GDP (Product Domestik Bruto atau Gross Domestic Product)
* Pembangunan di sini diartikan sebgai jumlah kekayaan keseluruhan sebuah bangsa atau negara
2. Pemerataan
Bangsa atau negara yang berhasil melakukan pembangunan adalah mereka yang di samping tinggi produktivitasnya, penduduknnya juga makmur dan sejahtera secara relatif merata. Tidak semua negara yang berhasil meningkatkan PNB/kapitanya berhasil juga dalam meratakan hasil-hasil pembangunannya. Demikian juga tidak semua negara yang masih rendah PNB/kapitanya menunjukkan ketimpangan yang tinggi dalam hal pemerataan.
3. Kualitas kehidupan
Salah satu cara lain untuk mengukur kesejahteraan penduduk sebuah negara adalah dengan menggunakan tolok ukur PQLI (Physical Quality of Life Index ). Tolok ukur ini dipekrnalkan oleh Moris yang mengukur tiga indikator yaitu : 1) rata-rata harapan hidup setelah umur satu tahun ; 2) rata-rata jumlah kematian bayi ; 3) rata-rata prosentasi buta dan melek huruf.
4. Kerusakan Lingkungan
* Sebuah negara yang tinggi produktivitasnya dan merata pendapatan penduduknya, bisa saja berada dalam sebuah proses untuk menjadi miskin. Hal ini misalnya, pembangunan yang menghasilkan produktivitas yang tinggi itu tidak mempedulikan dampak terhadap lingkungannya. Lingkungannya semakin rusak.
* Kriteria keberhasilan pembangunan yaitu faktor kerusakan lingkunagan sebagai faktor yang menentukan.
5. Keadilan sosial dan kesinambungan
Pembangunan yang berhasil mempunyai unsur :
1. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
2. Berkesinambungan : tidak terjadi kerusakan sosial dan alam
Jadi, konsep pembangunan semakin kompleks, tidak hanya terbatas pada masalah pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga meliputi masalah sosial dan lingkungan.
PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA
Pembangunan mempunyai dua unsur utama :
1. Masalah materi yang mau dihasilkan dan dibagi
2. Masalah manusia yang menjadi pengambil inisiatif yang menjadi manusia pembangunan. Pembangunan tidak hanya berurusan dengan produksi dan distribusi barang-barang material tetpai pembangunan juga harus menciptakan kondisi-kondisi yang membuat manusia bisa mengembangkan kreatifitasnya.
PEMBANGUNAN : FAKTOR MANUSIANYA
Pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif. Untuk bisa kreatif, manusia tersebut harus merasa bahagia, merasa aman dan bebas dari rasa takut. Hanya manusia seperti inilah yang bisa menyelenggarakan pembangunan dan memecahkan masalah yang dijumpainya.
TEORI MODERNISASI : PEMBANGUNAN SEBAGAI MASALAH INTERNAL
* Teori pembangunan kerja secara Internasional yang didasarkan pada teori keuntungan komparatif yang dimiliki oleh setiap negara mengakibatkan terjadinya spesialsiasi produksi pada tiap-tipa negara sesuai dengan keuntungan komparatif yang dimilikinya.
* Secara umum, di dunia ini terdapat dua kelompok negara : 1) negara yang memproduksi hasil pertanian ; 2) negara yang memproduksi barang industri.
* Antara kedua keolmpok negara ini terjadi hubungan dagang dan keduanya menurut teori di atas saling diuntungkan.
TEORI MODERNISASI :PEMBANGUNANSEBAGAI MASALAH INTERNAL…
* Tetapi setelah beberapa puluhan tahun kemudian, tampak bahwa negara-negara industri menajdi semakin kaya sedangkan negara-negara pertanian semakin tertinggal.
* Mengapa terjadi dua kelompok negara : negara-negara miskin yang biasanya meruapakan negara pertanian dan negara-negara kaya yang biasanya adalah negara industri?
Teori Harrod – domar : tabungan dan Investasi
Marx Weber : Etika Protestan
* Weber mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.
* Weber membahas peran agama sebagai faktor yang menyebabkan munculnya kapitalisme di Eropa barat dan Amerika Serikat. Pembahasan ini ada dalam bukunya : The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
* Dalam bukunya Weber mencoba menjawab mengapa beberapa negara di Eropa dan Amerika Serikat mengalami kemajuan ekonomi yang pesat di bawah sistem kapitalisme. Setelah melakukan analisis, Weber menyimpulkan bahwa salah satu sebabnya adalah adanya Etika protestan.
Marx Weber : Etika Protestan….
Etika protestan lahir di Eropa melalui agama Protestan yang dikembangkan oleh Calvin. Di sini muncul ajaran bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya. Oleh karen itu, mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas karena tidakjelasan nasibnya ini.
Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau neraka adalah keberhasilan kerjanya di dunia yang sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalam kerjanya di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan ditakdirkan untuk naik ke surga setelah dia mati nanti. Kalau kerjanya selalu gagal di dunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan pergi ke neraka
Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut agama Protestan Calvin bekerja keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih, artinya mereka bekerja bukan untuk mencari kekayaan material melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang disebut sebagai etika Protestan oleh Weber, yakni cara bekerja yang keras dan sungguh-sungguh lepas dari imbalan materialnya.
David Mc Clelland : Need for Achievment
* Adanya N- Ach yang tinggi dalam sebuah masyarakat akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat
* N-Ach ini semacam virus yang bisa ditularkan. Jadi, N-Ach ini bukanlah sesuatu yang diawriskan sejak lahir.
* David Mc Clelland menyelenggarakan bermacam latihan manajemen di pelbagai negara untuk menumbuhkan N- Ach ini.
* Tempat yang paling baik untuk memupuk N –Ach adalah di dalam keluarga melalui orang tua. Pendidikan anak menjadi sangat penting, cerita anak-anak yang beredar harus diarahkan pada nilai N –Ach yang tinggi.
W.W. Rostow:
1. Dalam bukunya “The Stage of Economic Growth “, A Non Communist Manifesto, Rostow menguraikan teorinya tentang proses pembangunan dalam sebuah masyarakat.
2. Bagi Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus, yakni dari masyarakat yang terbelakang ke masyarakat maju.
W.W. Rostow:
Rostow membagi proses pembangunan menajdi
1. Masyarakat tradisional
2. Pra kondisi untuk lepas landas
3. Lepas landas
4. Bergerak ke kedewasaan
5. Jaman Konsumsi masal yang tinggi
Teori Rostow ini didasarkan pada dikotomi masyarakat tradisonal dan masyarakat modern. Titik terpenting dalam gerak kemajuan dari masyarakat yang satu ke lainnya adalah periode lepas landas.
Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi
* Faktor non ekonomi di sini adalah faktor kondisi lingkungan yang dianggap penting dalam proses pembangunan
* Hoselitz menekankan bahwa meskipun seringkali orang menunjukkan bahwa masalah utama pembangunan adalah keurangan modal (teori Harrod – Domar ), ada masalah lain yang juga sangat penting yakni adanya ketrampilan kerja tertentu, termasuk tenaga wiraswasta yang tangguh. Karena itu dibutuhkan perubahan kelembagaan pada masa sebelum lepas landas, yang akan mempengaruhi pemasokan modal, supaya mdoal ini bisa menajdi produktif.
Bert F. Hoselitz : Faktor-faktor Non ekonomi….
Perubahan kelembagaan ini akan menghasilkan tenaga wiraswasta dan administrasi serta ketrampilan teknis dan keilmuan yang dibutuhkan. Menurut Hoselitz, pembangunan membutuhkan pmasokan dari beberapa unsur, seperti :
1. Pemasokan modal besar dan perbankan
2. PEmasokan tenaga ahli dan terampil
Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern
* Membicarakan tentang pentingnya faktor manusia sebagai komponen penting penopang pembangunan.
* Pembangunan bukan sekedar perkara pemasokan modal dan teknologi saja, tetapi dibutuhkan manusia yang dapat mengembangkan sarana material tersebut supaya menjadi produktif. Untuk ini dibutuhkan manusia modern.
Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern….
Manusia modern yang dimaksud adalah antara lain memiliki :
1. Keterbukaan terhadap pengalaman dan ide baru
2. Berorientasi ke masa sekarang dan masa depan
3. Punya kesanggupan merencanakan
4. Percaya bahwa manusia bisa mengausai alam dan bukan sebaliknya
Alex Inkeles dan David H . Smith : Manusia Modern….
Untuk mengubah manusia agar bisa menjadi manusia modern bisa melalui :
1. Pendidikan
2. Pengalaman kerja di lembaga kerja modern
3. Pengenalan terhadap media
ALIRAN TEORI MODERNISASI
1. Teori yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal untuk investasi (harood – Domar)
2. Teori yang menekankan aspek-aspek psikologi individu ( David Mc Clelland)
3. Teori yang menekankan nilai-nilai budaya (Weber)
4. Teori yang menekankan adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan sebelum lepas landas dimulai (Hoselitz)
5. Teori yang menekankan lingkungan material (Inkeles dan Smith)
CIRI UMUM TEORI MODERNISASI
* Didasarkan pada dikotomi antara tradisional (belum maju) dan modern (maju)
* Didasarkan pada faktor-faktor non material sebagai penyebab kemiskinan
* Bersifat historis. Hukum-hukumnya sering dianggap berlaku secara universal
* Faktor-faktor yang mendorong atau menghambat pembangunan harus dicari di dalam negara-negara yang bersangkutan, bukan di dalamnya.
Sumber dari your-black.blogspot.com
Label: Sosiologi Pembangunan
1. Tingkat Pertumbuhan Penduduk Tinggi
Tingkat pertambahan penduduk di negara berkembang umumnya lebih tinggi dua hingga empat kali lipat dari negara maju. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan dan budaya di negara berkembang yang berbeda dengan di negara maju. Hal tersebut dapat mengakibatkan banyak masalah di masa depan yang berkaitan dengan makanan, rumah, pekerjaan, pendidikan, dan lain sebagainya.
2. Tingkat Pengangguran Tinggi
Akibat dari tingginya pertumbuhan penduduk mengakibatkan persaingan untuk mendapatkan pekerjaan menjadi tinggi. Jumlah tenaga kerja lebih banyak daripada kesempatan lapangan kerja yang tersedia dan tungkat pertumbuhan keduanya yang tidak seimbang dari waktu ke waktu.
3. Tingkat Produktivitas Rendah
Jumlah faktor produksi yang terbatas yang tidak diimbangi dengan jumlah angkatan kerja mengakibatkan lemahnya daya beli sehingga sektor usaha mengalami kesulitan untuk meningkatkan produksinya.
4. Kualitas Hidup Rendah
Akibat rendahnya tingkat penghasilan, masyarakat mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, dll. Banyak yang kekurangan gizi, tidak bisa baca tulis, rentan terkena penyakit, dan lain sebagainya.
5. Ketergantungan Pada Sektor Pertanian / Primer
Umumnya masyakat adalah bermata pencaharian petani dengan ketergantungan yang tinggi akan hasil sektor pertanian.
6. Pasar & Informasi Tidak Sempurna
Kondisi perekonomian negara berkembang kurang berkompetisi sehingga masih dikuasai oleh usaha monopoli, oligopoli, monopsoni dan oligopsoni. Informasi di pasar hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja
7. Tingkat Ketergantungan Pada Angkatan Kerja Tinggi
Perbandingan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori angkatan kerja dengan penduduk non angkatan kerja di negara sedang berkembang nilainya berbeda dengan dengan di negara maju. Dengan demikian di negara maju penduduk yang berada dalam usia nonproduktif lebih banyak bergantung pada yang masuk angkatan kerja.
8. Ketergantungan Tinggi Pada Perekonomian Eksternal Yang Rentan
Negara berkembang umumnya memiliki ketergantungan tinggi pada perekonomian luar negeri yang bersifat rentan akibat hanya mengandalkan ekspor komoditas primer yang tidak menentu.
Sumber diambil dari organisasi.org
Label: Sosiologi Pembangunan
Pendahuluan
1. Makna, Ruang Lingkup dan Dinamika Pembangunan.
Secara ilmu, pembangunan ekonomi, politik dapat diklasifikasi secara sosiologis ke dalam tiga kategori. Pertama, masyarakat yang masih bersifat tradisional; kedua adalah masyarakat yang bersifat peralihan; dan ke tiga adalah masyarakat maju. Ke tiga kategori tersebut saling berkaitan, karena berada dalam satu negara. Semua negara di dunia masih mempunyai tiga kategori tersebut, meskipun dalam negara modern sekalipun. Hanya dalam negara maju lebih mempunyai kondisi sosial yang stabil, bila dibandingkan dengan kategori dari yang pertama dan ke dua.
Pembangunan akan membawa masyarakat kepada modernisasi, dalam pengertian mencapai kemandirian pribadi, melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam masyarakat. Pembangunan harus dimulai dari proses perubahan-perubahan sosial yang besar dan secara kontinu. Proses atau usaha perubahan sosial tersebut dapat berati suatu proses dan usaha pembangunan. Perubahan sosial dimulai dari proses kemandirian atau dimulai dari proses konsientisasi atau emansipasi diri. Proses ini harus dimulai dengan adanya “the school of change” atau “educational of change”. Peranan pendidikan dalam pembangunan atau proses perubahan sosial menuju proses pendewasaan merupakan bagian dari proses yang sangat penting.
Dalam pembangunan, manusia secara pribadi atau masyarakat yang harus mengambil keputusan. Melalui bantuan dari agen-agen pembangunan yang berada di dalam masyarakat, mereka memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan. Pembangunan tidak akan tercapai tanpa melibatkan secara langsung seseorang atau masyarakat yang harus mengalami perubahan. Dalam hal ini, kekuatan-kekuatan pembaharuan yang terdapat dalam masyarakat harus diperhitungkan secara matang. Dengan ikut sertanya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat, perubahan-perubahan sosial itu akan mempunyai kemampuan berkembang secara dinamis. Faktor-faktor dominan di dalam masyarakat harus diperhitungkan secara rinci dan bertanggung jawab. Kalau dilihat dan dievaluasi secara menyeluruh, yang berkaitan dengan proses pembangunan sosial atau politik, dapat disimpulkan karena kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat masih sangat lemah. Hal itu disebabkan oleh karena tingkatan pendidikan di masyarakat masih sangat rendah. Bahkan, staknasi dalam proses pembangunan telah mengakibatkan frustrasi, alienasasi, kegoncangan dalam identitas, kemerosotan jati diri dan timbulnya perilaku-perilaku aneh dalam masyarakat.
Kalau dilihat dari sebab dan akibat terhambatnya proses pembangunan, maka perlu dipikirkan cara-cara pengembangan kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat itu sendiri oleh setiap komponen yang bertanggung jawab dengan proses terjadinya pembangunan yang bersifat holistik. Para ahli berpendapat bahwa pembarauan dan pembangunan sangat tergantung dari sekelompok kecil unsur-unsur pembaharu. Peranan “change agent” dalam proses pembangunan menjadi sangat penting.
Dalam negara-negara berkembang, pembangunan ekonomi melalui usaha pertumbuhan ekonomi harus diutamakan. Ekonomi merupakan pusat jantung kehidupan masyarakat. Pembangunan ekonomi merupakan pusat kegiatan masyarakat yang sedang berkembang. Kestabilan ekonomi akan disusul dengan kestabilan sosial dan kestabilan politik. Sebaliknya, ketidak adilan ekonomi adalah penyebab kesenjangan sosial dan ketidakstabilan dalam bidang politik. Krisis ekonomi menyebabkan kerusuhan-kerusuhan sosial, yang telah mengarah kepeda disintegrasi dalam masyarakat. Ketidakadilan ekonomi, tidak mencerminkan kemajuan dan kualitas hidup suatu masyarakat. Ketidakadilan ekonomi juga menyebabkan ketertinggalan masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang lebih tinggi. Dari nalisa ini diperlukan pendekatan terpadu, pembangunan eknomi, sosial, politik dan pendidikan. Untuk proses perubahan-perubahan tersebut diperlukan perubahan yang terencana. Perencanaan dipakai sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan perubahan masyarakat tersebut secara lebih baik dan teratur. Perencanaan erubahan harus melibatkan pemerintah, LSM dan masyarakat. Seharusnya yang mengambil keputusan untuk terjadinya perubahan adalah masyarakat sendiri. Pemerintah dan LSM-LSM hanya membantu masyarakat untuk mengambil keputusan. Baik Pemerintah maupun LSM tidak diperbolehkan mengambil alih masyarakat untuk mengambil keputusan. Pemerintah dan LSM hanya berfungsi sebagai alat bantu agar masyarakat dimampukan untuk mengambil keputusan. Keputusan terakhir dalam suatu perencanaan adalah masyarakat sendiri. Untuk ini kelompok-kelompok kecil pembaharu yang sudah terlatih menjadi agen pembaharuan dan pembangunan.
Pembangunan ekonomi juga harus memperhatikan mekanisme pasar dan harga. Untuk hal ini diperlukan sistem perencanaan terpadu, karena pembangunan harus melibatkan semua komponen dan elemen yang ada dalam masyarakat. Pembanguan secara berencana akan bersifat lebih rasional dan teratur bagi pembangunan masyarakat yang sedang berkembang. Dalam hal ini peranan riset sangat penting. Melalui riset akan menolong memahami kemampuan dan kebutuhan masyarakat secara rasional. Berdasarkan riset tersebut, dibuat perencanaan terpadu, melibatkan semua komponen dan elemen yang ada di dalam masyarakat, melibatkan pemerintah dan LSM-LSM untuk melaksanakan pembangunan dan kemudian diadakan evaluasi secara berkala.
2. Hambatan-hambatan Dalam Pembangunan.
Masyarakat yang terbelakang masih sangat tradisional sekali. Mereka masih terikat dengan nilai-nilai asli dan juga masih memiliki kerinduan untuk memelihara nilai-nilai tersebut. Biasanya selalu dikaitkan dengan kebudayaan atau adat istiadat lokal. Dalam masyarakat yang tradsional tidak memberikan peluang cukup untuk terjadinya perubahan-perubahan serta tumbuhnya kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat. Yang menyebabkan hal tersebut sangat kompleks sekali, seperti: kolonialisme dan feodalisme. Kondisi keterbelakangan juga dapat dilihat dari bidang ekonomi dan pendidikan. Penyebab utama untuk hal ini adalah adanya keterbatasan yang amat parah dalam pendapatan, modal dan ketrampilan. Hal tersebut juga menyebabkan kemiskinan masyarakat yang berkepanjangan. Di Indonesia, hal itu disebabkan karena penyebaran penduduk yang tidak merata dan tingkat urbanisasi yang sangat tinggi. Tingkat pendapatan buruh tani di pedesaan yang sangat rendah dan upah buruh di masyarakat industri yang belum mencapai UMR. Gulungtikarnya perusahaan-perusahaan besar telah menyebabkan angka pengangguran yang sangat tinggi. Ditambah lagi dengan oportunisme di kalangan elit politik, telah menyebabkan ketidak stabilan di bidang politik. Hal-hal ini telah menyebabkan terpuruknya ekonomi rakyat dan mempercepat pemerataan kemiskinan masyarakat Indonesia. Untuk perubahan sosial-ekonomi dibutuhkan aparatur negara yang bersih dan pendidikan masyarakat yang memadai.
3. Proses dan Perspektif Pembangunan Bangsa.
Untuk menanggulangi kondisi-kondisi keterbelakangan tersebut, khususnya di bidang ekonomi, pembaruan dan pembangunan berencana dirasakan sebagai alternatif yang rasional. Konsep pembangunan yang terus menerus akan memberi inspirasi kepada masyarakat untuk mencari solusi secara aktif dan dinamis bagaimana mengatasi keterbelakangan dan ketertinggalan. Proses pembanguan harus bertumpu kepada pembaharuan ekonomi rakyat melaui peningkatan pendidikan masyarakat. Peningkatan dan arah perkembangan di bidang pendidikan misalnya akan sangat mempengaruhi tingkat produktivitas masyarakat dalam berekonomi. Mengatasi ketertinggalan juga melalui program pengembangan masyarakat. Masyarakatlah yang dididik agar dapat meneyelesaikan masalahnya sendiri. Untuk hal ini, hal-hal yang sangat peka dalam masyarakat perlu dikaji dan diatasi, agar tidak menjadi penghambat bagi pembangunan ekonomi kerakyatan. Sistem kolonialisme dan feodalisme harus dikikis habis dan digantikan dengan sistem baru yang menekankan kepada program pengembangan masyarakat. Tujuan usaha dalam bidang sosial-ekonomi adalah usaha mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikap dalam masyarakat yang lebih kondusif bagai pembaharuan, pembangunan, dan pembinaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Pendidikan yang memadai akan memberikan motivasi kegairahan usaha yang bersifat produktif. Bila ekonomi masyarakat menjadi baik maka akan memberikan kemungkinan terjadinya kestabilan politik. Untuk hal ini, kekuatan-kekuatan pembaharuan dalam masyarakat harus dihimpun, dibina, dikembangkan dan dimanfaatkan secara maksimal agar mencapai pembangunan ekonomi masyarakat. Para motivator harus tetap berusaha mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis dalam kehidupan masyarakat. Hal strategis yang tidak boleh dilupakan adalah pembinaan ketrampilan dan kewirausahaan. Salah satu unsur penting dalam perspektif pembangunan ekonomi yang lebih terasa pada akhir-akhir ini adalah orientasi keadailan sosialnya.
PERKEMBANGAN PEMIKIRAN
Tentang Teori Pembangunan Nasional
Pembangunan masyarakat sebagai suatu proses dinamis menuju keadaan sosial ekonomi yang lebih baik, atau yang lebih modern. Untuk mencapai diperlukan perpaduan ilmu, seperti: ekonomi, sosilogi, teologi dan antropologi. Dari pendekatan dan analisa kritis tentang perkembangan ekonomi, maka harus didekati dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dimaksud, seperti ekonomi pembangunan, sosiologi pembangunan, pembangunan politik, teknologi pembangunan, administrasi pembanguan dan sebagainya.
Sebagai suatu proses, pembangunan nasional adalah merupakan rangkaian perubahan majemuk dalam bidang politik, sosial dan ekonomi. Di Indonesia sendiri, kelihatannya pembangunan ekonomi sangat tergantung dengan kestabilan politik. Hubungan antara ekonomi dan politik sangat dekat dan sangat sulit dipisahkan, bahkan saling inter-dependen yang sangat kuat sekali. Kalau diperhatikan dengan seksama, maka etika pembangunan tidak dapat dipisahkan dari etika ekonomi dan etika politik. Untuk pembangunan ekonomi biasanya syarat-syarat sosial politik sudah terpenuhi terlebih dahulu. Ke duanya dapat dijalankan secara simultan, apabila suatu bangsa sudah mencapai tingkat kematangan tertentu dalam bidang sosial dan politik. Dua frase ini sangat penting proses suatu pembangunan, yaitu: “konsolidisasi politik” dan “rekonsiliasi ekonomi”. Yang dimaksudkan dengan “konsolidasi politik” adalah kebersamaan semua komponen politik, dengan menghargai perbedaan dan kesamaan mereka masing-masing, dan bersama-sama membangun negara Indonesia berdasarkan sistem demokrasi. Dalam hal ini tidak mengenal mayoritas dan minoritas dalam berpolitik. Tujuannya, adalah membangun kesejahteraan masyarakat, dengan tidak memandang SARA. Yang dibangun adalah nasionalisme Indonesia. Sedang “rekonsiliasi eknomi” bertujuan membangun ekonomi rakyat, di atas dasar keadilan ekonomi. Rekonsiliasi ini berdiri di atas kedailan hukum. Pemerintah, LSM-LSM dan Masyarakat Indonesia berusaha secara maksimal untuk menjunjung tinggi supremasi hukum. Kalau hal ini terjadi, maka fondasi pembangunan bangsa telah diletakkan pada tempatnya yang benar. Dengan sendirinya pembanguan bangsa(sociocultural development) akan terwujud di atas dasar pembangunan politik(political development) dan pembangunan ekonmi(economic development). Yang paling ideal adalah pembangunan politik dan ekonomi dijalankan secara simultan. Agar hal ini terjadi maka kedewasaan masyarakat dalam berpikir dan bertindak dimatangkan, melalui hidup yang saling berbagi.
1. Pendekatan Pembanguan Bangsa (Sociocultural Development)
Pengertian pembangunan bangsa agaknya telah mengalami suatu perkembangan penting, baik dalam pengertian maupun ruang lingkup. Dalam ruang lingkup tampak dua aspek permasalahan: (1) mengenai pembangunan politik dan (2) mengenai pembangunan sosial budaya. Masalah kebudayaan sangat penting untuk diperhatikan. Karena budaya telah mengalir dalam hidup masyarakat. Secara antropologis manusia telah dibelenggu oleh adat istiadatnya. Bahkan, kadang-kadang hal tersebut menjadi penghambat proses pembangunan. Sering terjadi konflik antara kebudayaan dan modernisasi. Hal lian yang perlu diperhatikan adalah agama. Agama dan kebudayaan sering kali telah lebur dalam kehidupan manusia. Sehingga sangat membedakan mana yang agama dan mana yang kebudayaan. Karena eratnya hubungan pemabnguan politik dan kebudayaan, maka berkembanglah aliran pemikiran dalam ilmu politik yang disebut sebagai Kebudayaan Politik.
(1) Pembangunan Politik(Political Development)
Kestabilan politik yang dinamis antara lain diukur dengan terciptanya suatu pemerintahan yang kuat, luasnya penyertaan masyarakat di dalam proses pembangunan, dan hasil yang dicapai oleh pemerintah atas dukungan dan partisipasi masyarkat.
(2) Pembangunan Sosial Budaya(Socio-cultural Development)
Sesungguhnya dalam mengusahakan pembangunan sosial budaya, agaknya terdapat suatu kesepakatan bahwa bidang pendidikan merupakan suatu titik strategis bagi penyelenggaraan pembangunan sosial itu. Walaupun modernisasi bukanlah suatu pengertian yang jelas namun suatu tema terdapat dalam setiap interpretasi tersebut: modernisasi hanya dapat dicapai dengan memperbarui dan meluaskan pendidikan. Sebab itu perbaikan sistem pendidikan yang akan melahirkan sikap dan pemikiran-pemikiran kreatif bagi kemajuan kebudayaan dan peradaban dapat dipandang sebgai langkah strategis awal dari pembangunan. Dengan demikian, tujuan pertumbuhan ekonomi memang hanya merupakan salah satu dimensi saja bagi perspektif pembangunan sosial budaya suatu bangsa.
2. Pendekatan Pembangunan Ekonomi (Economic Development)
Permikiran perkembangan teori pembangunan ekonomi adalah sebagai berikut:
Dasar aliran ini adalah individualisme. Setiap produsen dan konsumen meredeka bertindak, pembentukan harga didasarkan kepada hukum permintaan dan penawaran di pasar, menjadi dasar pengambilan keputusan. Harga yang terbentuk atas dasar mekanisme pasar tersebut, dengan sendirinya akan mempengaruhi “produksi, alokasi, pendapatan dan konsumsi”. Mekanisme pembentukan harga akan membawa segala hubungan ekonomi secara otomatis ke jurusan persesuaian kepada keadaan seimbang.
STUDI TENTANG PERUBAHAN
1. Mempelajari sejarah studi tentang perubahan
2. Mendiskusikan sifat tentang pendidikan perubahan
3. Mempresentasikan sebuah variasi struktur berpikir tentang perubahan.
4. Menjelaskan tiga prespektif rencana perubahan
5. Menghubungkan beberapa aspek tentang proses perubahan kepada bukti2 dari perubahan yang direncanakan.
- Perubahan-perubahan di dalam struktur dan organisasi dalam sekolah; contoh: perubahan jadual
- Dan formasi dari group pekerja yang baru;
- Materi tambahan atau yang baru; contoh: buku-buku atau lembaran kuliah;
- Guru-guru diminta menambah pengetahuan baru; contoh: bekerja melalui tehnik memberi informasi;
- Guru-guru mengadopsi sikap baru dalam cara mengajar; contoh: penggunaan cara-cara non-didaktik;
- Perubahan-perubahan dalam keyakinan-keyakinan atau nilai-nilai dalam kehidupan para guru;
Contoh:
+ Perubahan teknik-teknik mengajar;
+ Yang berkaitan dengan perubahan Metode Tujuan
+ Riset Mendapatkanpengetahuan yang lebih tinggi
+ Penemuan Membuat/menciptakan sesuatu yang baru
+ Desain Mesistimatikankomponen untuk sesuatu yang baru
+ Penyebaran Memberi informasi
+ Demonstrasi Membangun keyakinan(meyakinkan)
+ Percobaan Memberikan test
+ Pelantikan/pemasangan Mengoperasionalkan
+ Pelembagaan Menetapkankesatuan sistem dari beberapa komponen
+ Proses dari Perubahan dan Penemuan Bukti
1. Perubahan berlangsung secara terus menerus
2. Perubahan menyebabkan kegelisahan dan ketidakpastian
3. Dukungan teknik dan psikologi sangat diperlukan
4. Belajar ketrampilan yang baru merupakan suatu perkembangan dan kenaikan nilai-nilai sosial.
5. Hubungan antara organisasi pendidikan dan seseorang yang menjadi agen pembaharu akan dapat dirasakan setelah terbukti melalui proses perubahan. Setiap orang harus siap menjadi agen pembaharuan untuk dirinya sendiri.
6. Perubahan yang membawa keberhasilan selalu melalui dorongan dan dukungan
Hal-hal yang harus diperhatikan bagi agen pembaharu atau pembangunan.
1. Perubahan/pembaruan/pembangunan akan terjadi secara terus menerus. Perubahan yang effektif selalu membutuhkan waktu.
2. Mencakup multi perspektif. Berusaha menggabungkan bermacam-macam perspektif yang berbeda. Mancari nilai-nilai yang sama dan yang berbeda, untuk mencari pertimbangan yang objektif.
3. Menyadari tentang proses perubahan yang sedang terjadi. Mencari dan menemukan intisari dari perubahan yang sedang terjadi, dan bagaimana memberikan respon terhadapnya.
4. Perkirakan tentang arus balik/perlawanan balik. Konflik dan tidak sependapat adalah merupakan sesuatu yang wajar, dan hal itu tidak akan dapat dihindarkan. Konflik dan ketidaksesuaian adalah merupakan tanda dari perubahan yang terencana dan sukses. Konflik adalah sesuatu yang normal dan kita harus berani belajar melalui konflik. Konflik dan ketidaksesuaian adalah merupakan sarana pendewasaan diri. Maka secara filosofis dapat dikatakan bahwa konflik merupakan sarana emansipasi diri.
5. Dosen dan Perguruan Tinggi sebagai investasi dari perubahan dan pembaruan. Semua pembangunan/perubahan yang berhasil menuntut tanggapan pribadi. Seringkali seseorang yang mengalami perubahan selalu merasakan ancaman pribadi dan kebingungan. Namun akan merasakan indahnya perubahan setelah mengalami pahitnya proses perubahan. Yang diperlukan adalah menatalayani atau mengatur perubahan melalui sikap yang objektif. Karena hidup ini selalu identik dengan perubahan. Perubahan merupakan bagian dari hidup, perlu diterima dengan syukur.
Sumber diambil dari sttcipanas.ac.id
Label: Sosiologi Pembangunan

